Sains vs Agama (2)

lanjutan dari Sains vs Agama (1)

Sains juga sudah menyombongkan dirinya dengan menyatakan kemampuannya untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa ada sekarang, yaitu dengan teori evolusi. Tetapi kita harus mengigat bahwa ini hanyalah teori, yaitu teori evolusi, dan bukanlah hukum. Teori berarti belum dibuktikan atau belum memiliki bukti kokoh, sedangkan hukum berarti sudah memiliki kepastian. Perpindahan dari evolusi sebagai pengetahuan menuju evolusi sendiri adalah lompatan iman. Biarpun evolusi itu benar atau tidak, sebenarnya evolusi tidak berkata apapun tentang pencipta. Misalkan suatu hari evolusi mendapatkan bukti kokoh yang tidak terbantahkan, maka kita juga harus bertanya siapakah yang menciptakan mekanisme evolusi ini. Bukankah sangat mungkin bahwa Tuhan menciptakan mekanisme evolusi untuk memunculkan manusia? Kalau kita lihat sebuah jam di padang gurun, dan menemukan bahwa jam ini dihasilkan dari sebuah pabrik yang dioperasikan oleh robot, bukankah kita juga harus berpikir siapakah yang menciptakan robot-robot tersebut? Apapun conclusi dari evolusi, akan tetap menunjuk pada prima causa. Walaupun begitu, teori evolusi masih sangat kekurangan bukti. Dr. Collin Patterson, pengarang buku Evolution dan seorang makroevolusionis, suatu hari bertanya pada staff geologi di Field Museum of Natural History: “Apakah kamu bisa memberitahu saya satu hal saja yang benar dari evolusi?” Jawabannya adalah keheningan. Ketika dia melontarkan pertanyaan yang sama kepada anggota dari Evolution Morphology Seminar di Universitas Chicago (badan prestisius evolusionis), seseorang menjawab: “Aku tahu satu hal – yaitu evolusi tidak seharusnya diajarkan di sekolah-sekolah.”

Bahkan lebih lagi, selama di sekolah kita telah diajarkan tentant evolusi yang salah. Sains telah mengakui bahwa eksperimen Miller, pohon kehidupan Darwin, embrio Haekel, mata rantai Archaeopteryx, dan bahkan mungkin lebih lagi, adalah sebagiannya hasil kebohongan yang diubah dan dibuat-buat. Bahkan mungkin kita pernah mendengar istilah “dosa Haeckel” untuk menunjukkan kebohongannya dalam teori evolusi. Analisis dari penemuannya dibuat-buat sehingga condong kepada naturalisme atau evolusi. Anak-anak sekolah yang polos telah dibohongi bahwa bukti dari evolusi begitu kokoh, sementara kebenarannya adalah sebaliknya. Hal ini menurut pendapatku adalah pride manusia bahwa mereka telah bisa menjelaskan segala sesuatu melalui sains. Sebagai ilmuwan, ada suatu kesenangan dan kebanggaan sendiri ketika melihat bahwa kita mempunyai penjelasan untuk suatu eksperimen yang kita buat, yaitu berhasil membuat open question menjadi open-ended question. Ini adalah tugas dari setiap ilmuwan, tetapi memaksakan teori yang sangat kekurangan bukti adalah naif.

Beberapa orang juga memegang bahwa sains adalah satu-satunya jalan untuk meraih kebenaran, yang disebut scientism. Implikasinya adalah menganggap remeh agama, filosofi, dan bahkan etika. Sangat jelas bahwa sains tidak dapat menyatakan bahwa pembunuhan adalah beretika atau tidak beretika, karena tidak ada eksperimen sains yang dapat memberitahu kita. Scientism adalah pandangan yang tidak koheren dan self-defeating. Klaim dari scientism sendiri bukanlah klaim sains, dan karena itu tidak dapat dibuktikan di lab, yang pada akhirnya mengontradiksi dirinya sendiri. Sains tidaklah cukup bagi manusia untuk mencari kebenaran. Kita juga memerlukan revelasi untuk mengetahui hal-hal yang manusia tidak akan pernah tahu dengan usahanya sendiri. John Lennox memberikan ilustrasi tentang hubungan antara sains dan revelasi. Sains cuma dapat menginvestigasi hal-hal yang natural, tetapi sains tidak akan pernah dapat menjawab pertanyaan dasar manusia, seperti mengapa manusia diciptakan, natur Allah, dsb. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini cuma dapat kita ketahui melalui revelasi Allah, yaitu bila sang pencipta merevelasikan tujuan dan kehendaknya kepada ciptaan. Kalau tidak ada Tuhan, maka tidak ada alam dan ciptaan, dan tidak ada apapun bagi sains untuk diteliti. Faktanya adalah sains juga membutuhkan iman, karena sains didasarkan atas logika dan tidak ada eksperimen sains yang dapat membuktikan logika. Akibatnya, agar sains masuk akal, sains harus memiliki iman di dalam rasio, dan rasio yang benar secara logika bergantung pada keberadaan dari Allah.  Scientism telah menempatkan dirinya di atas Tuhan, walaupun Tuhan sendiri adalah prasyarat bagi sains. Apa yang sains lakukan sama seerti memotong ranting dimana sains duduk, yaitu self-defeating.

Yang terakhir, selalu ada pertanyaan apakah mukjizat tidak mungkin secara sains. Kalau iya, maka reputasi dari Alkitab yang berisi begitu banyak mukjizat adalah keliru. Ketidakpercayaan sains terhadap Alkitab bermula dari masa Enlightenment di mana mukjizat dipercaya tidak dapat diterima oleh pandangan rasional dan modern dunia. Apakah sains memiliki hak untuk mengkritik mukjizat cuma karena mukjizat tidak mungkin secara sains? Tidak sama sekali. Alvin Plantinga menggambarkan suatu analogi: Kalau kita menjatuhkan kunci mobil, dan cuma mencari kunci tersebut di bawah lampu jalan, itulah sains. Kunci tersebut mungkin jatuh di daerah gelap yang tidak diterangi lampu, yang tidak dapat kita cari. Maka, bukankah irasional untuk mengklaim bahwa tidak ada kunci yang jatuh cuma karena kita mencarinya di daerah terang? Dalam kata-kata Francis S. Collins:

In my view, there is no conflict in being a rigorous scientist and a person who believes in a God who takes a personal interest in each one of us. Science’s domain is to explore nature. God’s domain is in the spiritual world, a realm not possible to explore with the tools and language of science.

Sains tidak dapat menjawab pertanyaan dasar seperti tujuan hidup, moral, dsb. Sekarang kita tahu domain, tempat main, dan batasan dari sains, dan kita dapat lanjut kepada mukjizat. Mukjizat didefinisikan oleh William Lane Craig sebagai suatu peristiwa dimana tidak dapat dihasilkan oleh sebab natural yang sedang beroperasi pada waktu dan tempat dimana peristiwa itu berlaku. Mukjizat bukanlah suatu pelanggaran dari hukum alam seperti didefinisikan David Hume. Mukjizat hanyalah intervensi oleh makhluk supernatural terhadap alam kita. Sebuah apel yang tidak jatuh ke tanah karena kita menangkapnya bukanlah mukjizat, tetapi intervensi. C. S. Lewis memberikan konklusi dengan indah:

But if God comes to work miracles, He comes ’like a thief in the night’… If Nature brings forth miracles then doubtless it is as ’natural’ for her to do so when impregnated by the masculine force beyond her as it is for a woman to bear children to a man. In calling them miracles we do not mean that they are to bear children to a man. In calling them miracles we do not mean that they are contradictions or outrages; we mean that, left to her own resources, she could never produce them.

Hukum alam tidak dilanggar ketika mukjizat terjadi, alam hanya menerima kekuatan intervensi yang diberikan kepadanya. Sekarang kita tahu bahwa sains tidak menyanggah mukjizat. Kita sekarang harus bertanya apakah tujuan dari mukjizat itu sendiri. Saya percaya bahwa Tuhan melakukan mukjizat untuk memberikan bukti bahwa dirinya adalah Tuhan. Logikanya: kalau dia adalah Tuhan pencipta alam semesta, maka dia dapat memerintah alam semesta. Fakta bahwa Yesus mampu untuk melakukan mukjizat mengimplikasikan bahwa dia adalah pencipta alam semesta.

Published in: on September 25, 2009 at 1:31 pm Comments (1)

Sains vs Agama (1)

Saat ini muncul ide dan pikiran bahwa sains telah menggulingkan kepercayaan terhadap Tuhan. Suatu saat aku sedang berada di toko buku Popular, mataku memantulkan bayangan tulisan GP (General Paper) exercise book, yang merupakan sebuah pelajaran wajib untuk A-Level di Singapura. Dalam salah satu topiknya, ada dibicarakan tentang konflik antara sains dan agama di abad ke-20. Buku ini, yang dibaca oleh hampir semua murid yang masuk ke Junior College Singapura, berharap bahwa agama akan mengalokasikan posisinya dalam masyarakat, yaitu untuk menerima sains sebagai kebenaran mutlak dan berhenti untuk menjauhkan atau mengucilkan sains. Tidak cukup dengan semua ini, kita dapat melihat bahwa hampir semua universitas dan lembaga pendidikan di seluruh dunia adalah sekuler (terpisah dari agama), dan bahkan hampir semua orang sekarang berpikir bahwa sains tidak sejalan dengan agama, dan bahkan lebih buruk: bertentangan.

Di dalam sejarahnya, agama melahirkan sains. C. S. Lewis menaruhnya begini, “Men became scientific because they expected law in nature and they expected law in nature because they believed in a lawgiver.” Kebanyakan ilmuwan dari abad ke-15 sampai abad ke-19 adalah orang yang percaya Tuhan (teis), dan kebanyakan dari mereka adalah orang Kristen. Kepercayaan mereka terhadap Tuhan, bukannya menghambat sains, bahkan mejadi inspirasi untuk melakukan hal-hal ilmiah. Konflik yang pernah terjadi antara Alkitab dan sains, seperti yang pernah dialami Copernicus, merupakan kesalahan interpretasi Alkitab dari pemimpin-pemimpin gereja pada waktu itu. Contohnya, bumi diinterpretasikan sebagai datar karena di Alkitab tertulis frase ‘di empat penjuru bumi’. Cepat atau lambat, kita akan menyadari bahwa sains mendukung dan membuktikan kebenaran dari revelasi Tuhan di Alkitab.

Pertama-tama, sains bermula dari Principle of Causality, yaitu di dalam suatu peristiwa ada sebabnya. Kalau tidak, semua kejadian ilmiah tidak dapat dipelajari karena tidak ada sebabnya. Semua ini kalau dikilas balik, menunjuk pada prima causa, yang merupakan argumen klasik untuk Tuhan. Fisika modern, seperti fisika kuantum, telah menemukan bahwa dalam dunia atom atau dunia mikroskopik, tidak ada sebab (cause). Interpretasi yang salah dari penemuan ini adalah self-defeating, yaitu kita mulai dari sebab dan menemukan bahwa tidak ada sebab. Hal ini seperti menggunakan pena untuk menulis sebuah essay, dan mengklaim dalam essaynya bahwa tidak ada pena. Klaim bahwa sains modern telah menggulingkan singgasana Tuhan adalah omong-kosong. Kita akan melihat dalam sains modern, lebih banyak penemuan yang menunjuk kepada Tuhan.

Seiring dengan perkembangannya, ilmuwan telah begitu melihat keajaiban alam, yang mengarahkan mereka kepada pencipta alam tersebut. Contohnya, semesta ini diciptakan dengan konstanta ilmiah begitu akuratnya. Sedikit saja perbedaan yang ada, semesta dan manusia tidak dapat hidup. Ini seharusnya menunjukkan ada desain yang begitu dahsyatnya, dan akhirnya menunjuk kepada designer dari alam semesta. Terlebih lagi, seorang fisikawan Jerman, Gerard L. Schroeder, telah menghitung waktu yang dibutuhkan dari Big Bang sampai sekarang. Hasilnya adalah ±16 milyar tahun yang lalu dengan menggunakan acuan waktu sekarang, tetapi yang lebih menarik lagi adalah bahwa waktunya juga sama dengan 7 hari dengan menggunakan acuan waktu awal (pada saat Big Bang). Bahkan detail dari kejadian di tiap harinya mirip dengan penjelasan ilmiah tentang evolusi alam semesta. Satu-satunya yang dapat menghitung waktu 7 hari itu tidak diragukan lagi adalah Allah yang berdiri di kekekalan, sebelum dan sesudah waktu dia ada, dan dia adalah pencipta dunia. Sekarang, kita cuma bisa melihat betapa ajaibnya penciptaan yang ditulis di Alkitab. Kita juga juga dapat menemukan bahwa bumi diklaim berbentuk bulat (Yesaya 40:22)

Hukum termodinamika juga mendukung pandangan religius. Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dihillangkan. Cara lain untuk  mengungkapkan hukum ini adalah ‘jumlah energy yang ada di semesta adalah konstan’. Hukum ini tidak mengatakan apapun tentang awal/sumber dari energi, tetapi digabungkan dengan teori Big Bang kita juga tahu bahwa pada awalnya ada ledakan sumber energi yang besar. Siapa yang menciptakan energi tersebut? Selain itu, hukum kedua termodinamika juga menyatakan bahwa alam semesta sedang menuju suatu ketidakteraturan, yang membuat para ilmuwan dari dahulu kala berpikir dari mana sumber dari keteraturan pada awalnya. Hal ini juga mengimplikasikan bahwa alam semesta tidaklah kekal, karena mengalami degradasi. Bahkan evolutionis juga harus mengakui bahwa mereka tidak dapat menjelaskan asal mula dari informasi yang terdapat di makhluk hidup. Tidak mungkin dengan pengetahuan sekarang (atau bahkan dengan pengetahuan yang akan datang) untuk mengerti tentang asal mula dari informasi yang mengarahkan evolusi (kalau evolusi benar).

Sains telah menemukan bahwa pada awalnya ada sumber energi, keteraturan, dan informasi yang pada akhirnya menimbulkan suatu pertanyaan siapakah yang menciptakan mereka. Teis mengatributkan hal ini pada Tuhan, sedangkan ateis mengatributkan kepada suatu kebetulan, atau mereka berusaha mengembangkan teori-teori aneh. Albert Einstein pernah menciptakan konstanta hipotetis untuk membuat bumi non-expanding, atau dengan kata lain untuk menghindari adanya permulaan alam semesta. Pada akhirnya, dia mengakui bahwa hal ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dia buat seumur hidupnya. Ilmuwan tidak seharusnya melarikan diri dari kebenaran fakta yang mereka temukan, cuma untuk membuatnya seperti yang mereka mau. Betapa tidak masuk akal. Apa yang mereka temukan adalah fakta, yang menunjuk kepada kebenaran, dan kebenaran tidak dapat dikompensasikan. Pada akhirnya, kebenaran akan berjaya.

Kita dapat melihat dari argumen-argumen ini, bahwa sains bermula dari kepercayaan pada Tuhan, dan sains menunjuk pada keberadaan Tuhan. Sains tidak mengkontradiksi Alkitab, tetapi sains membuktikan bahwa fakta-fakta ilmiah di Alkitab adalah benar adanya.


Published in: on September 19, 2009 at 3:32 pm Comments (1)

Arti Seni-Game-Cinta-Fashion

Ketika aku melihat keindahan alam
Aku menatap keindahan ciptaan tangan Allah
Aku sadar itu semua hanyalah keindahan temporal yang akan hancur oleh manusia
Tetapi ketika aku menatap bumi dan langit yang baru ciptaan Allah, itulah keindahan alam yang kekal

Ketika aku bermain game
Hatiku bersukacita dan dapat kulupakan kesedihanku
Aku sadar itu semua hanyalah sukacita temporal yang hilang setelah aku berhenti bermain
Tetapi ketika aku bermain bersama dengan Allah, hatiku kan bersukacita selamanya

Ketika aku melihat fashion design
Hatiku bergetar merasakan paduan kemegahan dan keelokan busana ciptaan manusia
Aku sadar itu semua hanyalah kemegahan dan keelokan temporal
Tetapi ketika aku melihat kemegahan dan keelokan jubah Allah, hatiku kan bergetar selamanya

Ketika aku belajar ilmu sains
Aku melihat kedashyatan Allah pencipta alam semesta ini
Aku sadar sains terbatas dan tak dapat mengungkapkan seluruh fenomena alam
Tetapi ketika aku bersama Allah, dia akan mengungkapkan rahasianya

Ketika aku merasakan cinta kasih manusia
Hatiku dilegakan oleh kehangatannya
Aku sadar cinta kasih manusia sangat terbatas dan temporal
Tetapi ketika aku merasakan cinta kasih Allah, hatiku kan hangat selamanya

Ketika aku melihat lukisan yang indah
Aku terpaku selama beberapa menit
Aku sadar itu semua hanyalah keindahan temporal
Tetapi ketika aku melihat keindahan wajah Allah, aku akan terpaku selamanya

Ya, perasaan-perasaan ini adalah suatu percikan dari sesuatu yang jauh lebih megah, yaitu perasaan ketika bersama Allah. Aku yakin dia memberikan sedikit dari kemegahannya agar kita mencari dan menginginkanNya. Percikan perasaan ini adalah turunan dari hubungan sebenarnya dengan Allah.

Roma 1:20 “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih”

Paul menyatakan bahwa bukti-bukti dari penciptaan telah cukup dan setiap dari kita tak mempunyai alasan untuk berdalih. Bertrand Russell salah ketika dia membuat pernyataan bahwa Tuhan tidak memberinya cukup bukti agar dia percaya.

Published in: on August 17, 2009 at 4:57 pm Leave a Comment

Diversitas Agama & Revelasi

Kecenderungan terhadap diversitas agama semakin terlihat di zaman ini (abad ke 21), dibandingkan dengan pada abad pertengahan dulu. Di dunia ini ada ratusan agama dan kepecayaan masyarakat. Kepercayaan yang menjadi mayoritas mungkin sekitar 5, termasuk Kristen. Akan tetapi di tengah begitu banyak agama sangatlah jelas bahwa agama yang menjadi mayoritas belum tentu adalah benar. Sejarah mencatat hal itu, bahwa terkadang kebenaran muncul mulai dari minoritas (contohnya: gerakan reformis gereja abad pertengahan mungkin cuma dimulai dari 2 orang, Zwingli dari Swiss dan Martin Luther dari Jerman).

Mengapa aku memilih Kristen di tengah ratusan kepercayaan lain? Apakah itu cuma karena pengaruh budaya, keluarga, masyarakat yang mendesak atau membesarkan aku di tengah budaya Kristiani? Kalau begitu maka imanku adalah fana. Mari kita mulai perjalanan mencari kebenaran di tengah begitu banyak agama/kepercayaan yang mengklaim kebenaran. Tentu saja cuma ada 1 yang benar, karena kalau agama A mengklaim dirinya benar maka secara otomatis ia mengklaim semua agama lain salah. Dan kalau agama B mengklaim dirinya benar maka secara otomatis ia mengklaim semua agama lain termasuk A salah. Tidak mungkin ada 2 agama yang benar, relativisme adalah omong kosong orang-orang yang buta secara filosofi.

Tuhan melengkapi kita dengan suatu senjata untuk membedakan yang benar dan salah, dan senjata itu adalah hukum logika (the law of identity, the law of secluded middle, the law of non-contradiction, and the law of rational inference). Tuhan menciptakan manusia yang logical, dan tentunya Tuhan itu sendiri haruslah logical. Tuhan tidak dapat menjadi illogical karena logic adalah unsur intrinsiknya. Lihatlah diagram di bawah ini:

diagram

Untuk argumen tentang natural dan supernatural, bacalah postingan sebelumnya: Supernatural.

Pertama-tama manusia berada di lingkaran natural plane. Di dalam natural plane, manusia hanya dapat berargumen menggunakan logikanya bahwa Tuhan itu ada, namun ia tidak dapat memiliki pengetahuan tentang Tuhan karena pengetahuan tentang Tuhan berada di dalam supernatural plane. Ciptaan tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang penciptanya. Maka dari itu, untuk dapat mengetahui tentang hal-hal supernatural atau tentang Tuhan, maka Tuhan harus merevelasikan pengetahuan tersebut kepada manusia. Kebenaran yang direvelasikan ini ditandai sebagai panah merah (seluruhnya merah).

Revelasi kebenaran ini mengungkapkan hal-hal yang sebelumnya manusia tidak tahu seperti konsep dosa, kebenaran, kejahatan, natur Tuhan, hubungan manusia dengan Tuhan, mengapa manusia ada seperti sekarang, dst. Ini adalah kebenaran sejati yang dibukakan oleh Tuhan. Akan tetapi selain panah merah, ada juga panah-panah lain yang mengaku sebagai kebenaran (panah hijau). Panah-panah hijau ini adalah kebenaran yang tidak sempurna dan hanyalah karangan manusia belaka. Mungkin ada beberapa panah yang mengandung kebenaran (campuran merah dan hijau), tetapi mereka bukanlah kebenaran absolut. Ini mungkin saja terjadi karena ada imitasi dari kebenaran sejati (panah merah) yang hanya menyesatkan manusia, seperti penciptaan agama untuk memperoleh kekuatan politik, dsb.

Panah merah adalah kebenaran absolut, seperti halnya 5+5=10. Panah campuran hijau dan merah adalah kepercayaan yang mungkin mendekati unsur kebenaran tapi tetap saja salah, seperti halnya 5+5=11. Kebenaran tidak dapat dikompensasikan. 1 titik saja yang salah di tengah lautan kebenaran tetaplah salah. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Di dunia yang mengklaim mendapatkan begitu banyak panah revelasi dari supernatural plane, bagaimana kita bisa membedakan mana yang benar? Disinilah hukum logika menjadi filter untuk tiap panah yang mengaku sebagai kebenaran absolut. Apabila suatu agama mengaku mendapatkan revelasi kebenaran yang absolut, maka setiap aspeknya harus masuk akal atau logika. Konsep predestinasi, kehendak bebas, pengampunan dosa, kasih, dll yang diklaim Kristen haruslah logical. 1 saja aspek kecil yang salah akan menghancurkannya. Kepercayaan-kepercayaan yang di dalam ajarannya mengandung kontradiksi tidaklah logical, dan bukanlah kebenaran absolut. Sebagai contoh, agama yang mengklaim bahwa Tuhan itu impersonal adalah illogical, karena properti personal diperlukan agar dia menciptakan dunia, juga dengan manusia yang personal.

John Lennox memberikan analogi yang elegan tentang peran revelasi. Tante Matilda membuat sebuah kue. Kita dapat menyelidiki struktur, komposisi, properti, dll dari kue tersebut. Tapi kita tidak dapat mengetahui kenapa tante Matilda membuat kue tersebut, sama seperti kita tidak dapat mengetahui mengapa dunia ini diciptakan. Kita cuma bisa tahu kalau tante Matilda merevelasikan kenapa dia membuat kue tersebut. Kemudian tante Matilda mengatakan dia membuat kue tersebut untuk ulang tahun anaknya. Kita tentu saja tidak dapat menerima pernyataan ini mentah-mentah. Kita menyelidiki apakah benar tante Matilda mempunyai anak dan apakah tanggal ulang tahunnya itu benar. Kalau ternyata dua fakta ini salah, tentu saja kita akan menolak revelasi palsu dari tante Matilda. Kalau dua fakta ini benar, maka revelasi tante Matilda dan pernyataannya dapat diterima. Inilah peran logika untuk menguji revelasi.

Dengan hal ini, kita diundang untuk mengevaluasi setiap ajaran agama yang kita anut. Dengan agama yang kita anut, kita menaruh setiap harapan kita. Iman kita akan agama yang kita anut lebih berharga daripada emas. Emas diuji kemurniannya dengan api. Sama halnya iman kita kalau benar murni, ketika berhasil menghadapi api logika, semakin meyakinkan kita tentang kemurnian dan kebenaran iman kita. Akan tetapi kalau iman tersebut terbakar habis menjadi abu, dan kita tetap menaruh harapan pada abu, bukankah itu sia-sia?

Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. (1 Petrus 1:7)

Dan aku menemukan Kristiani adalah revelasi kebenaran absolut yang benar-benar benar menurut logika yang telah Tuhan berikan.

Published in: on August 5, 2009 at 7:41 am Comments (2)

Pengetahuan tentang suatu pribadi

Aku melihat ada 2 buah pengetahuan tentang suatu pribadi:

  1. Pengetahuan luar, yaitu apakah yang diketahui mengenai fakta-fakta dari pribadi tersebut. Contohnya: tanggal lahir, hobi, tempat lahir, tempat pribadi itu sekolah, tinggi badan, berat, dll. Singkatnya: mempelajari biografi/fakta pribadi tersebut.
  2. Pengetahuan dalam, yaitu apakah yang diketahui mengenai perasaan, jiwa, dan pribadi itu sendiri. Pengetahuan dalam ini hanya dapat diraih dengan bertemu atau berkomunikasi dengan pribadi itu sendiri. Pengetahuan ini disalurkan dari hati ke hati, dan dapat berbeda untuk tiap orang yang memperolehnya.

Pengetahuan luar tidak merangsang keinginan untuk mencari tahu pengetahuan dalam.

Sebaliknya, pengetahuan dalam merangsang keinginan untuk mencari tahu pengetahuan luar.

Sebanyak apapun kita mempelajari pengetahuan luar, tidak dapat meraih pengetahuan dalam.

Contohnya:
Aku ingin mencari tahu tentang Albert Einstein. Yang bisa aku lakukan adalah membeli biografinya, buku-buku yang dia tulis, testimoni tentang dirinya, surat-suratnya, dll. Dengan ini aku memperoleh pengetahuan luar tentang Einstein. Akan tetapi tetap saja aku tidak tahu tentang hati, jiwa, perasaan Einstein yang tercakup dalam pengetahuan dalam.

Anggaplah suatu hari aku bertemu Einstein muka dengan muka (entah dengan cara apa). Kalau aku sudah memperoleh pengetahuan luar tentangnya, aku akan sangat senang karena bisa bertemu langsung dengan orangnya. Kalau aku belum membaca pengetahuan luar tentangnya, aku akan berkenalan dengannya dan sangat kagum dengan pribadinya yang ternyata begitu cerdas dalam dunia sains. Selain itu, aku juga menemukan bahwa dia begitu peduli dan kasih pada orang lain. Semua hal ini akan mendorongku untuk mencari tahu lagi tentang dia, yaitu baik pengetahuan dalam maupun luar.

Pengetahuan dalam lebih superior dari pengetahuan luar, karena pengetahuan dalam (yang benar) mencakup keduanya.

Hal ini adalah hasil observasi dari banyak orang yang mengaku mengenal akan suatu pribadi yang sama, tetapi sepertinya hanya pengetahuan luar saja. Dalam hal ini pribadi itu adalah Kristus, karena dia adalah suatu pribadi. Banyak yang membaca buku-buku tentang Kristus (baik teologi maupun filosofi), Alkitab, dll tetapi hanya memperoleh pengetahuan luar. Motivasi untuk memperoleh pengetahuan luar ini terutama adalah motivasi yang salah, yaitu untuk memperkaya pengetahuannya saja.

Jika seseorang mmpunyai pengetahuan dalam akan Kristus, akan terlihat dari perubahan hidupnya. Dia akan begitu mengidolakan Kristus karena dia adalah pribadi yang sempurna. Dia akan mencontoh hidup dari pribadi Kristus. Dan terlebih lagi, dia juga akan mencari pengetahuan luar tentang Kristus dengan motivasi yang benar, yaitu mencari informasi tentang idolanya.

Aku mengingat sebuah cerita tentang seorang yang mempunyai pengetahuan dalam tentang Kristus, yang kurang lebih seperti ini:

Suatu hari di gereja, ada 3 orang yang sedang berbincang-bincang. Orang pertama mengajak yang lainnya untuk bermain tebak-tebakan dalam Alkitab. Dia bertanya: “Siapa nama kedua belas murid Yesus?” Orang kedua langsung menjawab dengan lancar dan cepat. Dia bertanya lagi:”Di kota mana Yesus dilahirkan?” Orang kedua berpikir sebentar, kemudian menjawabnya. Sekali lagi, orang pertama bertanya:”Di mana Yesus dibaptis?” Orang kedua mengingat-ingat sebentar, lalu menjawab dengan tepat. Kemudian orang pertama dan kedua juga berdiskusi tentang hal-hal lain seperti predestinasi, penciptaan, nubuat, dll. Setelah usai, mereka heran kenapa orang ketiga diam saja seperti tidak tahu akan hal yang mereka diskusikan. Mereka berdua lalu bertanya pada orang ketiga: “Apakah yang kamu ketahui tentang Yesus?“. Orang ketiga menjawab: “Aku tidak tahu dimana Yesus dilahirkan, aku tidak tahu dimana dia dibaptis, aku juga tidak tahu tentang nubuat dan penciptaan yang dia tulis dalam Alkitab. Ya, setidaknya aku belum sempat membacanya. Aku baru bertobat sebulan yang lalu. Yang aku ketahui tentang Yesus hanyalah bahwa dia adalah suatu pribadi yang mengubah hidupku. Dahulu aku mabuk-mabukan, kejam pada istri dan anakku, tidak hormat pada orangtuaku, dan masih banyak lagi. Sekarang hidupku berubah, bahkan istri dan anakku juga menjadi percaya pada Kristus karena melihat perubahan hidupku. Orangtuaku juga mulai dirubahkan, dan aku sedang berusaha membawa mereka pada Kristus. Ya, aku mengalami Kristus dalam hidupku… dia luar biasa. Cuma ini yang kuketahui tentang Yesus

Janganlah “membaca” Alkitab, tetapi biarkanlah Alkitab membacamu.
Don’t “read” the Bible, but let the Bible reads you.

Ketika kita “membaca” Alkitab, kita menjadikan Alkitab sebagai objek. Tetapi ketika Alkitab membaca kita, kita adalah objek, yaitu kita yang diperbaharui, disadarkan, dikuatkan, diberkati, dan disempurnakan oleh Kristus, pribadi yang menulis Alkitab.

Published in: on May 26, 2009 at 4:32 pm Comments (1)

“Kekejaman” Tuhan di Perjanjian Lama

Kalau kita membaca Alkitab di Perjanjian Lama, seringkali kita melihat Tuhan yang membinasakan banyak orang. Sepertinya Tuhan di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru begitu berbeda. Contohnya seperti kejadian di kota Sodom dan Gomora:

Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; Kedua kota itu dihancurkan, juga seluruh lembah dan semua tumbuh-tumbuhan serta semua penduduk di situ. (Kejadian 19:24-25)

Bagaimana dengan orang Mesir yang dihukum oleh Tuhan dengan tulah-tulah yang begitu dashyat dan juga menenggelamkan pasukan mereka di Laut Merah?

Maka orang Mesir akan tahu bahwa Aku ini TUHAN, pada waktu Aku menghukum mereka dan membawa Israel keluar dari negeri mereka. (Keluaran 7:5)

Bagaimana dengan orang Amalek?

Akhirnya orang Amalek dikalahkan oleh Yosua. Kata TUHAN kepada Musa, “Tulislah tentang kemenangan ini supaya tetap diingat. Katakan kepada Yosua bahwa Aku akan membinasakan orang Amalek.” (Keluaran 17:13-14)

Bagiamana dengan pembunuhan internal orang-orang Israel sendiri seperti yang diperintahkan Musa?

Maka berdirilah ia di depan pintu gerbang perkemahan dan berteriak, “Siapa yang memihak kepada TUHAN harus datang ke mari!” Maka datanglah suku Lewi mengelilingi Musa, dan ia berkata kepada mereka, “TUHAN Allah Israel memerintahkan kamu masing-masing untuk mencabut pedangmu dan berjalan melalui perkemahan ini, dari gerbang ini sampai ke gerbang yang lain sambil membunuh saudara-saudara, sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggamu.” (Keluaran 32:26-27)

yang tidak lain disebabkan bangsa Israel yang membangun sapi emas selagi Musa sedang pergi:

Musa menyadari bahwa Harun telah membiarkan bangsa Israel seperti kuda lepas dari kandang, sehingga mereka menjadi bahan tertawaan bagi musuh-musuh mereka (Keluaran 32:25)

Bagaimana dengan Tuhan yang membabat habis seluruh rakyat Sihon?

Kemudian TUHAN berkata kepada saya, ‘Raja Sihon dan negerinya Kuserahkan kepadamu; ambillah dan dudukilah negeri itu.’ Maka datanglah Sihon dengan seluruh pasukannya untuk memerangi kita dekat kota Yahas. Tetapi TUHAN Allah kita menyerahkan dia kepada kita, lalu kita mengalahkan dia beserta anak-anaknya dan seluruh tentaranya. Pada waktu itu juga kita rebut dan hancurkan setiap kota, dan bunuh seluruh penduduknya, laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Tak ada yang dibiarkan hidup. Ternak mereka kita ambil dan kota-kotanya kita rampasi. (Ulangan 2:31-35)

akan tetapi ini disebabkan karena raja Sihon yang tidak mengizinkan bangsa Israel untuk melewati kota mereka, dan :

‘Izinkan kami melalui negeri Tuanku. Kami akan berjalan terus dan tidak menyimpang dari jalan raya. Kami akan membayar makanan yang kami makan dan air yang kami minum. Kami hanya perlu melalui negeri ini, (Ulangan 2:27-28)

Perintah Tuhan untuk membunuh?

Apabila TUHAN Allahmu menyerahkan bangsa-bangsa itu ke dalam kuasamu dan kamu mengalahkan mereka, bunuhlah mereka semua. Jangan mengasihani mereka atau membuat perjanjian dengan mereka. (Ulangan 7:2)

dan masih banyak lagi…

untuk kota Sodom dan Gomora, ketika kita melihat dalam pasal sebelumnya, kita tahu bahwa kedua kota ini benar-benar amoral, berdosa besar, dan hidup tidak benar di mata Tuhan. Tetapi kita tahu dari percakapan Abraham dengan Tuhan bahwa kalau saja ada 10 orang benar di kota tersebut maka Tuhan tidak akan membinasakan kota itu:

Abraham mendekati TUHAN dan bertanya, “Benarkah TUHAN hendak membinasakan orang yang tidak bersalah bersama-sama dengan orang yang bersalah? (Kejadian 18:23)

Akhirnya Abraham berkata, “Janganlah marah, Tuhan, saya hanya akan berbicara sekali lagi. Bagaimana jika hanya terdapat sepuluh orang saja?” TUHAN berkata, “Jika ada sepuluh orang yang tidak bersalah, Aku tidak akan membinasakan kota itu.” (Kejadian 18:32)

Ketahuilah bahwa kota-kota yang dibinasakan oleh Tuhan adalah karena seluruh (arti: semua tanpa kecuali satu pun) orang di kota tersebut bersalah. Tidak ada satupun orang yang bisa berdiri sebagai orang benar yang mewakili kota mereka. Hal ini lebih jelas ketika kita melihat bahwa bangsa Israel tidak diizinkan Tuhan untuk menghancurkan orang Amori:

Sesudah empat keturunan, anak cucumu akan kembali ke sini, karena Aku tidak akan mengusir orang Amori sebelum mereka menjadi begitu jahatnya sehingga perlu dihukum. (Kejadian 15:16)

Masih ada beberapa orang benar di sana dan Tuhan tidak akan menghancurkan tempat itu karena Tuhan mencintai orang benar, dan mereka dapat menyelamatkan beberapa orang lagi di kota itu. Terbukti bahwa kota itu dapat bertahan selama 4 generasi berikutnya sebelum kota itu benar-benar immoral seluruhnya. Tuhan tidak membinasakan orang benar. Tetapi kenapa dia tetap membinasakan orang-orang yang tidak benar ini? Hal ini bisa disebabkan beberapa hal:

  • Agar bangsa lain tahu bahwa Tuhan beserta bangsa Israel, dan Tuhan bangsa Israel-lah satu-satunya Tuhan yang benar. Maka orang Mesir akan tahu bahwa Aku ini TUHAN, pada waktu Aku menghukum mereka dan membawa Israel keluar dari negeri mereka. (Keluaran 7:5)

Maka pada akhirnya bangsa lain akan datang untuk menyembah dan percaya kepada Tuhan. Ketahuilah ketika bangsa lain datang kepada-Nya, Ia akan menerimanya dengan sukacita seperti yang dialami oleh Rahab.

Malam itu sebelum kedua orang mata-mata Israel itu tidur, Rahab pergi ke loteng, dan berkata kepada mereka, “Saya tahu TUHAN sudah memberikan negeri ini kepada kalian. Semua orang di sini takut kepada kalian. Kami sudah mendengar berita mengenai bagaimana TUHAN mengeringkan Laut Gelagah di depan kalian, ketika kalian meninggalkan Mesir. Kami juga sudah mendengar bagaimana kalian membunuh Sihon dan Og, kedua raja bangsa Amori itu di sebelah timur Sungai Yordan. Begitu kami mendengar cerita-cerita itu, kami menjadi takut sekali. Semua orang-orang kami hilang keberaniannya karena kalian. TUHAN Allahmu sungguh Allah Yang Mahakuasa di langit dan di bumi. (Yosua 2:8-10)

Tetapi Rahab wanita pelacur itu dengan seluruh kaum keluarganya dibiarkan hidup oleh Yosua, karena ia sudah menolong kedua mata-mata yang diutus Yosua ke Yerikho. (Sampai pada hari ini keturunan Rahab masih ada di Israel.) (Yosua 6:25)

Orang-orang yang dibinasakan Tuhan adalah orang-orang yang sudah tahu akan Tuhan yang benar tetapi tidak mau datang kepada-Nya.

  • Tuhan membinasakan komunitas orang-orang tidak benar ini karena kasihnya kepada manusia.

    Kasih?

Bayangkanlah apa yang akan terjadi kalau komunitas ini tidak dibinasakan oleh Tuhan: mereka akan beranak-cucu-cicit-dst, dimana keturunan mereka ini akan dibesarkan di suatu komunitas orang-orang yang tidak benar sehingga merekapun akan menjadi orang tidak benar. Kalau rantai ini tidak dihentikan maka akan lebih banyak lagi jiwa-jiwa yang terhilang.

Tidakkan sangat lazim bahwa hati Tuhan tidak tergerak ketika memikirkan hal ini? Tetapi ingatlah bahwa Tuhan hanya membinasakan komuniti dimana 100% (bukan 99.99%) orangnya tidak benar (Kejadian 15:16) dimana tidak lagi ada harapan bagi mereka. Mereka pun sebenarnya pasti sudah pernah mendengar tentang kedashyatan Tuhan yang memberikan kemenangan kepada Israel, tetapi masih saja mereka tidak mau datang kepada Tuhan dan tetap menyembah berhala mereka.

Anak-anakpun dapat diselamatkan, karena mereka masih belum tercemar akan dosa komunitas tidak benar tersebut. Anak-anak selalu menjadi figur kepolosan penghuni surga. Ketika anak Daud meninggal, dia berkata:

Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku. (2 Samuel 12:23)

Ketika seorang anak belum mencapai usia pertanggungjawaban, diapun akan pergi ke kerajaan Allah:

Dan anak-anakmu yang kecil, yang kamu katakan akan menjadi rampasan, dan anak-anakmu yang sekarang ini yang belum mengetahui tentang yang baik dan yang jahat, merekalah yang akan masuk ke sana dan kepada merekalah Aku akan memberikannya, dan merekalah yang akan memilikinya. (Ulangan 1:39)

Ya, Tuhan akan melakukan yang terbaik bagi setiap ciptaan tangan-Nya yang terkasih.

Di Perjanjian Baru, kita tidak lagi melihat hal-hal ini karena Tuhan telah mengirim anak-Nya untuk mati menggantikan dosa kita. Berita injil telah disiarkan ke hampir seluruh ujung dunia dan hampir di setiap komunitas ada orang benar dan harapan. Kedatangan Yesus membawa harapan bagi setiap orang di dunia.

Dengan beberapa hal yang telah didiskusikan ini, maka judul post ini perlu diganti:

Kekejaman“ Tuhan di Perjanjian Lama

Kebaikan Tuhan di Perjanjian Lama

Published in: on May 25, 2009 at 2:36 am Leave a Comment

Iman versus Rasio

Banyak orang yang membuat dua hal ini (iman dan rasio) menjadi hal yang bertolak belakang satu sama lain. Ketika kita beriman terhadap sesuatu maka kita membuang semua rasio kita. Ketika kita menggunakan rasio kita maka iman kita pudar. Apakah benar bahwa iman adalah iman buta tanpa dasar rasio? Apakah rational faith adalah suatu oxymoron?

Bayangkanlah kita mempunyai suatu penyakit parah dan perlu dioperasi. Operasi ini cukup sulit dilakukan dan banyak dokter ahli yang gagal melakukannya. Apakah yang akan kita lakukan? Karena kita ingin sembuh dan mempertahankan hidup, maka kita akan mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang penyakit ini dan mencari dokter terbaik yang paling ahli dalam penyakit ini. Akhirnya kita menemukan informasi tentang seorang dokter yang terkenal ahli melakukan operasi ini. Dia menjamin hasil operasinya akan 100% berhasil walaupun dokter-dokter yang lain tidak berani menjamin sedikitpun. Teman-teman kita juga ada beberapa yang pernah terkena penyakit ini dan memberikan kesaksian tentang kesembuhan mereka lewat dokter ini. Dengan berbagai informasi ini kita akhirnya datang mencari sang dokter.

Demikian jugalah ketika kita ingin mencari Tuhan yang benar, maka kita perlu mencari tahu tentang Tuhan mana yang bisa menyembuhkan penyakit kita (yang tidak lain adalah dosa). Lewat banyak argumen-argumen yang mendukung dan kesaksian-kesaksian orang yang telah dipulihkan, kita menggunakan rasio kita ketika memilih sang dokter untuk menyembuhkan kita. Inilah peran rasio, yaitu memilih Tuhan yang masuk akal, benar, menerangkan, menyembuhkan, dan mengubah hidup.

Selanjutnya, kita menetapkan dokter ini untuk melakukan operasi pada kita maka kita. Ketika kita diberikan perawatan awal yang mungkin menyakitkan kita, kita punya iman bahwa ini adalah untuk kebaikan kita. Ketika kita dibius, kita menaruh iman pada apapun yang akan dilakukan dokter ini ketika operasi berjalan.

Demikian jugalah ketika kita telah memilih Tuhan yang benar dengan rasio kita, kita menaruh iman sepenuhnya pada Tuhan ini untuk mengoperasi kita dan menyembuhkan dosa kita. Mungkin kadang kita tidak tahu alasan di balik beberapa hal yang terjadi pada kita (misalnya penderitaan), doa yang belum dijawab, etc. tetapi kita menaruh iman bahwa segala sesuatu adalah untuk kebaikan kita dan ada waktunya sendiri dari Tuhan. Ini semua karena pengetahuan dan hikmat Tuhan jauh diatas kita sehingga tentu banyak hal yang tidak kita mengerti. Kalau kita mengerti semua hal maka “Tuhan” bukanlah Tuhan. Sama seperti pengetahuan dan pengalaman dokter (dalam analogi sebelumnya) tentang penyakit tersebut jauh melebihi kita. Inilah peran iman, yaitu berserah sepenuhnya.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6)

Inilah rational faith, yaitu iman dan rasio yang berjalan harmonis (intertwined together).

Iman tanpa rasio adalah seperti orang yang menembak jawaban dalam pilihan berganda (memilih asal dari 5 pilihan a,b,c,d,e) dengan iman bahwa jawaban yang ditembaknya betul. Ada kemungkinan betul tetapi ada juga kemungkinan salah.

Rasio tanpa iman adalah seperti orang yang memilih jawaban dalam pilihan berganda (dengan pertimbangan), tetapi kemudian tidak jadi memilih karena tidak beriman bahwa jawabannya betul (tanpa iman=tanpa perbuatan).

Iman dengan rasio adalah seperti orang yang memilih jawaban dalam pilihan berganda (dengan pertimbangan), dan memilih jawaban tersebut dengan yakin (iman dengan perbuatan).

Published in: on May 7, 2009 at 3:24 pm Leave a Comment

Mengapa ada penderitaan (3)

Ketika seseorang sedang menghadapi suatu penderitaan, orang-orang mungkin sering menenangkan dengan berkata bahwa pasti ada suatu hal yang baik dibalik semuanya ini. Mungkin penderitaan tersebut bisa membuat dia menjadi lebih tangguh dalam mental, menjadi lebih dewasa, dan mandiri. Ya, memang penderitaan dapat membawa suatu pelajaran bagi kita.

Tetapi bagaimana dengan penderitaan yang lebih “parah”? Begitu banyak orang yang kelaparan di benua Afrika, atau bagaimana dengan orang yang lahir,hidup, dan mati dalam kemiskinan? Dimanakah Tuhan dalam penderitaan-penderitaan ini? Apakah Tuhan hadir disana dan pernah merasakan penderitaan juga?

Ketika kita menjenguk orang yang sedang sakit, mendengarkan curhat teman yang sedang menghadapi masalah, bukankah kehadiran kita disana jauh lebih penting daripada apa yang kita katakan atau berikan? Seperti itu jugalah di tengah penderitaan dunia, seringkali orang lebih memerlukan kehadiran Tuhan disana.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya. (Matius 10:40,42)

Ini juga menjadi tugas bagi kita untuk hadir dan memberikan bantuan bagi mereka yang menderita, agar hadirat Tuhan benar-benar nyata disana. Kita seringkali cuma melihat banyak penderitaan dunia dan bertanya dimana Tuhan, dan lupa bahwa selain penderitaan juga banyak kebaikan-kebaikan yang ada, yang merupakan bentuk kehadiran Tuhan disana.

Ya, betul Tuhan hadir disana, tetapi dia melakukan lebih dari itu: dia sendiri merasakannya. Aku tidak dapat membayangkan untuk percaya kepada Tuhan yang tidak tahu akan penderitaan-penderitaan yang ada di dunia ini, yang kebal terhadap segala sakit dan penderitaan.  John R.W. Stott menaruhnya seperti ini:

“I could never myself believe in God, it it were not for the cross… In the world of pain, how could one worship a God who was immune to it?”

Yang dia maksudkan disini adalah Yesus yang mati di kayu salib, mengalami penderitaan fisik dan mental yang dashyat, dengan maksud untuk menebus manusia.

Aku pun tidak dapat membayangkan kalau ketika aku menderita, tuhanku berkata: “Salahmu tyuhhh!! Siapa suruh tidak mau menjalankan perintahku, rasain skarang!! Haha!!” Atau tuhan yang berkata: “Engkau menderita? Ketauilah bahwa itu adalah kehendakku, dan itu adalah yang terbaik. Hehe, walaupun aku belum pernah mengalaminya sich =).” Tetapi Yesus berbeda, karena dikala kita menderita dia ada disamping kita untuk menguatkan, menghibur, dan menopang kita. Kita pun dapat curhat masalah itu kepadaNya, karena dia telah mengalami segala bentuk penderitaan dan menang. Ingatlah bahwa dia sendiri pernah merasakan penderitaan  yang jauh lebih parah di kayu salib. Bukankah ini luar biasa? Jawaban Tuhan ditengah penderitaan bukanlah suatu penjelasan karena hal utama yang mereka perlukan bukanlah itu, tetapi Tuhan menjawabnya dengan dirinya sendiri, yaitu lewat kehadiran dan empatinya yang menenangkan banyak jiwa.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.(Yesaya 53:5)

Published in: on May 6, 2009 at 5:22 pm Leave a Comment

Pelajaran dari Paradoks Zeno

Achilles akan berlomba dengan seekor kura-kura. Dia yakin sekali akan menang, maka dari itu ketika perlombaan dimulai, dia membiarkan si kura-kura terlebih dahulu selama 5 menit dan barulah dia akan menyusul. 5 menit berlalu… Achilles mulai lari dan berusaha maju ke tempat si kura-kura sekarang. Tapi ketika dia sampai di tempat itu, tentu saja kura-kura sudah membuat beberapa langkah lagi, sehingga untuk menyusulnya Achilles harus menyusul ke tempat kura-kura itu sekarang. Dia sampai ke tempat kura-kura itu, dan sekali lagi si kura-kura sudah melangkah maju dari tempatnya yang tadi sehingga Achilles harus menyusulnya ke tempatnya yang baru sekarang. Yang perlu dilakukan si kura-kura hanyalah tetap melangkah maju dan Achilles hanya bisa menyusulnya (sangat dekat) tapi tidak akan pernah bisa melebihi si kura-kura. Pada akhirnya kura-kura menang.

Moral dari cerita ini:
Jangan membatasi dirimu karena batasmu adalah dirimu sendiri.

Seorang pelari akan memulai suatu lomba 100 m. Dia melihat jalur yang harus ditempuhnya. Untuk menyelesaikan lomba ini dia harus sampai ke titik tengah jalur tersebut (50 m), setelah itu dia akan berlari lagi dan mencapai titik tengah selanjutnya (25 m). Dia semakin mendekati jalur finish, dan dia berlari ke titik tengah selanjutnya (12.5 m). Lalu ke titik tengah selanjutnya (6.25 m) dan dia hampir menyelesaikan perlombaan ini. Dia meneruskan perjalanan menuju setiap titik tengah, tetapi dia tidak pernah mencapai finish karena jaraknya dibagi dua secara terus menerus tidak akan pernah menjadi nol (0 m). Ya, untuk mencapai garis finish dia membutuhkan waktu tak terhingga, tetapi di alam semesta ini tidak ada yang namanya tak terhingga sehingga dia tidak akan pernah dapat mencapai finish.

Moral dari cerita ini:
Ketika engkau setengah-setengah dalam melakukan sesuatu, engkau tidak akan mencapai tujuan akhirnya. Tetapi kalau dari awal si pelari berpikir untuk sampai ke garis finish dan bukan ke titik tengah, maka dia akan mencapai garis finish tersebut. 

Published in: on February 26, 2009 at 5:19 pm Leave a Comment

Cinta sejati

Pria: Aku mencintaimu.

Wanita: Ah masa… lebih dari apapun juga?

Pria: Iya, lebih dari apapun juga.

Wanita: Bahkan lebih dari Tuhan sekalipun?

Pria: Hm..tidak, aku lebih cinta Tuhan daripada kamu.

Wanita: nguikz… (>.<) ngambekzzz, huh…jadi kamu tidak mencintaiku dong?

Pria: Bukan begitu, aku mencintai Tuhan lebih dari apapun juga karena dia adalah sumber cinta yang sejati dan kekal. Maka ketika aku mencintai Tuhan, aku juga belajar akan cinta Tuhan padaku yang adalah cinta sejati. Dari sumber cinta inilah aku dapat memberimu cinta yang sejati. Kalau aku meletakkan kamu di atas cinta pada Tuhan, maka cintaku padamu bukanlah cinta sejati melainkan cinta semu yang tidak mempunyai dasar/konsep. Ya, kita cuma bisa belajar konsep cinta dari Tuhan, diluar itu “cinta” bukanlah cinta. Namun ketika aku mencintai Tuhan lebih daripada kamu, aku memiliki dasar/konsep cinta yang sejati dan kekal, yang aku berikan kepadamu. Aku melihat konsep dasar cinta sejati dari Tuhan yang begitu mencintai manusia bahkan berkorban baginya, dan itulah konsep cinta sejati.
Manusia itu mudah jatuh, sehingga kalau kita tidak meletakkan Tuhan sebagai dasar cinta kita, maka “cinta” kita akan jatuh. Tetapi kalau kita meletakkan Tuhan sebagai dasar cinta kita, kita mempunyai tiang penopang kokoh yang bisa kita genggam. Dari tiang penopang inilah mengalir cinta sejati yang menyelubungi kita berdua. Inilah cinta sejati, yaitu cinta segitiga antara aku, kamu, dan Tuhan.
Inilah “paradoks” itu:
Ketika aku mencintai kamu lebih dari Tuhan, sebenarnya aku tidak mencintaimu.
Ketika aku mencintai Tuhan lebih dari kamu, sebenarnya aku mencintaimu.

Published in: on February 14, 2009 at 8:00 am Comments (1)