Plato menulis dalam bukunya, The Republic, tentang cincin Gyges, yaitu cincin yang membuat si pemakainya dapat menghilang. Bayangkan cincin itu benar-benar ada, dan kita adalah satu-satunya orang di dunia ini yang memilikinya. Kita dapat menghilang dari pandangan semua orang. Apa yang akan kita lakukan?
Mungkin kita akan tergoda untuk mengintip hal-hal yang tidak senonoh, mengisengi teman kita yang jahat, atau bahkan membunuh orang yang tidak kita suka. Kita juga bisa mencuri barang-barang di pasar, mengambil barang-barang yang kita sukai yang sebelumnya tidak bisa kita peroleh. Kita bisa melakukan banyak hal seenaknya. Toh tidak akan ada siapapun yang tahu kalau pelakunya adalah kita.
Ketika tubuh fisik kita menghilang, justru esensi moral asli kita akan muncul. Esensi moral kita selama ini mungkin saja tertutupi karena “diawasi/diperhatikan” oleh orang tua, teman-teman, dan orang-orang lain di sekitar kita. Kita tidak mau kelihatan amoral dihadapan orang lain, tetapi di dalam diri kita yang sebenarnya mengatakan hal yang berbeda.
Ataukah mungkin kita akan menggunakan kekuatan cincin itu untuk menolong orang? Atau ketika kita sadar cincin ini bisa membuat kita berdosa maka kita akan langsung menghancurkannya? Frodo dalam novel fiksi The Lord of the Ring pernah mengalami dilema ini dan jatuh, walau akhirnya berhasil ditolong. Bagaimana kalau kita mengalaminya?
Kehadiran cincin Gyges ini adalah kasus ekstrim yang akan menelanjangi moral kita. Tetapi mungkin kita juga mengalami sedikit ketika kita sendirian. Apakah diri kita ketika sedang sendiri berbeda dengan diri kita ketika sedang bersama orang lain?
Mari merefleksikan moral kita, moral ketika tidak ditutupi dengan apapun, esensi moral kita.