Predestinasi adalah topik yang kontoversial dan hangat dibicarakan. Kalau Tuhan telah mempredestinasikan kita, bukankah kita tidak mempunyai kehendak bebas? Dan kalau kita tidak mempunyai kehendak bebas maka kita tidak bisa mengasihi Tuhan dan kita tidak bertanggung jawab atas dosa kita.
Masalah yang menyebabkan kontroversi dari predestinasi adalah masalah waktu. Tuhan menciptakan waktu, dan dia berada di luar waktu. Kita seringkali sulit memakai kacamata Tuhan yang berada di luar waktu. Itu berarti membayangkan seluruh peristiwa dari awal sampai akhir secara bersamaan. Itu berarti ketika dia menciptakan bumi, dia juga sudah tahu tentang pemberontakan manusia, penebusan dosa, akhir zaman, dan seluruh peristiwa yang berada di dalam lingkup waktu.
Ketika kita naik pesawat terbang dan melihat ke bawah, kita melihat orang lain seperti sebuah titik kecil. Padahal kita tahu bahwa manusia tidak berbentuk titik, tetapi panjang seperti sebuah balok. Begitu juga Tuhan melihat garis waktu dari awal sampai akhir sebagai sebuah titik, yaitu dia melihat seluruh peristiwa secara “bersamaan” karena pencipta waktu berada di luar waktu.
Mari mengambil sebuah analogi dari tayangan film berkategori lakon bebas. Mungkin kita bisa membayangkan Srimulat atau Extravaganza yang cukup terkenal di masyarakat. Film tersebut adalah cerita lawak yang ditonton langsung oleh pemirsa dalam suatu studio. Mereka memainkan peran dan akting sesuai dengan yang skenario yang telah ditetapkan oleh sang sutradara. Improvisasi juga banyak dilakukan untuk menambah humor.
Sekarang Tuhan menciptakan suatu drama berjudul “kehidupan”. Dia telah menyusun pemain-pemainnya dari awal, yaitu Adam dan Hawa. “Sutradara”(Tuhan) ini memberikan kehendak bebas kepada mereka, yaitu mereka boleh melakukan apa saja dalam drama ini sesuai peran mereka. Mereka tidak diikat oleh script seperti kebanyakan film sekarang. Mereka mendapat briefing dari Tuhan tentang peran mereka, namun mereka tidak taat menjalankan peran itu. Hal ini terus berlanjut sampai sang” sutradara” (Tuhan) turut main dalam lakon itu, mengambil peran sebagai seorang “anak sutradara” yang dikirim oleh “sutradara” untuk menebus ketidaktaatan/dosa mereka dalam panggung. Drama ini terus berlanjut sampai sekarang, yang perannya dimainkan oleh kita (aku dan kamu).
Lebih dari itu sang “sutradara” ini adalah sutradara ajaib yang mahakuasa. Dia telah mengetahui seluruh peristiwa yang akan dilakukan para pemainnya dari awal sampai akhir, bahkan sebelum drama itu dimainkan. Hal ini disebabkan karena “sutradara” tersebut adalah Tuhan sang pencipta waktu yang berada di luar waktu. Seperti juga ketika sang sutradara membuat drama ini telah mengetahui segalanya dari awal sampai akhir, begitulah juga Tuhan yang menciptakan bumi telah mengetahui segalanya dari awal sampai akhir. Dan Tuhanlah yang menciptakan suatu titik (yang sebenarnya adalah garis bagi kita) waktu ini, dimana dia telah tahu segalanya, inilah predestinasi. Disebut predestinasi karena sebelum dunia diciptakan dia telah tahu tentang apa yang akan kita perbuat dengan kehendak bebas yang telah diberikannya. Sekarang dapat terlihat suatu hal yang nampak kontradiktif namun tidak, yaitu predestinasi dan kehendak bebas. Kita tetap mempunyai kehendak bebas, namun Tuhan tetap tahu segalanya dari awal sampai akhir.
Sebagai contoh, Tuhan telah tahu apakah si X akan diselamatkan dari maut atau tidak. Hal ini karena di dalam kekekalan (di luar waktu), yang didalamnya termasuk sebelum penciptaan alam semesta dan sebelum si X lahir, Tuhan juga sudah melihat apakah si X dengan kehendak bebasnya akan menerima Yesus sebagai juruselamatnya. Dan karena dialah pencipta alam semesta dari nihil, maka dia telah mempredestinasikan masa depan X ketika dia menciptakan alam semesta dan waktu. Predestinasi dan kehendak bebas berjalan berdampingan.
Lakon Srimulat dan Extravaganza mengundang senyum dan tawa banyak orang. Para pemain memainkan perannya sesuai dengan script yang telah diberikan oleh sang sutradara. Sekarang kita mempunyai script tersebut, yaitu Firman Tuhan/Alkitab. Kalau kita berjalan sesuai dengan script (Firman Tuhan), maka sang “sutradara” akan tersenyum melihat para pemainnya memainkan drama sesuai dengan kehendaknya.
Ephesians 1:4-6
For he chose us in him before the creation of the world to be holy and blameless in his sight. In love he predestined us to be adopted as his sons through Jesus Christ, in accordance with his pleasure and will— to the praise of his glorious grace, which he has freely given us in the One he loves. (emphasis added)Ephesians 1:11-12
In him we were also chosen, having been predestined according to the plan of him who works out everything in conformity with the purpose of his will, in order that we, who were the first to hope in Christ, might be for the praise of his glory. (emphasis added)