Ketika seseorang sedang menghadapi suatu penderitaan, orang-orang mungkin sering menenangkan dengan berkata bahwa pasti ada suatu hal yang baik dibalik semuanya ini. Mungkin penderitaan tersebut bisa membuat dia menjadi lebih tangguh dalam mental, menjadi lebih dewasa, dan mandiri. Ya, memang penderitaan dapat membawa suatu pelajaran bagi kita.
Tetapi bagaimana dengan penderitaan yang lebih “parah”? Begitu banyak orang yang kelaparan di benua Afrika, atau bagaimana dengan orang yang lahir,hidup, dan mati dalam kemiskinan? Dimanakah Tuhan dalam penderitaan-penderitaan ini? Apakah Tuhan hadir disana dan pernah merasakan penderitaan juga?
Ketika kita menjenguk orang yang sedang sakit, mendengarkan curhat teman yang sedang menghadapi masalah, bukankah kehadiran kita disana jauh lebih penting daripada apa yang kita katakan atau berikan? Seperti itu jugalah di tengah penderitaan dunia, seringkali orang lebih memerlukan kehadiran Tuhan disana.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya. (Matius 10:40,42)
Ini juga menjadi tugas bagi kita untuk hadir dan memberikan bantuan bagi mereka yang menderita, agar hadirat Tuhan benar-benar nyata disana. Kita seringkali cuma melihat banyak penderitaan dunia dan bertanya dimana Tuhan, dan lupa bahwa selain penderitaan juga banyak kebaikan-kebaikan yang ada, yang merupakan bentuk kehadiran Tuhan disana.
Ya, betul Tuhan hadir disana, tetapi dia melakukan lebih dari itu: dia sendiri merasakannya. Aku tidak dapat membayangkan untuk percaya kepada Tuhan yang tidak tahu akan penderitaan-penderitaan yang ada di dunia ini, yang kebal terhadap segala sakit dan penderitaan. John R.W. Stott menaruhnya seperti ini:
“I could never myself believe in God, it it were not for the cross… In the world of pain, how could one worship a God who was immune to it?”
Yang dia maksudkan disini adalah Yesus yang mati di kayu salib, mengalami penderitaan fisik dan mental yang dashyat, dengan maksud untuk menebus manusia.
Aku pun tidak dapat membayangkan kalau ketika aku menderita, tuhanku berkata: “Salahmu tyuhhh!! Siapa suruh tidak mau menjalankan perintahku, rasain skarang!! Haha!!” Atau tuhan yang berkata: “Engkau menderita? Ketauilah bahwa itu adalah kehendakku, dan itu adalah yang terbaik. Hehe, walaupun aku belum pernah mengalaminya sich =).” Tetapi Yesus berbeda, karena dikala kita menderita dia ada disamping kita untuk menguatkan, menghibur, dan menopang kita. Kita pun dapat curhat masalah itu kepadaNya, karena dia telah mengalami segala bentuk penderitaan dan menang. Ingatlah bahwa dia sendiri pernah merasakan penderitaan yang jauh lebih parah di kayu salib. Bukankah ini luar biasa? Jawaban Tuhan ditengah penderitaan bukanlah suatu penjelasan karena hal utama yang mereka perlukan bukanlah itu, tetapi Tuhan menjawabnya dengan dirinya sendiri, yaitu lewat kehadiran dan empatinya yang menenangkan banyak jiwa.
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.(Yesaya 53:5)