Kehidupan Faithless

Faithless adalah seorang murid brillian dan dia baru saja mendapatkan gelar doktoratnya dari University of Pure Reason & Anti-Faith yang sangat terkenal. Tesisnya mendukung evidentialism, yaitu pandangan bahwa setiap kepercayaan selalu memerlukan dukungan dari bukti-bukti dan bukan iman. Dia selalu yakin bahwa iman tidak ada gunanya di dunia ini… dan misinya adalah untuk menyadarkan dunia tentang kesalahan iman. Untuk mulai meniti karirnya menghancurkan iman dari dunia ini, Faithless mendaftar untuk posisi sebagai dosen untuk fakultas University of Evidentialism. Dia sangat yakin deretan panjang penghargaan dan publikasinya akan membuat dia diterima di universitas ternama tersebut. Dan dia mendapatkannya.

Memulai hidup barunya sebagai seorang dosen disana, Faithless berencana untuk menghancurkan setiap iman yang dia punyai sebelumnya. Sepulangnya dia dari hari pertama kerja, dia bertemu dengan orangtuanya. Dia mulai verpikir apakah mereka itu betul-betul orangtuanya. Dia mendesak mereka untuk melakukan tes DNA. Mereka begitu sedih akan hal ini, tetapi dengan penuh kasih pergi bersama dengan anak tercintanya ke klinik terdekat. Setelah 3 hari, hasilnya keluar dan hasil tes DNA terhadap orang tua Faithless dan Faithless sendiri membuktikan bahwa Faithless adalah anak biologis mereka. Faithless masih tidak percaya akan hal ini, dia tidak mempunyai iman terhadap dokter tersebut dan mendesak dokter itu untuk mengajari dia bagaimana untuk melakukan tes DNA tersebut agar dia dapat melakukannya sendiri. Tentu saja dokter tersebut marah dan menolak permintaannya yang aneh. Faithless tidak mempunyai pilihan, dan dia bahkan semakin kehilangan iman nterhadap orangtuanya. Dia takut bahwa “orangtuanya” mengadopsi dia dan membesarkan dia sejak kecil agar dapat menjual dia di pasar malam suatu saat, dan setelah tes DNA dia semakin takut “orangtuanya” akan membius dia dan menjualnya malam itu juga. Dengan paniknya, dia lari dari pria dan wanita yang merawat dia selama lebih dari 2 dekade.

Selanjutnya dia berencana untuk menyewa sebuah kamar dekat tempat kerjanya. Untuk menghemat uang akomodasi, dia menyewa ruangan itu bersama orang lain dalam suatu double room. Dia cukup senang dengan lingkungan yang baru. Akan tetapi, di malam pertama dia tinggal dengan orang lain, dengan lampu ruangan yang remang-remang untuk tidur, dia tidak dapat tidur. Matanya terbuka, mengamati teman sekamarnya, takut bahwa “teman” barunya itu akan membunuh dia malam itu. Dia tidak tahan terhadap perasaan takut ini dan dia segera pindah ke hotel terdekat. Keesokan harinya, dia menyewa kamar studio, dan dia pikir dia akan merasa lebih aman ketika tidur. Tetapi, malamnya, dia masih takut bahwa akan ada orang yang mendobrak pintu dan menembak dia. Dia kesulitan untuk tidur karena dia tidak mempunyai iman bahwa dia akan dapat membuka matanya besok. Sebangunnya dari “tidurnya” semalam, keesokan paginya dia pergi ke kafe untuk mendapatkan sarapan pagi favoritnya, Egg & Ham Breakfast. Oops! Dia sadar bahwa sarapan ini mungkin mengandung racun dan dia akan mati karenanya. Dia membungkus sarapannya dan membawanya ke laboratorium terdekat untuk mengecek apakah aman untuk memakannya. Hasil laboratorium menyatakan negatif terhadap bahan kimia berbahaya, tetapi dia masih tidak mempunyai cukup iman terhadap hasilnya. Dia mengambil sebagian porsi sarapannya dan memberikannya kepada seekor kucing, dan mengamati apakah dia akan mati atau mengalami suatu gejala aneh. Setelah mengikuti kucing itu selama 1 jam dan tidak ada yang terjadi, dia mulai makan sarapannya dengan lega. Selanjutnya, dia pulang ke rumah untuk mempersiapkan mengajar bahan kuliah nanti sore.

Setelah siap untuk mengajar topik tentang The Fall of Faith, dia menunggu bus menuju kampus. Setelah busnya datang, dia memperhati busnya dan pengemudinya.

Faithless: Hei bang, apakah engkau telah memeriksa semua tas penumpang dan kartu identitas mereka, supaya yakin bahwa mereka tidak membawa bom atau senjata untuk membajak bus ini?

Bus Driver: Hah?! Kalau mau naik bus, cepatlah naik!

Faithless: Iya, aku juga mau melakukannya, tapi aku tidak mempunyai iman untuk percaya bahwa tidak ada bomb atau pembajakan yang akan terjadi selama perjalanan. Apakah engkau bisa tolong memeriksa seluruh penumpang?

Bus Driver: Hei, aku rasa engkau seharusnya naik bus nomor 51 menuju rumah sakit jiwa, tidak jauh dari sini kok. Kalau engkau tidak naik sekarang, aku akan pergi!

Faithless: Oh… baiklah, hanya kali ini saja… Aku hampir terlambat untuk mengajar kuliah.

Faithless mengambil tempat duduk dibelakang 2 laki-laki yang sedang berdiskusi tentang rasio. Dia tertarik akan diskusi ini dan mengenalkan diri kepada mereka, yang bernama Anti-Reason dan Christian.

Anti-Reason: Yah, bergabunglah dalam diskusi kami, kami sedang mendiskusikan tentang peran dari reason dalam sistem kepercayaan.

Faithless: Baiklah, jadi apakah posisi dan argumen kalian disini?

Christian: Hi Faithless, aku percaya bahwa sistem kepercayaan yang benar didukung oleh rasio. Kalau tidak, jika banyak sistem kepercayaan yang mengklaim kebenaran absolut yang eksklusif untuk mereka sendiri, akan terjadi kontradiksi karena tidak mungkin ada lebih dari 1 kebenaran absolut di dunia ini. Aku mendukung rasio, tetapi juga iman. Aku percaya bahwa reason sendiri tidaklah cukup. Dalam kehidupan sehari-hari, iman sangat diperlukan, tetapi iman haruslah rasional. Aku percaya terhadap iman yang rasional.

Anti-Reason: Dan  aku tidak percaya akan hal itu. Aku sangatlah skeptis tentang rasio. Rasio tidak dapat menggapai kebenaran sama sekali, karena tidak ada kriteria untuk mendapatkan pengetahuan epistemik. Aku mempunyai masalah dengan epistemologi disini, yaitu aku tidak setuju bahwa manusia dapat mengetahu bagaimana dia mengetahu, dan karenyanya manusia tidak dapat mengetahui apapun walaupun dengan membangun argumen melalui rasio.

Faithless: Aku setuju dengan Christian disini bahwa rasio dapat menggapai kebenaran, tetapi aku tidak setuju dengannya bahwa iman itu adalah harus. Dan untukmu, Mr. Anti-Reason, aku percaya bahwa manusia mempunyai suatu set kepercayaan dasar yang begitu jelas terhadap kita semua, contohnya adalah aku tahu bahwa membunuh orang itu adalah salah dan aku tahu bahwa hukum logika itu benar. Tanpa kepercayaan dasar yang membentuk kriteria untuk mensortir pengetahuan, kita tidak akan mempunyai apapun untuk dipakai.

Anti-Reason: Yah, aku juga berpikir bahwa kita tidak mempunyai apapun untuk dipakai dan kita tidak dapat mengetahui apapun.

Christian: Mr. Anti-Reason, aku setuju dengan Mr. Faithless disini bahwa kita mempunyai suatu set kepercayaan dasar yang begitu helas. Kita tidak harus tahu bagaimana kita tahu mereka. Aku tidak setuju terhadap paham skeptismu akan rasio karena pandangan skeptis tidak dapat dipertahankan. Faktanya, pandangan skeptis itu self-defeating. Bagaimana kita dapat tahu bahwa tidak ada apapun yang dapat diketahui jika engkau tidak mempunyai kepercayaan dasar untuk membangun argumen? Bagaimana engkau dapat tahu bahwa kita tidak dapat tahu bagaimana kita tahu?

Anti-Reason: … Yah, engkau benar, Mr. Christian. Aku tidak tahu bagaimana membuktikannya, tetapi aku cuma tahu dan percaya. Aku rasa itu adalah imanku.

Faithless: Iman? Tidak, aku tidak setuju akan iman. Kalau engkau tidak dapat mempertahankan posisimu tanpa rasio, posisi itu pasti salah.

Christian: Aku setuju akan iman, tetapi hanya iman yang rasional. Mr. Anti-Reason, apakah engkau mau memegang iman akan sesuatu yang illogika dan irasional?

Faithless: Aku tidak akan mempunyai iman akan kedua kasus tersebut, Mr. Christian, rasional ataupun irasional tidak ada bedanya.

Bus tersebut telah sampai di University of Evidentialism. Faithless mengucapkan selamat tinggal kepada kedua teman barunya, dan dia masuk ke lecture theatre. Dia memberikan 2 jam pelajaran penuh semangat tentang The Fall of Faith kepada murid-muridnya. 1 jam selanjutnya adalah sesi diskusi. Seorang murid brilian, Faithful, mengajukan pertanyaan kepadanya.

Faithful: Dr. Faithless, aku mempunyai sanggahan terhadap sanggahanmu terhadap iman. Dalam pelajaranmu, engkau membangun argumen menghancurkan iman menggunakan rasio, tetapi bagaimana engkau tahu bahwa rasio kita itu rasional? Bagaimana kita tahu bahwa setiap fakultas rasio dari manusia itu bekerja dengan baik dan mereka semua membangun argumen yang sama?

Faithless: Apa yang engkau maksud Faithful? Bisakah engkau memfrasekan ulang kata-katamu?

Faithful: Yang aku  maksud adalah apakah kita dapat percaya bahwa fakultas rasio manusia itu dapat dipercaya. Bukankah untuk percaya akan hal tersebut adalah iman? Jika ya, maka kita mempunyai iman terhadap fakultas rasio, dan kita menggunakan fakultas rasio untuk menghancurkan iman. Bukankah itu seperti memotong dahan dimana kita sedang duduk? Bukankah itu self-defeating? Selanjutnya, engkau menyebutkan bahwa kita dapat mendapatkan pengetahuan epistemik dengan mempunyai suatu set kepercayaan dasar yang membentuk suatu kriteria untuk pengetahuan. Jika kita tidak dapat membuktikan mereka dengan rasio, maka kita menerimanya dengan iman bukan?

Faithless: Betul, tepat sekali Mr. Faithful. Akan teteapi, mereka terlalu jelas untuk kita terima. Tanpa mempercayai mereka dan menjadi mereka presupposition, kita tidak dapat membangun argumen apapun dan kita tidak dapat mendapatkan pengetahuan. Aku tidak mengkategorikan mereka sebagai iman, tetapi sebagai presupposition yang rasional.

Faithful: Tetapi itu tergantung definisimu tentang iman. Jika kita bicara tentang iman dalam kehidupan sehari-hari, aku mendefinisikan iman sebagai mempercayai sesuatu yang lebih rasional dibandingkan percaya kepada sesuatu yang lebih irasional, contohnya aku akan mempunyai iman bahwa ketika aku tidur, aku akan bangun keesokan harinya. Akan tetapi, jika kita bicara tentang iman akan hal supernatural, aku mendefnisikan iman sebagai sesuatu yang kita tahu adalah benar, walaupun bukti-buktinya tidak dapat dikunci dengan rasio. Aku pikir ini adalah karena kepercayaan tersebut memerlukan iman yang jatuh di luar perbatasan rasio, dan bukan karena rasio itu tidak dapat dipercaya. Rasio dalam hal ini dapat dipercaya walaupun terbatas. Dan tentu saja untuk percaya akan presupposition adalah suatu iman bukan?

Faithless: … Engkau telah memberikan argumen yang berat, Mr. Faithful, aku sangat menghargainya dan aku akan memikirkan lebih lanjut lagi tentang hal ini. Kita akan mengakhiri pelajaran untuk hari ini dan kita akan bertemu kembali minggu depan.

Faithless merasa tidak nyaman tentang posisinya akan iman setelah selesai pelajaran. Dia pikir Faithful benar bahwa dia sebenarnya mempunyai iman tentang kepercayaan dasar dan fakultas rasio manusia. Secara pragmatis, dia juga merasa tidak nyaman menjalani hidup tanpa iman sama sekali, yaitu dia merasa sulit untuk tidur dan makan. Dia setuju sekarang dengan Mr. Faithful bahwa setiap manusia mempunyai iman. Dia berencana untuk memberikan pelajaran berjudul “Hidup adalah iman” untuk minggu depan. Faithless senang sekarang bahwa dia tidaklah lagi tidak berima dan dia dapat menikmati hidup yang beriman, dan tentu saja iman yang rasional.

Published in: on February 13, 2010 at 4:04 pm  Leave a Comment  

Jejak Kaki Bebek

Pada suatu hari, seorang agnostik (seseorang yang percaya bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat diketahui tentang natur Tuhan atau apapun yang berada di luar fenomena natural; seseorang yang tidak mengklaim iman ataupun ketidakpercayaan dalam Tuhan) sedang beristirahat di sebuah taman dekat rumahnya. Tiba-tiba dia melihat sesuatu yang aneh, ada jejak kaki bebek! Dia tidak percaya bahwa di daerah tersebut ada bebek dan dia tidak pernah melihat satupun sebelumnya. Dia berpikir mungkin beberapa anak kecil mau mengerjai dia, karena dia dikenal sebagai seorang yang percaya semua bebek di daerah tersebut telah punah. Dia menganalisa jejak kaki bebek tersebut dengan hati-hati, mengambil fotonya, mengukur luas area jejak kaki tersebut, mengukur kedalaman jejak kaki dan bahkan jarak antara tiap jejak kaki. Dengan data-data ini, dia menyimpulkan bahwa bentuk jejak kaki tersebut cocok dengan bentuk kebanyakan spesies bebek. Dari kedalaman jejak kaki, dia menghitung berat kira-kira dari “sesuatu” yang menyebabkan jejak kaki tersebut, dan dia menyimpulkan beratnya cocok dengan kebanyakan spesies bebek. Selain itu, jarak antara tiap jejak kaki cocok dengan jarak langkah kaki bebek pada umumnya.

Akan tetapi, dia masih tidak percaya bahwa jejak kaki tersebut disebabkan oleh seekor bebek, mungkin seseorang menggunakan benda yang mirip kaki bebek untuk mengerjai dia. Dia mengikuti jejak kaki bebek tersebut dan perjalanannya berakhir di pinggir sungai. Setelah dengan hati-hati mendokumentasikan bukti-buktinya, dia berjalan pulang dan beristirahat. Keesokan harinya, dia kembali ke tempat yang sama dan dia melihat seekor bebek! Dia begitu terkejut dalam ketidakpercayaan dan tanpa kesabaran segera menangkap bebek itu dan menganalisa properti dari kaki bebek dan berat bebek tersebut. Datanya menunjukkan bahwa kemungkinan besar bebek tersebutlah yang membuat jejak kaki di hari sebelumnya.

Yah, engkau menebak dengan benar, dia masih tidak percaya bahwa jejak kaki tersebut disebabkan oleh bebek ini. Dia masih tidak percaya, dan dia lebih percaya bahwa seseorang yang mengerjai dia itu melihat dia kemarin, lalu menaruh bebek ini untuk mengerjai dia. Dia berkata dia cuma akan percaya jejak kaki tersebut disebabkan oleh bebek ini , jika dan hanya jika dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Dia menunggu untuk kemajuan teknologi untuk membangun mesin waktu bagi dia, supaya dia dapat kembali ke masa lalu untuk melihat bagaimana jejak kai tersebut dapat muncul. Dia terus menunggu dan menunggu, akan tetapi mesin waktu tidak diciptakan pada masa hidupnya dan karena itu dia tidak pernah tahu…

Seorang filsuf ateis terkenal Bertrand Russell suatu saat pernah ditanya apa yang akan dia katakan kalau dia menemukan dirinya berdiri di depan Tuhan pada masa penghakiman dan Tuhan bertanya padanya, ” Kenapa engkay tidak percaya padaku?” Russel membalas, “Aku akan berkata, “Tidak cukup bukti, Tuhan! Tidak cukup bukti!” Aku percaya bahwa argumen akan Tuhan adalah lebih dari cukup. Tentunya lebih dari cukup untuk menjadi rasional, tetapi tentunya tidak cukup untuk memaksa. Hal ini berbeda dari argumen bahwa 1 + 1 harus sama dengan 2. Aku percaya bahwa kebanyakan argumen membutuhkan sedikit lompatan iman, sama seperti percaya bahwa jejak kaki tersebut muncul karena bebek walaupun kita tidak melihatnya dengan mata kita sendiri. Walaupun bukti tentang Tuhan tidak memaksa (karena hal tersebut akan melanggar free will kita), bukti tersebut rasional sama seperti rasional untuk percaya bahwa jejak kaki tersebut dibuat oleh bebek.

Tuhan telah memberikan bukti yang jelas kepada orang-orang yang mencarinya dengan sungguh-sungguh, tetapi juga cukup tidak jelas supaya tidak memaksa terutama orang-orang yang menolak Tuhan (karena itu adalah divine rape). Walaupun bukti-buktinya jelas, orang-orang yang memberontak terhadap Tuhan selalu dapat mengelak secara irasional. Stephen Hawking membuat teori aneh menggunakan waktu imajiner untuk dapat menghindar dari titik awal penciptaan waktu Big Bang, yang tentunya hanya untuk menghindar dari Tuhan. Banyak orang yang menolak teori penciptaan dan lebih percaya kepada evolusi walaupun bukti-bukti yang ditemukan menghancurkan teori evolusi. Hal ini sama seperti membuat teori bahwa seseorang ingin mengerjai kita denga menaruh jejak kaki bebek dalam ilustrasi di atas.

Aku percaya bahwa dalam pengetahuan, setiap orang tahu kepercayaan terhadap Tuhan adalah rasional. Tetapi masalahnya ada dalam hati mereka, yang menolak Tuhan.

There are only two possible explanations as to how life arose: Spontaneous generation arising to evolution or a supernatural creative act of God…. There is no other possibility. Spontaneous generation was scientifically disproved 120 years ago by Louis Pasteur and others, but that just leaves us with only one other possibility… that life came as an act of supernatural creation by God, but I can’t accept that philosophy because I do not want to believe in God.  Therefore, I choose to believe that which I know is scientifically impossible, spontaneous generation leading to evolution.” Dr. George Wald (Professor Emeritus of Biology, Harvard), Nobel Prize winner in Biology, 1971

Kutipan di atas lebih terpuji ketimbang ateis yang memformulasikan teori irasional untuk mendukung kepercayaan mereka, karena pernyataan di atas adalah jujur. Ada perbedaan yang jelas antara percaya bahwa Tuhan ada dan percaya akan Tuhan. Kita dapat percaya bahwa Tuhan ada, tetapi hati kita harus membuat pilihan apakah akan percaya terhadap Tuhan. Aku percaya bukti-buktinya cukup jelas untuk setiap pencari kebenaran. Bagiku, ketika aku melihat jejak kaki bebek dalam ilustrasi di atas, aku tidak punya cukup iman untuk percaya seseorang ingin mengerjaiku dengan merekayasa jejak kaki bebek, tetapi aku cuma punya sedikit iman untuk percaya bahwa seekor bebeklah yang membuat jejak kaki tersebut walaupun aku tidak melihatnya sendiri.

Published in: on February 7, 2010 at 4:42 pm  Leave a Comment  

Perbudakan

Manusia mempunyai jiwa dan tubuh. Jiwa manusia memberikan kemampuan untuk berpikir rasional. Perbudakan dimulai dari perbudakan jiwa oleh tubuhnya sendiri. Ini berarti segala tindakan seseorang dikuasai oleh tubuhnya, dan bukan oleh jiwa dan pikiran rasionalnya, yang mengakibatkan seseorang bertindak hanya berdasarkan insting dan perasaan, seperti layaknya hewan. Manusia memang berada dalam kategori hewan, tetapi manusia mempunyai jiwa yang lebih superior yang membuatnya mampu untuk berpikir rasional. Salah satu contoh dari manusia yang jiwanya mampu memperbudak tubuhnya adalah ketika dia melakukan puasa. Untuk makan ketika lapar adalah insting hewan, tetapi yang dapat menaklukkan insting badaniah ini membuktikan bahwa tubuhnya dikontrol oleh jiwanya. Dengan ini, disimpulkan bahwa manusia yang menekan pikiran rasio-nya dan bertindak “natural” sebenarnya berada di bawah perbudakan.

Dengan demikian, manusia yang menggunakan pikiran rasionalnya adalah superior, dan mereka dapat memanfaatkan saudara-saudaranya yang diperbudak oleh tubuh mereka sendiri. Mereka dapat memperlakukan saudara-saudaranya ini yang diperbudak secara internal sebagai suatu benda/properti. Ini seperti manusia yang memelihara ternak untuk mengambil keuntungan darinya. Seekor sapi dibesarkan di peternakan untuk diambil susu dan dagingnya, dan mereka tidak akan memberontak atau berusaha kabur, walaupun mereka telah  melihat saudara-saudari mereka disembelih. Sapi-sapi tersebut tidak peduli dan hanya menerima nasibnya. Dengan cara yang sama, ketika diperbudak secara fisik, manusia yang diperbudak oleh tubuhnya sendiri akan menjadi putus asa dan tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, manusia yang jiwanya memperbudak tubuhnya akan merencanakan pemberontakan untuk meraih kebebasan. Mereka memilih mati dalam kebebasan daripada hidup dalam belenggu perbudakan.

Perbudakan fisik adalah tindakan yang tidak manusiawi dan telah sebagian besar dihapus, walaupun perbudakan ilegal masih ada sampai sekarang. Tetapi, di abad ke-21 ini, apakah masih ada perbudakan jiwa sendiri? Kita cukup melihat apakah manusia saat ini berpikir dan mempunyai alasan untuk apa yang mereka lakukan. Bagaimana dengan mereka yang diperbudak oleh online game? Bukankah sangat jelas bahwa online game hanya membunuh waktu mereka yang berharga? Tidak ada alasan bagus bagi seseorang untuk kecanduan dan diperbudak oleh game. Ini bukan berarti bahwa bermain game itu jahat. Kalau kita bermain game sebagai sarana untuk mencapai akhir yang lain, dengan kesadaran, tentu saja baik. Akhir yang dimaksud disini misalnya untuk relaks dan mengisi energi untuk lebih produktif melakukan hal lain setelahnya. Kalau kita bermain game sebagai akhir itu sendiri, tanpa kesadaran, bukankah itu kebodohan? Bagaimana dengan kegiatan di sekolah/universitas? Kalau seorang murid belajar hanya karena dia ingin mendapatkan gelar, hanya karena teman-temannya di sana, hanya karena jurusan itu yang paling mudah, hanya karena dengan gelar yang akan diraih memberikan dia pride, tanpa alasan yang rasional, itu adalah perbudakan. Ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa pertimbangan rasional dan kesadaran penuh akan apa yang dia lakukan, bukankah itu perbudakan karena dia tidak berbeda dari hewan?

Aku belajar sains bukan karena kedengarannya keren, bukan karena aku terjebak di dalam bidang ini sejak universitas, itu semua karena aku ingin berkontribusi terhadap kemajuan sains dunia, mengeksplorasi keajaiban ciptaan tangan Tuhan di dunia ini. Aku menjadi seorang Kristen bukan karena aku terbiasa dengannya sejak Sekolah Dasar, bukan karena banyak temanku yang juga Kristen, bukan karena itu memberikanku emotional support/spiritual bolster, bukan karena aku ingin menemukan komunitas untuk berinteraksi, itu semua karena aku menemukan bahwa kekristenan itu benar. Aku pergi ke gereja bukan karena aku seorang Kristen, bukan karena mengikut-ikut orang lain, bukan untuk menghindari perasaan bersalah, bukan karena kebiasaan, bukan karena aku tidak punya hal lain untuk dilakukan saat weekend, itu semua karena aku ingin bersekutu dengan Kristus bersama dengan saudara seiman lain. Aku bekerja sebagai researcher bukan karena tidak ada pekerjaan lain, bukan karena gajinya tinggi, bukan karena aku ingin menabung untuk pensiunan, itu semua karena aku menyukai research dan melaluinya aku dapat berkarya. Aku menulis post tentang perbudakan ini bukan karena aku tidak ada kerjaan, bukan karena aku suka menulis, itu semua karena aku ingin menghapus perbudakan jiwa. Ada alasan untuk segala sesuatu bukan?

Walaupun perbudakan fisik telah dihapus, perbudakan jiwa sendiri (yang merupakan bentuk perbudakan pertama dan paling simpel) tetap ada. Untuk dapat bebas dari perbudakan jiwa sendiri ini, kita perlu mengusir tubuh kita dari kursi pemerintahan, dan mulai mengangkat kembali jiwa kita untuk memerintah tubuh kita. Kalau tidak, kita tidak berbeda dari hewan lain. Ketika kita melakukan ini, kita akan menemukan alasan rasional untuk apapun yang kita lakukan. Kita bertindak bukan lagi berdasarkan insting hewan, tetapi berdasarkan pertimbangan rasional jiwa kita. Dengan ini, kita bebas.

Published in: on December 20, 2009 at 5:00 pm  Comments (1)  

Sains vs Agama (3)

lanjutan dari Sains vs Agama (1) dan Sains vs Agama (2)

Aku percaya sepenuhnya bahwa ketika kita melakukan sains dengan segala kerendahan hati, sains akan mengarah kepada Tuhan. Ketika kita melihat kedashyatan dan kebesaran desain alam semesta, dengan segala kompleksitas dan keteraturannya, kita akan tertunduk kagum terhadap kejeniusan penciptanya. Ilmuwan yang mempunyai integritas dan kejujuran, akan mengikuti kemanapun bukti-bukti dari sains menunjuk. Bukti-bukti tersebut telah kita lihat mengarah kepada penjelasan supernatural, seperti singularity point dalam Big Bang, Hukum ke-2 termodinamika, dan banyak lagi. Adalah lebih rasional untuk percaya bahwa Tuhan adalah pencipta dari singularity point, dengan energy yang begitu besar dan informasi dalam DNA, daripada percaya kepada teori-teori aneh dan irrasional yang berusaha untuk melebih-lebihkan sains. Menurut pendapatku, sumber segala masalah dalam sains yang tidak percaya pada Tuhan adalah ibu dari segala dosa: Harga diri (Pride). Aku melihat hal yang koheren antara klaim dari sains dan klaim dari Lucifer dalam Yesaya 14:12-15. Keduanya adalah klaim harga diri, Lucifer menyombongkan keindahannya dan ingin mengagungkan dirinya lebih dari penciptanya, sedangkan Scientism menyombongkan penemuan-penemuannya dan ingin mengagungkan dirinya lebih dari pencipta sains itu sendiri. Sains menemukan teori Big Bang, teori evolusi, dll, tetapi yang membedakan adalah interpretasinya. Ilmuwan yang dikuasai pride akan menginterpretasikannya sebagai kesuksesan sains dan menyingkirkan Tuhan karena mereka mengklaim bahwa mereka telah dapat menjelaskan segala sesuatu dan mereka tidak memerlukan Tuhan sebagai penjelasan. Di lain pihak, ilmuwan yang rendah hati akan menginterpretasikannya sebagai kedashyatan dan keindahan ciptaan dari Tuhan, yang membuat mereka kagum pada penciptanya. Ketika Human Genome Project selesai, Bill Clinton dalam pidatonya berkata:  “Today, we are learning the language in which God created life. We are gaining ever more awe for the complexity, the beauty, and the wonder of God’s most divine and sacred gift.” Setelah itu, pemimpin dari projek itu, Francis S. Collins menambahkan: “It’s a happy day for the world. It is humbling for me, and awe-inspiring, to realize that we have caught the first glimpse of our own instruction book, previously known only to God”. Sekali lagi, scientism jatuh pada dosa pride dan pemberontakan manusia terhadap Tuhan.

Kesimpulannya, ‘konflik’ antara sains dan agama bukanlah konflik antara kebenaran. Ini adalah konflik di dalam lubuk hati manusia yang memberontak pada Tuhan atau menunduk pada Tuhan. Ini adalah sekali lagi perang klasik antara ibu dari segala dosa (Pride) melawan ibu dari segala virtue (Humility). Tuhan menciptakan kita dengan pikiran sains yang membuat kita mampu untuk melihat keajaiban ciptaannya. Sains tidak seharusnya melewati batasnya, karena kalau demikian itu bukanlah lagi sains. Pride dalam sains hanya akan membawa kita kepada kehancuran, sedangkan humility dalam sains akan mengarahkan kita kepada pencipta kita.

“If Scientific equations are a form of poetry written by Nature’s creator, then scientific discovery is an act with spiritual overtones.” – C. N. Yang.

“Science without religion is lame, religion without science is blind” – Albert Einstein.

Published in: on December 11, 2009 at 3:35 pm  Leave a Comment  

Sains vs Agama (2)

lanjutan dari Sains vs Agama (1)

Sains juga sudah menyombongkan dirinya dengan menyatakan kemampuannya untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa ada sekarang, yaitu dengan teori evolusi. Tetapi kita harus mengigat bahwa ini hanyalah teori, yaitu teori evolusi, dan bukanlah hukum. Teori berarti belum dibuktikan atau belum memiliki bukti kokoh, sedangkan hukum berarti sudah memiliki kepastian. Perpindahan dari evolusi sebagai pengetahuan menuju evolusi sendiri adalah lompatan iman. Biarpun evolusi itu benar atau tidak, sebenarnya evolusi tidak berkata apapun tentang pencipta. Misalkan suatu hari evolusi mendapatkan bukti kokoh yang tidak terbantahkan, maka kita juga harus bertanya siapakah yang menciptakan mekanisme evolusi ini. Bukankah sangat mungkin bahwa Tuhan menciptakan mekanisme evolusi untuk memunculkan manusia? Kalau kita lihat sebuah jam di padang gurun, dan menemukan bahwa jam ini dihasilkan dari sebuah pabrik yang dioperasikan oleh robot, bukankah kita juga harus berpikir siapakah yang menciptakan robot-robot tersebut? Apapun conclusi dari evolusi, akan tetap menunjuk pada prima causa. Walaupun begitu, teori evolusi masih sangat kekurangan bukti. Dr. Collin Patterson, pengarang buku Evolution dan seorang makroevolusionis, suatu hari bertanya pada staff geologi di Field Museum of Natural History: “Apakah kamu bisa memberitahu saya satu hal saja yang benar dari evolusi?” Jawabannya adalah keheningan. Ketika dia melontarkan pertanyaan yang sama kepada anggota dari Evolution Morphology Seminar di Universitas Chicago (badan prestisius evolusionis), seseorang menjawab: “Aku tahu satu hal – yaitu evolusi tidak seharusnya diajarkan di sekolah-sekolah.”

Bahkan lebih lagi, selama di sekolah kita telah diajarkan tentant evolusi yang salah. Sains telah mengakui bahwa eksperimen Miller, pohon kehidupan Darwin, embrio Haekel, mata rantai Archaeopteryx, dan bahkan mungkin lebih lagi, adalah sebagiannya hasil kebohongan yang diubah dan dibuat-buat. Bahkan mungkin kita pernah mendengar istilah “dosa Haeckel” untuk menunjukkan kebohongannya dalam teori evolusi. Analisis dari penemuannya dibuat-buat sehingga condong kepada naturalisme atau evolusi. Anak-anak sekolah yang polos telah dibohongi bahwa bukti dari evolusi begitu kokoh, sementara kebenarannya adalah sebaliknya. Hal ini menurut pendapatku adalah pride manusia bahwa mereka telah bisa menjelaskan segala sesuatu melalui sains. Sebagai ilmuwan, ada suatu kesenangan dan kebanggaan sendiri ketika melihat bahwa kita mempunyai penjelasan untuk suatu eksperimen yang kita buat, yaitu berhasil membuat open question menjadi open-ended question. Ini adalah tugas dari setiap ilmuwan, tetapi memaksakan teori yang sangat kekurangan bukti adalah naif.

Beberapa orang juga memegang bahwa sains adalah satu-satunya jalan untuk meraih kebenaran, yang disebut scientism. Implikasinya adalah menganggap remeh agama, filosofi, dan bahkan etika. Sangat jelas bahwa sains tidak dapat menyatakan bahwa pembunuhan adalah beretika atau tidak beretika, karena tidak ada eksperimen sains yang dapat memberitahu kita. Scientism adalah pandangan yang tidak koheren dan self-defeating. Klaim dari scientism sendiri bukanlah klaim sains, dan karena itu tidak dapat dibuktikan di lab, yang pada akhirnya mengontradiksi dirinya sendiri. Sains tidaklah cukup bagi manusia untuk mencari kebenaran. Kita juga memerlukan revelasi untuk mengetahui hal-hal yang manusia tidak akan pernah tahu dengan usahanya sendiri. John Lennox memberikan ilustrasi tentang hubungan antara sains dan revelasi. Sains cuma dapat menginvestigasi hal-hal yang natural, tetapi sains tidak akan pernah dapat menjawab pertanyaan dasar manusia, seperti mengapa manusia diciptakan, natur Allah, dsb. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini cuma dapat kita ketahui melalui revelasi Allah, yaitu bila sang pencipta merevelasikan tujuan dan kehendaknya kepada ciptaan. Kalau tidak ada Tuhan, maka tidak ada alam dan ciptaan, dan tidak ada apapun bagi sains untuk diteliti. Faktanya adalah sains juga membutuhkan iman, karena sains didasarkan atas logika dan tidak ada eksperimen sains yang dapat membuktikan logika. Akibatnya, agar sains masuk akal, sains harus memiliki iman di dalam rasio, dan rasio yang benar secara logika bergantung pada keberadaan dari Allah.  Scientism telah menempatkan dirinya di atas Tuhan, walaupun Tuhan sendiri adalah prasyarat bagi sains. Apa yang sains lakukan sama seerti memotong ranting dimana sains duduk, yaitu self-defeating.

Yang terakhir, selalu ada pertanyaan apakah mukjizat tidak mungkin secara sains. Kalau iya, maka reputasi dari Alkitab yang berisi begitu banyak mukjizat adalah keliru. Ketidakpercayaan sains terhadap Alkitab bermula dari masa Enlightenment di mana mukjizat dipercaya tidak dapat diterima oleh pandangan rasional dan modern dunia. Apakah sains memiliki hak untuk mengkritik mukjizat cuma karena mukjizat tidak mungkin secara sains? Tidak sama sekali. Alvin Plantinga menggambarkan suatu analogi: Kalau kita menjatuhkan kunci mobil, dan cuma mencari kunci tersebut di bawah lampu jalan, itulah sains. Kunci tersebut mungkin jatuh di daerah gelap yang tidak diterangi lampu, yang tidak dapat kita cari. Maka, bukankah irasional untuk mengklaim bahwa tidak ada kunci yang jatuh cuma karena kita mencarinya di daerah terang? Dalam kata-kata Francis S. Collins:

In my view, there is no conflict in being a rigorous scientist and a person who believes in a God who takes a personal interest in each one of us. Science’s domain is to explore nature. God’s domain is in the spiritual world, a realm not possible to explore with the tools and language of science.

Sains tidak dapat menjawab pertanyaan dasar seperti tujuan hidup, moral, dsb. Sekarang kita tahu domain, tempat main, dan batasan dari sains, dan kita dapat lanjut kepada mukjizat. Mukjizat didefinisikan oleh William Lane Craig sebagai suatu peristiwa dimana tidak dapat dihasilkan oleh sebab natural yang sedang beroperasi pada waktu dan tempat dimana peristiwa itu berlaku. Mukjizat bukanlah suatu pelanggaran dari hukum alam seperti didefinisikan David Hume. Mukjizat hanyalah intervensi oleh makhluk supernatural terhadap alam kita. Sebuah apel yang tidak jatuh ke tanah karena kita menangkapnya bukanlah mukjizat, tetapi intervensi. C. S. Lewis memberikan konklusi dengan indah:

But if God comes to work miracles, He comes ’like a thief in the night’… If Nature brings forth miracles then doubtless it is as ’natural’ for her to do so when impregnated by the masculine force beyond her as it is for a woman to bear children to a man. In calling them miracles we do not mean that they are to bear children to a man. In calling them miracles we do not mean that they are contradictions or outrages; we mean that, left to her own resources, she could never produce them.

Hukum alam tidak dilanggar ketika mukjizat terjadi, alam hanya menerima kekuatan intervensi yang diberikan kepadanya. Sekarang kita tahu bahwa sains tidak menyanggah mukjizat. Kita sekarang harus bertanya apakah tujuan dari mukjizat itu sendiri. Saya percaya bahwa Tuhan melakukan mukjizat untuk memberikan bukti bahwa dirinya adalah Tuhan. Logikanya: kalau dia adalah Tuhan pencipta alam semesta, maka dia dapat memerintah alam semesta. Fakta bahwa Yesus mampu untuk melakukan mukjizat mengimplikasikan bahwa dia adalah pencipta alam semesta.

Published in: on September 25, 2009 at 1:31 pm  Comments (1)  

Sains vs Agama (1)

Saat ini muncul ide dan pikiran bahwa sains telah menggulingkan kepercayaan terhadap Tuhan. Suatu saat aku sedang berada di toko buku Popular, mataku memantulkan bayangan tulisan GP (General Paper) exercise book, yang merupakan sebuah pelajaran wajib untuk A-Level di Singapura. Dalam salah satu topiknya, ada dibicarakan tentang konflik antara sains dan agama di abad ke-20. Buku ini, yang dibaca oleh hampir semua murid yang masuk ke Junior College Singapura, berharap bahwa agama akan mengalokasikan posisinya dalam masyarakat, yaitu untuk menerima sains sebagai kebenaran mutlak dan berhenti untuk menjauhkan atau mengucilkan sains. Tidak cukup dengan semua ini, kita dapat melihat bahwa hampir semua universitas dan lembaga pendidikan di seluruh dunia adalah sekuler (terpisah dari agama), dan bahkan hampir semua orang sekarang berpikir bahwa sains tidak sejalan dengan agama, dan bahkan lebih buruk: bertentangan.

Di dalam sejarahnya, agama melahirkan sains. C. S. Lewis menaruhnya begini, “Men became scientific because they expected law in nature and they expected law in nature because they believed in a lawgiver.” Kebanyakan ilmuwan dari abad ke-15 sampai abad ke-19 adalah orang yang percaya Tuhan (teis), dan kebanyakan dari mereka adalah orang Kristen. Kepercayaan mereka terhadap Tuhan, bukannya menghambat sains, bahkan mejadi inspirasi untuk melakukan hal-hal ilmiah. Konflik yang pernah terjadi antara Alkitab dan sains, seperti yang pernah dialami Copernicus, merupakan kesalahan interpretasi Alkitab dari pemimpin-pemimpin gereja pada waktu itu. Contohnya, bumi diinterpretasikan sebagai datar karena di Alkitab tertulis frase ‘di empat penjuru bumi’. Cepat atau lambat, kita akan menyadari bahwa sains mendukung dan membuktikan kebenaran dari revelasi Tuhan di Alkitab.

Pertama-tama, sains bermula dari Principle of Causality, yaitu di dalam suatu peristiwa ada sebabnya. Kalau tidak, semua kejadian ilmiah tidak dapat dipelajari karena tidak ada sebabnya. Semua ini kalau dikilas balik, menunjuk pada prima causa, yang merupakan argumen klasik untuk Tuhan. Fisika modern, seperti fisika kuantum, telah menemukan bahwa dalam dunia atom atau dunia mikroskopik, tidak ada sebab (cause). Interpretasi yang salah dari penemuan ini adalah self-defeating, yaitu kita mulai dari sebab dan menemukan bahwa tidak ada sebab. Hal ini seperti menggunakan pena untuk menulis sebuah essay, dan mengklaim dalam essaynya bahwa tidak ada pena. Klaim bahwa sains modern telah menggulingkan singgasana Tuhan adalah omong-kosong. Kita akan melihat dalam sains modern, lebih banyak penemuan yang menunjuk kepada Tuhan.

Seiring dengan perkembangannya, ilmuwan telah begitu melihat keajaiban alam, yang mengarahkan mereka kepada pencipta alam tersebut. Contohnya, semesta ini diciptakan dengan konstanta ilmiah begitu akuratnya. Sedikit saja perbedaan yang ada, semesta dan manusia tidak dapat hidup. Ini seharusnya menunjukkan ada desain yang begitu dahsyatnya, dan akhirnya menunjuk kepada designer dari alam semesta. Terlebih lagi, seorang fisikawan Jerman, Gerard L. Schroeder, telah menghitung waktu yang dibutuhkan dari Big Bang sampai sekarang. Hasilnya adalah ±16 milyar tahun yang lalu dengan menggunakan acuan waktu sekarang, tetapi yang lebih menarik lagi adalah bahwa waktunya juga sama dengan 7 hari dengan menggunakan acuan waktu awal (pada saat Big Bang). Bahkan detail dari kejadian di tiap harinya mirip dengan penjelasan ilmiah tentang evolusi alam semesta. Satu-satunya yang dapat menghitung waktu 7 hari itu tidak diragukan lagi adalah Allah yang berdiri di kekekalan, sebelum dan sesudah waktu dia ada, dan dia adalah pencipta dunia. Sekarang, kita cuma bisa melihat betapa ajaibnya penciptaan yang ditulis di Alkitab. Kita juga juga dapat menemukan bahwa bumi diklaim berbentuk bulat (Yesaya 40:22)

Hukum termodinamika juga mendukung pandangan religius. Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dihillangkan. Cara lain untuk  mengungkapkan hukum ini adalah ‘jumlah energy yang ada di semesta adalah konstan’. Hukum ini tidak mengatakan apapun tentang awal/sumber dari energi, tetapi digabungkan dengan teori Big Bang kita juga tahu bahwa pada awalnya ada ledakan sumber energi yang besar. Siapa yang menciptakan energi tersebut? Selain itu, hukum kedua termodinamika juga menyatakan bahwa alam semesta sedang menuju suatu ketidakteraturan, yang membuat para ilmuwan dari dahulu kala berpikir dari mana sumber dari keteraturan pada awalnya. Hal ini juga mengimplikasikan bahwa alam semesta tidaklah kekal, karena mengalami degradasi. Bahkan evolutionis juga harus mengakui bahwa mereka tidak dapat menjelaskan asal mula dari informasi yang terdapat di makhluk hidup. Tidak mungkin dengan pengetahuan sekarang (atau bahkan dengan pengetahuan yang akan datang) untuk mengerti tentang asal mula dari informasi yang mengarahkan evolusi (kalau evolusi benar).

Sains telah menemukan bahwa pada awalnya ada sumber energi, keteraturan, dan informasi yang pada akhirnya menimbulkan suatu pertanyaan siapakah yang menciptakan mereka. Teis mengatributkan hal ini pada Tuhan, sedangkan ateis mengatributkan kepada suatu kebetulan, atau mereka berusaha mengembangkan teori-teori aneh. Albert Einstein pernah menciptakan konstanta hipotetis untuk membuat bumi non-expanding, atau dengan kata lain untuk menghindari adanya permulaan alam semesta. Pada akhirnya, dia mengakui bahwa hal ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dia buat seumur hidupnya. Ilmuwan tidak seharusnya melarikan diri dari kebenaran fakta yang mereka temukan, cuma untuk membuatnya seperti yang mereka mau. Betapa tidak masuk akal. Apa yang mereka temukan adalah fakta, yang menunjuk kepada kebenaran, dan kebenaran tidak dapat dikompensasikan. Pada akhirnya, kebenaran akan berjaya.

Kita dapat melihat dari argumen-argumen ini, bahwa sains bermula dari kepercayaan pada Tuhan, dan sains menunjuk pada keberadaan Tuhan. Sains tidak mengkontradiksi Alkitab, tetapi sains membuktikan bahwa fakta-fakta ilmiah di Alkitab adalah benar adanya.


Published in: on September 19, 2009 at 3:32 pm  Leave a Comment  

Arti Seni-Game-Cinta-Fashion

Ketika aku melihat keindahan alam
Aku menatap keindahan ciptaan tangan Allah
Aku sadar itu semua hanyalah keindahan temporal yang akan hancur oleh manusia
Tetapi ketika aku menatap bumi dan langit yang baru ciptaan Allah, itulah keindahan alam yang kekal

Ketika aku bermain game
Hatiku bersukacita dan dapat kulupakan kesedihanku
Aku sadar itu semua hanyalah sukacita temporal yang hilang setelah aku berhenti bermain
Tetapi ketika aku bermain bersama dengan Allah, hatiku kan bersukacita selamanya

Ketika aku melihat fashion design
Hatiku bergetar merasakan paduan kemegahan dan keelokan busana ciptaan manusia
Aku sadar itu semua hanyalah kemegahan dan keelokan temporal
Tetapi ketika aku melihat kemegahan dan keelokan jubah Allah, hatiku kan bergetar selamanya

Ketika aku belajar ilmu sains
Aku melihat kedashyatan Allah pencipta alam semesta ini
Aku sadar sains terbatas dan tak dapat mengungkapkan seluruh fenomena alam
Tetapi ketika aku bersama Allah, dia akan mengungkapkan rahasianya

Ketika aku merasakan cinta kasih manusia
Hatiku dilegakan oleh kehangatannya
Aku sadar cinta kasih manusia sangat terbatas dan temporal
Tetapi ketika aku merasakan cinta kasih Allah, hatiku kan hangat selamanya

Ketika aku melihat lukisan yang indah
Aku terpaku selama beberapa menit
Aku sadar itu semua hanyalah keindahan temporal
Tetapi ketika aku melihat keindahan wajah Allah, aku akan terpaku selamanya

Ya, perasaan-perasaan ini adalah suatu percikan dari sesuatu yang jauh lebih megah, yaitu perasaan ketika bersama Allah. Aku yakin dia memberikan sedikit dari kemegahannya agar kita mencari dan menginginkanNya. Percikan perasaan ini adalah turunan dari hubungan sebenarnya dengan Allah.

Roma 1:20 “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih”

Paul menyatakan bahwa bukti-bukti dari penciptaan telah cukup dan setiap dari kita tak mempunyai alasan untuk berdalih. Bertrand Russell salah ketika dia membuat pernyataan bahwa Tuhan tidak memberinya cukup bukti agar dia percaya.

Published in: on August 17, 2009 at 4:57 pm  Comments (1)  

Diversitas Agama & Revelasi

Kecenderungan terhadap diversitas agama semakin terlihat di zaman ini (abad ke 21), dibandingkan dengan pada abad pertengahan dulu. Di dunia ini ada ratusan agama dan kepecayaan masyarakat. Kepercayaan yang menjadi mayoritas mungkin sekitar 5, termasuk Kristen. Akan tetapi di tengah begitu banyak agama sangatlah jelas bahwa agama yang menjadi mayoritas belum tentu adalah benar. Sejarah mencatat hal itu, bahwa terkadang kebenaran muncul mulai dari minoritas (contohnya: gerakan reformis gereja abad pertengahan mungkin cuma dimulai dari 2 orang, Zwingli dari Swiss dan Martin Luther dari Jerman).

Mengapa aku memilih Kristen di tengah ratusan kepercayaan lain? Apakah itu cuma karena pengaruh budaya, keluarga, masyarakat yang mendesak atau membesarkan aku di tengah budaya Kristiani? Kalau begitu maka imanku adalah fana. Mari kita mulai perjalanan mencari kebenaran di tengah begitu banyak agama/kepercayaan yang mengklaim kebenaran. Tentu saja cuma ada 1 yang benar, karena kalau agama A mengklaim dirinya benar maka secara otomatis ia mengklaim semua agama lain salah. Dan kalau agama B mengklaim dirinya benar maka secara otomatis ia mengklaim semua agama lain termasuk A salah. Tidak mungkin ada 2 agama yang benar, relativisme adalah omong kosong orang-orang yang buta secara filosofi.

Tuhan melengkapi kita dengan suatu senjata untuk membedakan yang benar dan salah, dan senjata itu adalah hukum logika (the law of identity, the law of secluded middle, the law of non-contradiction, and the law of rational inference). Tuhan menciptakan manusia yang logical, dan tentunya Tuhan itu sendiri haruslah logical. Tuhan tidak dapat menjadi illogical karena logic adalah unsur intrinsiknya. Lihatlah diagram di bawah ini:

diagram

Untuk argumen tentang natural dan supernatural, bacalah postingan sebelumnya: Supernatural.

Pertama-tama manusia berada di lingkaran natural plane. Di dalam natural plane, manusia hanya dapat berargumen menggunakan logikanya bahwa Tuhan itu ada, namun ia tidak dapat memiliki pengetahuan tentang Tuhan karena pengetahuan tentang Tuhan berada di dalam supernatural plane. Ciptaan tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang penciptanya. Maka dari itu, untuk dapat mengetahui tentang hal-hal supernatural atau tentang Tuhan, maka Tuhan harus merevelasikan pengetahuan tersebut kepada manusia. Kebenaran yang direvelasikan ini ditandai sebagai panah merah (seluruhnya merah).

Revelasi kebenaran ini mengungkapkan hal-hal yang sebelumnya manusia tidak tahu seperti konsep dosa, kebenaran, kejahatan, natur Tuhan, hubungan manusia dengan Tuhan, mengapa manusia ada seperti sekarang, dst. Ini adalah kebenaran sejati yang dibukakan oleh Tuhan. Akan tetapi selain panah merah, ada juga panah-panah lain yang mengaku sebagai kebenaran (panah hijau). Panah-panah hijau ini adalah kebenaran yang tidak sempurna dan hanyalah karangan manusia belaka. Mungkin ada beberapa panah yang mengandung kebenaran (campuran merah dan hijau), tetapi mereka bukanlah kebenaran absolut. Ini mungkin saja terjadi karena ada imitasi dari kebenaran sejati (panah merah) yang hanya menyesatkan manusia, seperti penciptaan agama untuk memperoleh kekuatan politik, dsb.

Panah merah adalah kebenaran absolut, seperti halnya 5+5=10. Panah campuran hijau dan merah adalah kepercayaan yang mungkin mendekati unsur kebenaran tapi tetap saja salah, seperti halnya 5+5=11. Kebenaran tidak dapat dikompensasikan. 1 titik saja yang salah di tengah lautan kebenaran tetaplah salah. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Di dunia yang mengklaim mendapatkan begitu banyak panah revelasi dari supernatural plane, bagaimana kita bisa membedakan mana yang benar? Disinilah hukum logika menjadi filter untuk tiap panah yang mengaku sebagai kebenaran absolut. Apabila suatu agama mengaku mendapatkan revelasi kebenaran yang absolut, maka setiap aspeknya harus masuk akal atau logika. Konsep predestinasi, kehendak bebas, pengampunan dosa, kasih, dll yang diklaim Kristen haruslah logical. 1 saja aspek kecil yang salah akan menghancurkannya. Kepercayaan-kepercayaan yang di dalam ajarannya mengandung kontradiksi tidaklah logical, dan bukanlah kebenaran absolut. Sebagai contoh, agama yang mengklaim bahwa Tuhan itu impersonal adalah illogical, karena properti personal diperlukan agar dia menciptakan dunia, juga dengan manusia yang personal.

John Lennox memberikan analogi yang elegan tentang peran revelasi. Tante Matilda membuat sebuah kue. Kita dapat menyelidiki struktur, komposisi, properti, dll dari kue tersebut. Tapi kita tidak dapat mengetahui kenapa tante Matilda membuat kue tersebut, sama seperti kita tidak dapat mengetahui mengapa dunia ini diciptakan. Kita cuma bisa tahu kalau tante Matilda merevelasikan kenapa dia membuat kue tersebut. Kemudian tante Matilda mengatakan dia membuat kue tersebut untuk ulang tahun anaknya. Kita tentu saja tidak dapat menerima pernyataan ini mentah-mentah. Kita menyelidiki apakah benar tante Matilda mempunyai anak dan apakah tanggal ulang tahunnya itu benar. Kalau ternyata dua fakta ini salah, tentu saja kita akan menolak revelasi palsu dari tante Matilda. Kalau dua fakta ini benar, maka revelasi tante Matilda dan pernyataannya dapat diterima. Inilah peran logika untuk menguji revelasi.

Dengan hal ini, kita diundang untuk mengevaluasi setiap ajaran agama yang kita anut. Dengan agama yang kita anut, kita menaruh setiap harapan kita. Iman kita akan agama yang kita anut lebih berharga daripada emas. Emas diuji kemurniannya dengan api. Sama halnya iman kita kalau benar murni, ketika berhasil menghadapi api logika, semakin meyakinkan kita tentang kemurnian dan kebenaran iman kita. Akan tetapi kalau iman tersebut terbakar habis menjadi abu, dan kita tetap menaruh harapan pada abu, bukankah itu sia-sia?

Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. (1 Petrus 1:7)

Dan aku menemukan Kristiani adalah revelasi kebenaran absolut yang benar-benar benar menurut logika yang telah Tuhan berikan.

Published in: on August 5, 2009 at 7:41 am  Comments (2)  

Pengetahuan tentang suatu pribadi

Aku melihat ada 2 buah pengetahuan tentang suatu pribadi:

  1. Pengetahuan luar, yaitu apakah yang diketahui mengenai fakta-fakta dari pribadi tersebut. Contohnya: tanggal lahir, hobi, tempat lahir, tempat pribadi itu sekolah, tinggi badan, berat, dll. Singkatnya: mempelajari biografi/fakta pribadi tersebut.
  2. Pengetahuan dalam, yaitu apakah yang diketahui mengenai perasaan, jiwa, dan pribadi itu sendiri. Pengetahuan dalam ini hanya dapat diraih dengan bertemu atau berkomunikasi dengan pribadi itu sendiri. Pengetahuan ini disalurkan dari hati ke hati, dan dapat berbeda untuk tiap orang yang memperolehnya.

Pengetahuan luar tidak merangsang keinginan untuk mencari tahu pengetahuan dalam.

Sebaliknya, pengetahuan dalam merangsang keinginan untuk mencari tahu pengetahuan luar.

Sebanyak apapun kita mempelajari pengetahuan luar, tidak dapat meraih pengetahuan dalam.

Contohnya:
Aku ingin mencari tahu tentang Albert Einstein. Yang bisa aku lakukan adalah membeli biografinya, buku-buku yang dia tulis, testimoni tentang dirinya, surat-suratnya, dll. Dengan ini aku memperoleh pengetahuan luar tentang Einstein. Akan tetapi tetap saja aku tidak tahu tentang hati, jiwa, perasaan Einstein yang tercakup dalam pengetahuan dalam.

Anggaplah suatu hari aku bertemu Einstein muka dengan muka (entah dengan cara apa). Kalau aku sudah memperoleh pengetahuan luar tentangnya, aku akan sangat senang karena bisa bertemu langsung dengan orangnya. Kalau aku belum membaca pengetahuan luar tentangnya, aku akan berkenalan dengannya dan sangat kagum dengan pribadinya yang ternyata begitu cerdas dalam dunia sains. Selain itu, aku juga menemukan bahwa dia begitu peduli dan kasih pada orang lain. Semua hal ini akan mendorongku untuk mencari tahu lagi tentang dia, yaitu baik pengetahuan dalam maupun luar.

Pengetahuan dalam lebih superior dari pengetahuan luar, karena pengetahuan dalam (yang benar) mencakup keduanya.

Hal ini adalah hasil observasi dari banyak orang yang mengaku mengenal akan suatu pribadi yang sama, tetapi sepertinya hanya pengetahuan luar saja. Dalam hal ini pribadi itu adalah Kristus, karena dia adalah suatu pribadi. Banyak yang membaca buku-buku tentang Kristus (baik teologi maupun filosofi), Alkitab, dll tetapi hanya memperoleh pengetahuan luar. Motivasi untuk memperoleh pengetahuan luar ini terutama adalah motivasi yang salah, yaitu untuk memperkaya pengetahuannya saja.

Jika seseorang mmpunyai pengetahuan dalam akan Kristus, akan terlihat dari perubahan hidupnya. Dia akan begitu mengidolakan Kristus karena dia adalah pribadi yang sempurna. Dia akan mencontoh hidup dari pribadi Kristus. Dan terlebih lagi, dia juga akan mencari pengetahuan luar tentang Kristus dengan motivasi yang benar, yaitu mencari informasi tentang idolanya.

Aku mengingat sebuah cerita tentang seorang yang mempunyai pengetahuan dalam tentang Kristus, yang kurang lebih seperti ini:

Suatu hari di gereja, ada 3 orang yang sedang berbincang-bincang. Orang pertama mengajak yang lainnya untuk bermain tebak-tebakan dalam Alkitab. Dia bertanya: “Siapa nama kedua belas murid Yesus?” Orang kedua langsung menjawab dengan lancar dan cepat. Dia bertanya lagi:”Di kota mana Yesus dilahirkan?” Orang kedua berpikir sebentar, kemudian menjawabnya. Sekali lagi, orang pertama bertanya:”Di mana Yesus dibaptis?” Orang kedua mengingat-ingat sebentar, lalu menjawab dengan tepat. Kemudian orang pertama dan kedua juga berdiskusi tentang hal-hal lain seperti predestinasi, penciptaan, nubuat, dll. Setelah usai, mereka heran kenapa orang ketiga diam saja seperti tidak tahu akan hal yang mereka diskusikan. Mereka berdua lalu bertanya pada orang ketiga: “Apakah yang kamu ketahui tentang Yesus?“. Orang ketiga menjawab: “Aku tidak tahu dimana Yesus dilahirkan, aku tidak tahu dimana dia dibaptis, aku juga tidak tahu tentang nubuat dan penciptaan yang dia tulis dalam Alkitab. Ya, setidaknya aku belum sempat membacanya. Aku baru bertobat sebulan yang lalu. Yang aku ketahui tentang Yesus hanyalah bahwa dia adalah suatu pribadi yang mengubah hidupku. Dahulu aku mabuk-mabukan, kejam pada istri dan anakku, tidak hormat pada orangtuaku, dan masih banyak lagi. Sekarang hidupku berubah, bahkan istri dan anakku juga menjadi percaya pada Kristus karena melihat perubahan hidupku. Orangtuaku juga mulai dirubahkan, dan aku sedang berusaha membawa mereka pada Kristus. Ya, aku mengalami Kristus dalam hidupku… dia luar biasa. Cuma ini yang kuketahui tentang Yesus

Janganlah “membaca” Alkitab, tetapi biarkanlah Alkitab membacamu.
Don’t “read” the Bible, but let the Bible reads you.

Ketika kita “membaca” Alkitab, kita menjadikan Alkitab sebagai objek. Tetapi ketika Alkitab membaca kita, kita adalah objek, yaitu kita yang diperbaharui, disadarkan, dikuatkan, diberkati, dan disempurnakan oleh Kristus, pribadi yang menulis Alkitab.

Published in: on May 26, 2009 at 4:32 pm  Comments (1)  

“Kekejaman” Tuhan di Perjanjian Lama

Kalau kita membaca Alkitab di Perjanjian Lama, seringkali kita melihat Tuhan yang membinasakan banyak orang. Sepertinya Tuhan di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru begitu berbeda. Contohnya seperti kejadian di kota Sodom dan Gomora:

Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; Kedua kota itu dihancurkan, juga seluruh lembah dan semua tumbuh-tumbuhan serta semua penduduk di situ. (Kejadian 19:24-25)

Bagaimana dengan orang Mesir yang dihukum oleh Tuhan dengan tulah-tulah yang begitu dashyat dan juga menenggelamkan pasukan mereka di Laut Merah?

Maka orang Mesir akan tahu bahwa Aku ini TUHAN, pada waktu Aku menghukum mereka dan membawa Israel keluar dari negeri mereka. (Keluaran 7:5)

Bagaimana dengan orang Amalek?

Akhirnya orang Amalek dikalahkan oleh Yosua. Kata TUHAN kepada Musa, “Tulislah tentang kemenangan ini supaya tetap diingat. Katakan kepada Yosua bahwa Aku akan membinasakan orang Amalek.” (Keluaran 17:13-14)

Bagiamana dengan pembunuhan internal orang-orang Israel sendiri seperti yang diperintahkan Musa?

Maka berdirilah ia di depan pintu gerbang perkemahan dan berteriak, “Siapa yang memihak kepada TUHAN harus datang ke mari!” Maka datanglah suku Lewi mengelilingi Musa, dan ia berkata kepada mereka, “TUHAN Allah Israel memerintahkan kamu masing-masing untuk mencabut pedangmu dan berjalan melalui perkemahan ini, dari gerbang ini sampai ke gerbang yang lain sambil membunuh saudara-saudara, sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggamu.” (Keluaran 32:26-27)

yang tidak lain disebabkan bangsa Israel yang membangun sapi emas selagi Musa sedang pergi:

Musa menyadari bahwa Harun telah membiarkan bangsa Israel seperti kuda lepas dari kandang, sehingga mereka menjadi bahan tertawaan bagi musuh-musuh mereka (Keluaran 32:25)

Bagaimana dengan Tuhan yang membabat habis seluruh rakyat Sihon?

Kemudian TUHAN berkata kepada saya, ‘Raja Sihon dan negerinya Kuserahkan kepadamu; ambillah dan dudukilah negeri itu.’ Maka datanglah Sihon dengan seluruh pasukannya untuk memerangi kita dekat kota Yahas. Tetapi TUHAN Allah kita menyerahkan dia kepada kita, lalu kita mengalahkan dia beserta anak-anaknya dan seluruh tentaranya. Pada waktu itu juga kita rebut dan hancurkan setiap kota, dan bunuh seluruh penduduknya, laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Tak ada yang dibiarkan hidup. Ternak mereka kita ambil dan kota-kotanya kita rampasi. (Ulangan 2:31-35)

akan tetapi ini disebabkan karena raja Sihon yang tidak mengizinkan bangsa Israel untuk melewati kota mereka, dan :

‘Izinkan kami melalui negeri Tuanku. Kami akan berjalan terus dan tidak menyimpang dari jalan raya. Kami akan membayar makanan yang kami makan dan air yang kami minum. Kami hanya perlu melalui negeri ini, (Ulangan 2:27-28)

Perintah Tuhan untuk membunuh?

Apabila TUHAN Allahmu menyerahkan bangsa-bangsa itu ke dalam kuasamu dan kamu mengalahkan mereka, bunuhlah mereka semua. Jangan mengasihani mereka atau membuat perjanjian dengan mereka. (Ulangan 7:2)

dan masih banyak lagi…

untuk kota Sodom dan Gomora, ketika kita melihat dalam pasal sebelumnya, kita tahu bahwa kedua kota ini benar-benar amoral, berdosa besar, dan hidup tidak benar di mata Tuhan. Tetapi kita tahu dari percakapan Abraham dengan Tuhan bahwa kalau saja ada 10 orang benar di kota tersebut maka Tuhan tidak akan membinasakan kota itu:

Abraham mendekati TUHAN dan bertanya, “Benarkah TUHAN hendak membinasakan orang yang tidak bersalah bersama-sama dengan orang yang bersalah? (Kejadian 18:23)

Akhirnya Abraham berkata, “Janganlah marah, Tuhan, saya hanya akan berbicara sekali lagi. Bagaimana jika hanya terdapat sepuluh orang saja?” TUHAN berkata, “Jika ada sepuluh orang yang tidak bersalah, Aku tidak akan membinasakan kota itu.” (Kejadian 18:32)

Ketahuilah bahwa kota-kota yang dibinasakan oleh Tuhan adalah karena seluruh (arti: semua tanpa kecuali satu pun) orang di kota tersebut bersalah. Tidak ada satupun orang yang bisa berdiri sebagai orang benar yang mewakili kota mereka. Hal ini lebih jelas ketika kita melihat bahwa bangsa Israel tidak diizinkan Tuhan untuk menghancurkan orang Amori:

Sesudah empat keturunan, anak cucumu akan kembali ke sini, karena Aku tidak akan mengusir orang Amori sebelum mereka menjadi begitu jahatnya sehingga perlu dihukum. (Kejadian 15:16)

Masih ada beberapa orang benar di sana dan Tuhan tidak akan menghancurkan tempat itu karena Tuhan mencintai orang benar, dan mereka dapat menyelamatkan beberapa orang lagi di kota itu. Terbukti bahwa kota itu dapat bertahan selama 4 generasi berikutnya sebelum kota itu benar-benar immoral seluruhnya. Tuhan tidak membinasakan orang benar. Tetapi kenapa dia tetap membinasakan orang-orang yang tidak benar ini? Hal ini bisa disebabkan beberapa hal:

  • Agar bangsa lain tahu bahwa Tuhan beserta bangsa Israel, dan Tuhan bangsa Israel-lah satu-satunya Tuhan yang benar. Maka orang Mesir akan tahu bahwa Aku ini TUHAN, pada waktu Aku menghukum mereka dan membawa Israel keluar dari negeri mereka. (Keluaran 7:5)

Maka pada akhirnya bangsa lain akan datang untuk menyembah dan percaya kepada Tuhan. Ketahuilah ketika bangsa lain datang kepada-Nya, Ia akan menerimanya dengan sukacita seperti yang dialami oleh Rahab.

Malam itu sebelum kedua orang mata-mata Israel itu tidur, Rahab pergi ke loteng, dan berkata kepada mereka, “Saya tahu TUHAN sudah memberikan negeri ini kepada kalian. Semua orang di sini takut kepada kalian. Kami sudah mendengar berita mengenai bagaimana TUHAN mengeringkan Laut Gelagah di depan kalian, ketika kalian meninggalkan Mesir. Kami juga sudah mendengar bagaimana kalian membunuh Sihon dan Og, kedua raja bangsa Amori itu di sebelah timur Sungai Yordan. Begitu kami mendengar cerita-cerita itu, kami menjadi takut sekali. Semua orang-orang kami hilang keberaniannya karena kalian. TUHAN Allahmu sungguh Allah Yang Mahakuasa di langit dan di bumi. (Yosua 2:8-10)

Tetapi Rahab wanita pelacur itu dengan seluruh kaum keluarganya dibiarkan hidup oleh Yosua, karena ia sudah menolong kedua mata-mata yang diutus Yosua ke Yerikho. (Sampai pada hari ini keturunan Rahab masih ada di Israel.) (Yosua 6:25)

Orang-orang yang dibinasakan Tuhan adalah orang-orang yang sudah tahu akan Tuhan yang benar tetapi tidak mau datang kepada-Nya.

  • Tuhan membinasakan komunitas orang-orang tidak benar ini karena kasihnya kepada manusia.

    Kasih?

Bayangkanlah apa yang akan terjadi kalau komunitas ini tidak dibinasakan oleh Tuhan: mereka akan beranak-cucu-cicit-dst, dimana keturunan mereka ini akan dibesarkan di suatu komunitas orang-orang yang tidak benar sehingga merekapun akan menjadi orang tidak benar. Kalau rantai ini tidak dihentikan maka akan lebih banyak lagi jiwa-jiwa yang terhilang.

Tidakkan sangat lazim bahwa hati Tuhan tidak tergerak ketika memikirkan hal ini? Tetapi ingatlah bahwa Tuhan hanya membinasakan komuniti dimana 100% (bukan 99.99%) orangnya tidak benar (Kejadian 15:16) dimana tidak lagi ada harapan bagi mereka. Mereka pun sebenarnya pasti sudah pernah mendengar tentang kedashyatan Tuhan yang memberikan kemenangan kepada Israel, tetapi masih saja mereka tidak mau datang kepada Tuhan dan tetap menyembah berhala mereka.

Anak-anakpun dapat diselamatkan, karena mereka masih belum tercemar akan dosa komunitas tidak benar tersebut. Anak-anak selalu menjadi figur kepolosan penghuni surga. Ketika anak Daud meninggal, dia berkata:

Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku. (2 Samuel 12:23)

Ketika seorang anak belum mencapai usia pertanggungjawaban, diapun akan pergi ke kerajaan Allah:

Dan anak-anakmu yang kecil, yang kamu katakan akan menjadi rampasan, dan anak-anakmu yang sekarang ini yang belum mengetahui tentang yang baik dan yang jahat, merekalah yang akan masuk ke sana dan kepada merekalah Aku akan memberikannya, dan merekalah yang akan memilikinya. (Ulangan 1:39)

Ya, Tuhan akan melakukan yang terbaik bagi setiap ciptaan tangan-Nya yang terkasih.

Di Perjanjian Baru, kita tidak lagi melihat hal-hal ini karena Tuhan telah mengirim anak-Nya untuk mati menggantikan dosa kita. Berita injil telah disiarkan ke hampir seluruh ujung dunia dan hampir di setiap komunitas ada orang benar dan harapan. Kedatangan Yesus membawa harapan bagi setiap orang di dunia.

Dengan beberapa hal yang telah didiskusikan ini, maka judul post ini perlu diganti:

Kekejaman” Tuhan di Perjanjian Lama

Kebaikan Tuhan di Perjanjian Lama

Published in: on May 25, 2009 at 2:36 am  Leave a Comment