Filsuf vs Tuhan (1)

Pada suatu hari Tuhan datang kepada seorang filsuf.

Tuhan:”Akulah Tuhanmu, sumber segala sesuatu yang baik. Mengapakah engkau tidak melakukan hal yang baik?”

Filsuf :”Hm..engkau memerintahkanku untuk melakukan yang baik. Tetapi apakah hal itu baik karena engkau memerintahkannya ataukah baik karena memang itu baik?”

Tuhan:”Bagaimana kalau aku menjawab bahwa hal itu baik karena aku memerintahkannya?”

Filsuf :”Benarkah begitu? Kalau begitu engkau bisa saja membuat segala sesuatu yang tidak baik menjadi baik, contohnya engkau bisa saja membuat bahwa pembunuhan adalah sesuatu yang baik. Aneh dong?”

Tuhan:”Bagaimana kalau aku menjawab bahwa hal itu baik karena memang baik?”

Filsuf:”Kalau begitu berarti kebaikan tidak bergantung padamu. Jadi ada suatu sumber kebaikan dimana engkau tunduk untuk memerintahkan hal yang baik tersebut. Engkau dan kebaikan tidak bergantung satu sama lain, jadi untuk apa aku menuruti kata-katamu? Sepertinya kebaikan itu lebih tinggi pangkatnya darimu. Lebih baik aku belajar kebaikan saja.”

Tuhan:”Jawabanmu tepat sekali. Engkau memberikanku 2 pilihan, tetapi engkau tidak sadar ada 1 pilihan lagi. Yang ketiga itu menyatakan bahwa Aku adalah kebaikan, kasih, keadilan, dll. Itu adalah esensiku, sehingga  apa yang aku katakan adalah kebaikan. Aku tidak dapat menyuruhmu melakukan pembunuhan sebagai suatu kebaikan karena aku adalah kebaikan yang absolut dan kekal. Bukankah Aku tidak dapat menyangkal diriku? Jadi 2 pilihan yang engkau berikan kepadaku tidaklah benar, karena esensiku adalah kebaikan sempurna itu sendiri.”

Filsuf:”Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mengenalmu, tetapi mereka melakukan kebaikan. Bukankah itu berarti bahwa mereka bisa mengenal kebaikan tanpa mengenalmu? Berarti engkau dan kebaikan tidaklah koheren, sehingga bisa aku sebut ini sebagai suatu oxymoron: godless morality.”

Tuhan:”Aku menciptakan dunia ini, juga manusia dengan segala moral kebaikannya karena itu adalah bagian dari diriku yang adalah kebaikan. Hal tersebut adalah gambaran esensiku. Aku menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupaku. Bagiku tidak ada oxymoron: godless morality, karena semua manusia mempunyai hati nurani untuk melakukan kebaikan dan itu adalah bagian dariku, tetapi sekarang manusia sudah tercemar akan dosa sehingga mereka mulai dibutakan. Faktanya adalah bahwa kejahatan adalah kebaikan yang tercemar. Ketahuilah bahwa aku adalah kebaikan yang absolut.”

Advertisements
Published in: on December 5, 2008 at 1:06 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://ricksensw.wordpress.com/2008/12/05/filsuf-vs-tuhan-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: