Diversitas Agama & Revelasi

Kecenderungan terhadap diversitas agama semakin terlihat di zaman ini (abad ke 21), dibandingkan dengan pada abad pertengahan dulu. Di dunia ini ada ratusan agama dan kepecayaan masyarakat. Kepercayaan yang menjadi mayoritas mungkin sekitar 5, termasuk Kristen. Akan tetapi di tengah begitu banyak agama sangatlah jelas bahwa agama yang menjadi mayoritas belum tentu adalah benar. Sejarah mencatat hal itu, bahwa terkadang kebenaran muncul mulai dari minoritas (contohnya: gerakan reformis gereja abad pertengahan mungkin cuma dimulai dari 2 orang, Zwingli dari Swiss dan Martin Luther dari Jerman).

Mengapa aku memilih Kristen di tengah ratusan kepercayaan lain? Apakah itu cuma karena pengaruh budaya, keluarga, masyarakat yang mendesak atau membesarkan aku di tengah budaya Kristiani? Kalau begitu maka imanku adalah fana. Mari kita mulai perjalanan mencari kebenaran di tengah begitu banyak agama/kepercayaan yang mengklaim kebenaran. Tentu saja cuma ada 1 yang benar, karena kalau agama A mengklaim dirinya benar maka secara otomatis ia mengklaim semua agama lain salah. Dan kalau agama B mengklaim dirinya benar maka secara otomatis ia mengklaim semua agama lain termasuk A salah. Tidak mungkin ada 2 agama yang benar, relativisme adalah omong kosong orang-orang yang buta secara filosofi.

Tuhan melengkapi kita dengan suatu senjata untuk membedakan yang benar dan salah, dan senjata itu adalah hukum logika (the law of identity, the law of secluded middle, the law of non-contradiction, and the law of rational inference). Tuhan menciptakan manusia yang logical, dan tentunya Tuhan itu sendiri haruslah logical. Tuhan tidak dapat menjadi illogical karena logic adalah unsur intrinsiknya. Lihatlah diagram di bawah ini:

diagram

Untuk argumen tentang natural dan supernatural, bacalah postingan sebelumnya: Supernatural.

Pertama-tama manusia berada di lingkaran natural plane. Di dalam natural plane, manusia hanya dapat berargumen menggunakan logikanya bahwa Tuhan itu ada, namun ia tidak dapat memiliki pengetahuan tentang Tuhan karena pengetahuan tentang Tuhan berada di dalam supernatural plane. Ciptaan tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang penciptanya. Maka dari itu, untuk dapat mengetahui tentang hal-hal supernatural atau tentang Tuhan, maka Tuhan harus merevelasikan pengetahuan tersebut kepada manusia. Kebenaran yang direvelasikan ini ditandai sebagai panah merah (seluruhnya merah).

Revelasi kebenaran ini mengungkapkan hal-hal yang sebelumnya manusia tidak tahu seperti konsep dosa, kebenaran, kejahatan, natur Tuhan, hubungan manusia dengan Tuhan, mengapa manusia ada seperti sekarang, dst. Ini adalah kebenaran sejati yang dibukakan oleh Tuhan. Akan tetapi selain panah merah, ada juga panah-panah lain yang mengaku sebagai kebenaran (panah hijau). Panah-panah hijau ini adalah kebenaran yang tidak sempurna dan hanyalah karangan manusia belaka. Mungkin ada beberapa panah yang mengandung kebenaran (campuran merah dan hijau), tetapi mereka bukanlah kebenaran absolut. Ini mungkin saja terjadi karena ada imitasi dari kebenaran sejati (panah merah) yang hanya menyesatkan manusia, seperti penciptaan agama untuk memperoleh kekuatan politik, dsb.

Panah merah adalah kebenaran absolut, seperti halnya 5+5=10. Panah campuran hijau dan merah adalah kepercayaan yang mungkin mendekati unsur kebenaran tapi tetap saja salah, seperti halnya 5+5=11. Kebenaran tidak dapat dikompensasikan. 1 titik saja yang salah di tengah lautan kebenaran tetaplah salah. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Di dunia yang mengklaim mendapatkan begitu banyak panah revelasi dari supernatural plane, bagaimana kita bisa membedakan mana yang benar? Disinilah hukum logika menjadi filter untuk tiap panah yang mengaku sebagai kebenaran absolut. Apabila suatu agama mengaku mendapatkan revelasi kebenaran yang absolut, maka setiap aspeknya harus masuk akal atau logika. Konsep predestinasi, kehendak bebas, pengampunan dosa, kasih, dll yang diklaim Kristen haruslah logical. 1 saja aspek kecil yang salah akan menghancurkannya. Kepercayaan-kepercayaan yang di dalam ajarannya mengandung kontradiksi tidaklah logical, dan bukanlah kebenaran absolut. Sebagai contoh, agama yang mengklaim bahwa Tuhan itu impersonal adalah illogical, karena properti personal diperlukan agar dia menciptakan dunia, juga dengan manusia yang personal.

John Lennox memberikan analogi yang elegan tentang peran revelasi. Tante Matilda membuat sebuah kue. Kita dapat menyelidiki struktur, komposisi, properti, dll dari kue tersebut. Tapi kita tidak dapat mengetahui kenapa tante Matilda membuat kue tersebut, sama seperti kita tidak dapat mengetahui mengapa dunia ini diciptakan. Kita cuma bisa tahu kalau tante Matilda merevelasikan kenapa dia membuat kue tersebut. Kemudian tante Matilda mengatakan dia membuat kue tersebut untuk ulang tahun anaknya. Kita tentu saja tidak dapat menerima pernyataan ini mentah-mentah. Kita menyelidiki apakah benar tante Matilda mempunyai anak dan apakah tanggal ulang tahunnya itu benar. Kalau ternyata dua fakta ini salah, tentu saja kita akan menolak revelasi palsu dari tante Matilda. Kalau dua fakta ini benar, maka revelasi tante Matilda dan pernyataannya dapat diterima. Inilah peran logika untuk menguji revelasi.

Dengan hal ini, kita diundang untuk mengevaluasi setiap ajaran agama yang kita anut. Dengan agama yang kita anut, kita menaruh setiap harapan kita. Iman kita akan agama yang kita anut lebih berharga daripada emas. Emas diuji kemurniannya dengan api. Sama halnya iman kita kalau benar murni, ketika berhasil menghadapi api logika, semakin meyakinkan kita tentang kemurnian dan kebenaran iman kita. Akan tetapi kalau iman tersebut terbakar habis menjadi abu, dan kita tetap menaruh harapan pada abu, bukankah itu sia-sia?

Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. (1 Petrus 1:7)

Dan aku menemukan Kristiani adalah revelasi kebenaran absolut yang benar-benar benar menurut logika yang telah Tuhan berikan.

Advertisements
Published in: on August 5, 2009 at 7:41 am  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://ricksensw.wordpress.com/2009/08/05/mengapa-memilih-kristen-diantara-begitu-banyak-agama/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. tulisannya menarik ni.. salam kenal yah.. hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: