Sains vs Agama (1)

Saat ini muncul ide dan pikiran bahwa sains telah menggulingkan kepercayaan terhadap Tuhan. Suatu saat aku sedang berada di toko buku Popular, mataku memantulkan bayangan tulisan GP (General Paper) exercise book, yang merupakan sebuah pelajaran wajib untuk A-Level di Singapura. Dalam salah satu topiknya, ada dibicarakan tentang konflik antara sains dan agama di abad ke-20. Buku ini, yang dibaca oleh hampir semua murid yang masuk ke Junior College Singapura, berharap bahwa agama akan mengalokasikan posisinya dalam masyarakat, yaitu untuk menerima sains sebagai kebenaran mutlak dan berhenti untuk menjauhkan atau mengucilkan sains. Tidak cukup dengan semua ini, kita dapat melihat bahwa hampir semua universitas dan lembaga pendidikan di seluruh dunia adalah sekuler (terpisah dari agama), dan bahkan hampir semua orang sekarang berpikir bahwa sains tidak sejalan dengan agama, dan bahkan lebih buruk: bertentangan.

Di dalam sejarahnya, agama melahirkan sains. C. S. Lewis menaruhnya begini, “Men became scientific because they expected law in nature and they expected law in nature because they believed in a lawgiver.” Kebanyakan ilmuwan dari abad ke-15 sampai abad ke-19 adalah orang yang percaya Tuhan (teis), dan kebanyakan dari mereka adalah orang Kristen. Kepercayaan mereka terhadap Tuhan, bukannya menghambat sains, bahkan mejadi inspirasi untuk melakukan hal-hal ilmiah. Konflik yang pernah terjadi antara Alkitab dan sains, seperti yang pernah dialami Copernicus, merupakan kesalahan interpretasi Alkitab dari pemimpin-pemimpin gereja pada waktu itu. Contohnya, bumi diinterpretasikan sebagai datar karena di Alkitab tertulis frase ‘di empat penjuru bumi’. Cepat atau lambat, kita akan menyadari bahwa sains mendukung dan membuktikan kebenaran dari revelasi Tuhan di Alkitab.

Pertama-tama, sains bermula dari Principle of Causality, yaitu di dalam suatu peristiwa ada sebabnya. Kalau tidak, semua kejadian ilmiah tidak dapat dipelajari karena tidak ada sebabnya. Semua ini kalau dikilas balik, menunjuk pada prima causa, yang merupakan argumen klasik untuk Tuhan. Fisika modern, seperti fisika kuantum, telah menemukan bahwa dalam dunia atom atau dunia mikroskopik, tidak ada sebab (cause). Interpretasi yang salah dari penemuan ini adalah self-defeating, yaitu kita mulai dari sebab dan menemukan bahwa tidak ada sebab. Hal ini seperti menggunakan pena untuk menulis sebuah essay, dan mengklaim dalam essaynya bahwa tidak ada pena. Klaim bahwa sains modern telah menggulingkan singgasana Tuhan adalah omong-kosong. Kita akan melihat dalam sains modern, lebih banyak penemuan yang menunjuk kepada Tuhan.

Seiring dengan perkembangannya, ilmuwan telah begitu melihat keajaiban alam, yang mengarahkan mereka kepada pencipta alam tersebut. Contohnya, semesta ini diciptakan dengan konstanta ilmiah begitu akuratnya. Sedikit saja perbedaan yang ada, semesta dan manusia tidak dapat hidup. Ini seharusnya menunjukkan ada desain yang begitu dahsyatnya, dan akhirnya menunjuk kepada designer dari alam semesta. Terlebih lagi, seorang fisikawan Jerman, Gerard L. Schroeder, telah menghitung waktu yang dibutuhkan dari Big Bang sampai sekarang. Hasilnya adalah ±16 milyar tahun yang lalu dengan menggunakan acuan waktu sekarang, tetapi yang lebih menarik lagi adalah bahwa waktunya juga sama dengan 7 hari dengan menggunakan acuan waktu awal (pada saat Big Bang). Bahkan detail dari kejadian di tiap harinya mirip dengan penjelasan ilmiah tentang evolusi alam semesta. Satu-satunya yang dapat menghitung waktu 7 hari itu tidak diragukan lagi adalah Allah yang berdiri di kekekalan, sebelum dan sesudah waktu dia ada, dan dia adalah pencipta dunia. Sekarang, kita cuma bisa melihat betapa ajaibnya penciptaan yang ditulis di Alkitab. Kita juga juga dapat menemukan bahwa bumi diklaim berbentuk bulat (Yesaya 40:22)

Hukum termodinamika juga mendukung pandangan religius. Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dihillangkan. Cara lain untuk  mengungkapkan hukum ini adalah ‘jumlah energy yang ada di semesta adalah konstan’. Hukum ini tidak mengatakan apapun tentang awal/sumber dari energi, tetapi digabungkan dengan teori Big Bang kita juga tahu bahwa pada awalnya ada ledakan sumber energi yang besar. Siapa yang menciptakan energi tersebut? Selain itu, hukum kedua termodinamika juga menyatakan bahwa alam semesta sedang menuju suatu ketidakteraturan, yang membuat para ilmuwan dari dahulu kala berpikir dari mana sumber dari keteraturan pada awalnya. Hal ini juga mengimplikasikan bahwa alam semesta tidaklah kekal, karena mengalami degradasi. Bahkan evolutionis juga harus mengakui bahwa mereka tidak dapat menjelaskan asal mula dari informasi yang terdapat di makhluk hidup. Tidak mungkin dengan pengetahuan sekarang (atau bahkan dengan pengetahuan yang akan datang) untuk mengerti tentang asal mula dari informasi yang mengarahkan evolusi (kalau evolusi benar).

Sains telah menemukan bahwa pada awalnya ada sumber energi, keteraturan, dan informasi yang pada akhirnya menimbulkan suatu pertanyaan siapakah yang menciptakan mereka. Teis mengatributkan hal ini pada Tuhan, sedangkan ateis mengatributkan kepada suatu kebetulan, atau mereka berusaha mengembangkan teori-teori aneh. Albert Einstein pernah menciptakan konstanta hipotetis untuk membuat bumi non-expanding, atau dengan kata lain untuk menghindari adanya permulaan alam semesta. Pada akhirnya, dia mengakui bahwa hal ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dia buat seumur hidupnya. Ilmuwan tidak seharusnya melarikan diri dari kebenaran fakta yang mereka temukan, cuma untuk membuatnya seperti yang mereka mau. Betapa tidak masuk akal. Apa yang mereka temukan adalah fakta, yang menunjuk kepada kebenaran, dan kebenaran tidak dapat dikompensasikan. Pada akhirnya, kebenaran akan berjaya.

Kita dapat melihat dari argumen-argumen ini, bahwa sains bermula dari kepercayaan pada Tuhan, dan sains menunjuk pada keberadaan Tuhan. Sains tidak mengkontradiksi Alkitab, tetapi sains membuktikan bahwa fakta-fakta ilmiah di Alkitab adalah benar adanya.


Advertisements
Published in: on September 19, 2009 at 3:32 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://ricksensw.wordpress.com/2009/09/19/sains-vs-agama-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: