Sains vs Agama (2)

lanjutan dari Sains vs Agama (1)

Sains juga sudah menyombongkan dirinya dengan menyatakan kemampuannya untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa ada sekarang, yaitu dengan teori evolusi. Tetapi kita harus mengigat bahwa ini hanyalah teori, yaitu teori evolusi, dan bukanlah hukum. Teori berarti belum dibuktikan atau belum memiliki bukti kokoh, sedangkan hukum berarti sudah memiliki kepastian. Perpindahan dari evolusi sebagai pengetahuan menuju evolusi sendiri adalah lompatan iman. Biarpun evolusi itu benar atau tidak, sebenarnya evolusi tidak berkata apapun tentang pencipta. Misalkan suatu hari evolusi mendapatkan bukti kokoh yang tidak terbantahkan, maka kita juga harus bertanya siapakah yang menciptakan mekanisme evolusi ini. Bukankah sangat mungkin bahwa Tuhan menciptakan mekanisme evolusi untuk memunculkan manusia? Kalau kita lihat sebuah jam di padang gurun, dan menemukan bahwa jam ini dihasilkan dari sebuah pabrik yang dioperasikan oleh robot, bukankah kita juga harus berpikir siapakah yang menciptakan robot-robot tersebut? Apapun conclusi dari evolusi, akan tetap menunjuk pada prima causa. Walaupun begitu, teori evolusi masih sangat kekurangan bukti. Dr. Collin Patterson, pengarang buku Evolution dan seorang makroevolusionis, suatu hari bertanya pada staff geologi di Field Museum of Natural History: “Apakah kamu bisa memberitahu saya satu hal saja yang benar dari evolusi?” Jawabannya adalah keheningan. Ketika dia melontarkan pertanyaan yang sama kepada anggota dari Evolution Morphology Seminar di Universitas Chicago (badan prestisius evolusionis), seseorang menjawab: “Aku tahu satu hal – yaitu evolusi tidak seharusnya diajarkan di sekolah-sekolah.”

Bahkan lebih lagi, selama di sekolah kita telah diajarkan tentant evolusi yang salah. Sains telah mengakui bahwa eksperimen Miller, pohon kehidupan Darwin, embrio Haekel, mata rantai Archaeopteryx, dan bahkan mungkin lebih lagi, adalah sebagiannya hasil kebohongan yang diubah dan dibuat-buat. Bahkan mungkin kita pernah mendengar istilah “dosa Haeckel” untuk menunjukkan kebohongannya dalam teori evolusi. Analisis dari penemuannya dibuat-buat sehingga condong kepada naturalisme atau evolusi. Anak-anak sekolah yang polos telah dibohongi bahwa bukti dari evolusi begitu kokoh, sementara kebenarannya adalah sebaliknya. Hal ini menurut pendapatku adalah pride manusia bahwa mereka telah bisa menjelaskan segala sesuatu melalui sains. Sebagai ilmuwan, ada suatu kesenangan dan kebanggaan sendiri ketika melihat bahwa kita mempunyai penjelasan untuk suatu eksperimen yang kita buat, yaitu berhasil membuat open question menjadi open-ended question. Ini adalah tugas dari setiap ilmuwan, tetapi memaksakan teori yang sangat kekurangan bukti adalah naif.

Beberapa orang juga memegang bahwa sains adalah satu-satunya jalan untuk meraih kebenaran, yang disebut scientism. Implikasinya adalah menganggap remeh agama, filosofi, dan bahkan etika. Sangat jelas bahwa sains tidak dapat menyatakan bahwa pembunuhan adalah beretika atau tidak beretika, karena tidak ada eksperimen sains yang dapat memberitahu kita. Scientism adalah pandangan yang tidak koheren dan self-defeating. Klaim dari scientism sendiri bukanlah klaim sains, dan karena itu tidak dapat dibuktikan di lab, yang pada akhirnya mengontradiksi dirinya sendiri. Sains tidaklah cukup bagi manusia untuk mencari kebenaran. Kita juga memerlukan revelasi untuk mengetahui hal-hal yang manusia tidak akan pernah tahu dengan usahanya sendiri. John Lennox memberikan ilustrasi tentang hubungan antara sains dan revelasi. Sains cuma dapat menginvestigasi hal-hal yang natural, tetapi sains tidak akan pernah dapat menjawab pertanyaan dasar manusia, seperti mengapa manusia diciptakan, natur Allah, dsb. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini cuma dapat kita ketahui melalui revelasi Allah, yaitu bila sang pencipta merevelasikan tujuan dan kehendaknya kepada ciptaan. Kalau tidak ada Tuhan, maka tidak ada alam dan ciptaan, dan tidak ada apapun bagi sains untuk diteliti. Faktanya adalah sains juga membutuhkan iman, karena sains didasarkan atas logika dan tidak ada eksperimen sains yang dapat membuktikan logika. Akibatnya, agar sains masuk akal, sains harus memiliki iman di dalam rasio, dan rasio yang benar secara logika bergantung pada keberadaan dari Allah.  Scientism telah menempatkan dirinya di atas Tuhan, walaupun Tuhan sendiri adalah prasyarat bagi sains. Apa yang sains lakukan sama seerti memotong ranting dimana sains duduk, yaitu self-defeating.

Yang terakhir, selalu ada pertanyaan apakah mukjizat tidak mungkin secara sains. Kalau iya, maka reputasi dari Alkitab yang berisi begitu banyak mukjizat adalah keliru. Ketidakpercayaan sains terhadap Alkitab bermula dari masa Enlightenment di mana mukjizat dipercaya tidak dapat diterima oleh pandangan rasional dan modern dunia. Apakah sains memiliki hak untuk mengkritik mukjizat cuma karena mukjizat tidak mungkin secara sains? Tidak sama sekali. Alvin Plantinga menggambarkan suatu analogi: Kalau kita menjatuhkan kunci mobil, dan cuma mencari kunci tersebut di bawah lampu jalan, itulah sains. Kunci tersebut mungkin jatuh di daerah gelap yang tidak diterangi lampu, yang tidak dapat kita cari. Maka, bukankah irasional untuk mengklaim bahwa tidak ada kunci yang jatuh cuma karena kita mencarinya di daerah terang? Dalam kata-kata Francis S. Collins:

In my view, there is no conflict in being a rigorous scientist and a person who believes in a God who takes a personal interest in each one of us. Science’s domain is to explore nature. God’s domain is in the spiritual world, a realm not possible to explore with the tools and language of science.

Sains tidak dapat menjawab pertanyaan dasar seperti tujuan hidup, moral, dsb. Sekarang kita tahu domain, tempat main, dan batasan dari sains, dan kita dapat lanjut kepada mukjizat. Mukjizat didefinisikan oleh William Lane Craig sebagai suatu peristiwa dimana tidak dapat dihasilkan oleh sebab natural yang sedang beroperasi pada waktu dan tempat dimana peristiwa itu berlaku. Mukjizat bukanlah suatu pelanggaran dari hukum alam seperti didefinisikan David Hume. Mukjizat hanyalah intervensi oleh makhluk supernatural terhadap alam kita. Sebuah apel yang tidak jatuh ke tanah karena kita menangkapnya bukanlah mukjizat, tetapi intervensi. C. S. Lewis memberikan konklusi dengan indah:

But if God comes to work miracles, He comes ’like a thief in the night’… If Nature brings forth miracles then doubtless it is as ’natural’ for her to do so when impregnated by the masculine force beyond her as it is for a woman to bear children to a man. In calling them miracles we do not mean that they are to bear children to a man. In calling them miracles we do not mean that they are contradictions or outrages; we mean that, left to her own resources, she could never produce them.

Hukum alam tidak dilanggar ketika mukjizat terjadi, alam hanya menerima kekuatan intervensi yang diberikan kepadanya. Sekarang kita tahu bahwa sains tidak menyanggah mukjizat. Kita sekarang harus bertanya apakah tujuan dari mukjizat itu sendiri. Saya percaya bahwa Tuhan melakukan mukjizat untuk memberikan bukti bahwa dirinya adalah Tuhan. Logikanya: kalau dia adalah Tuhan pencipta alam semesta, maka dia dapat memerintah alam semesta. Fakta bahwa Yesus mampu untuk melakukan mukjizat mengimplikasikan bahwa dia adalah pencipta alam semesta.

Advertisements
Published in: on September 25, 2009 at 1:31 pm  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://ricksensw.wordpress.com/2009/09/25/sains-vs-agama-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. keren gan blognya, saya follow yah..??hehe..
    nice post gan. mampir donk gan..??
    jutaan traffic blog dari youtube


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: