Sains vs Agama (3)

lanjutan dari Sains vs Agama (1) dan Sains vs Agama (2)

Aku percaya sepenuhnya bahwa ketika kita melakukan sains dengan segala kerendahan hati, sains akan mengarah kepada Tuhan. Ketika kita melihat kedashyatan dan kebesaran desain alam semesta, dengan segala kompleksitas dan keteraturannya, kita akan tertunduk kagum terhadap kejeniusan penciptanya. Ilmuwan yang mempunyai integritas dan kejujuran, akan mengikuti kemanapun bukti-bukti dari sains menunjuk. Bukti-bukti tersebut telah kita lihat mengarah kepada penjelasan supernatural, seperti singularity point dalam Big Bang, Hukum ke-2 termodinamika, dan banyak lagi. Adalah lebih rasional untuk percaya bahwa Tuhan adalah pencipta dari singularity point, dengan energy yang begitu besar dan informasi dalam DNA, daripada percaya kepada teori-teori aneh dan irrasional yang berusaha untuk melebih-lebihkan sains. Menurut pendapatku, sumber segala masalah dalam sains yang tidak percaya pada Tuhan adalah ibu dari segala dosa: Harga diri (Pride). Aku melihat hal yang koheren antara klaim dari sains dan klaim dari Lucifer dalam Yesaya 14:12-15. Keduanya adalah klaim harga diri, Lucifer menyombongkan keindahannya dan ingin mengagungkan dirinya lebih dari penciptanya, sedangkan Scientism menyombongkan penemuan-penemuannya dan ingin mengagungkan dirinya lebih dari pencipta sains itu sendiri. Sains menemukan teori Big Bang, teori evolusi, dll, tetapi yang membedakan adalah interpretasinya. Ilmuwan yang dikuasai pride akan menginterpretasikannya sebagai kesuksesan sains dan menyingkirkan Tuhan karena mereka mengklaim bahwa mereka telah dapat menjelaskan segala sesuatu dan mereka tidak memerlukan Tuhan sebagai penjelasan. Di lain pihak, ilmuwan yang rendah hati akan menginterpretasikannya sebagai kedashyatan dan keindahan ciptaan dari Tuhan, yang membuat mereka kagum pada penciptanya. Ketika Human Genome Project selesai, Bill Clinton dalam pidatonya berkata:  “Today, we are learning the language in which God created life. We are gaining ever more awe for the complexity, the beauty, and the wonder of God’s most divine and sacred gift.” Setelah itu, pemimpin dari projek itu, Francis S. Collins menambahkan: “It’s a happy day for the world. It is humbling for me, and awe-inspiring, to realize that we have caught the first glimpse of our own instruction book, previously known only to God”. Sekali lagi, scientism jatuh pada dosa pride dan pemberontakan manusia terhadap Tuhan.

Kesimpulannya, ‘konflik’ antara sains dan agama bukanlah konflik antara kebenaran. Ini adalah konflik di dalam lubuk hati manusia yang memberontak pada Tuhan atau menunduk pada Tuhan. Ini adalah sekali lagi perang klasik antara ibu dari segala dosa (Pride) melawan ibu dari segala virtue (Humility). Tuhan menciptakan kita dengan pikiran sains yang membuat kita mampu untuk melihat keajaiban ciptaannya. Sains tidak seharusnya melewati batasnya, karena kalau demikian itu bukanlah lagi sains. Pride dalam sains hanya akan membawa kita kepada kehancuran, sedangkan humility dalam sains akan mengarahkan kita kepada pencipta kita.

“If Scientific equations are a form of poetry written by Nature’s creator, then scientific discovery is an act with spiritual overtones.” – C. N. Yang.

“Science without religion is lame, religion without science is blind” – Albert Einstein.

Advertisements
Published in: on December 11, 2009 at 3:35 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://ricksensw.wordpress.com/2009/12/11/sains-vs-agama-3/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: