Perbudakan

Manusia mempunyai jiwa dan tubuh. Jiwa manusia memberikan kemampuan untuk berpikir rasional. Perbudakan dimulai dari perbudakan jiwa oleh tubuhnya sendiri. Ini berarti segala tindakan seseorang dikuasai oleh tubuhnya, dan bukan oleh jiwa dan pikiran rasionalnya, yang mengakibatkan seseorang bertindak hanya berdasarkan insting dan perasaan, seperti layaknya hewan. Manusia memang berada dalam kategori hewan, tetapi manusia mempunyai jiwa yang lebih superior yang membuatnya mampu untuk berpikir rasional. Salah satu contoh dari manusia yang jiwanya mampu memperbudak tubuhnya adalah ketika dia melakukan puasa. Untuk makan ketika lapar adalah insting hewan, tetapi yang dapat menaklukkan insting badaniah ini membuktikan bahwa tubuhnya dikontrol oleh jiwanya. Dengan ini, disimpulkan bahwa manusia yang menekan pikiran rasio-nya dan bertindak “natural” sebenarnya berada di bawah perbudakan.

Dengan demikian, manusia yang menggunakan pikiran rasionalnya adalah superior, dan mereka dapat memanfaatkan saudara-saudaranya yang diperbudak oleh tubuh mereka sendiri. Mereka dapat memperlakukan saudara-saudaranya ini yang diperbudak secara internal sebagai suatu benda/properti. Ini seperti manusia yang memelihara ternak untuk mengambil keuntungan darinya. Seekor sapi dibesarkan di peternakan untuk diambil susu dan dagingnya, dan mereka tidak akan memberontak atau berusaha kabur, walaupun mereka telah  melihat saudara-saudari mereka disembelih. Sapi-sapi tersebut tidak peduli dan hanya menerima nasibnya. Dengan cara yang sama, ketika diperbudak secara fisik, manusia yang diperbudak oleh tubuhnya sendiri akan menjadi putus asa dan tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, manusia yang jiwanya memperbudak tubuhnya akan merencanakan pemberontakan untuk meraih kebebasan. Mereka memilih mati dalam kebebasan daripada hidup dalam belenggu perbudakan.

Perbudakan fisik adalah tindakan yang tidak manusiawi dan telah sebagian besar dihapus, walaupun perbudakan ilegal masih ada sampai sekarang. Tetapi, di abad ke-21 ini, apakah masih ada perbudakan jiwa sendiri? Kita cukup melihat apakah manusia saat ini berpikir dan mempunyai alasan untuk apa yang mereka lakukan. Bagaimana dengan mereka yang diperbudak oleh online game? Bukankah sangat jelas bahwa online game hanya membunuh waktu mereka yang berharga? Tidak ada alasan bagus bagi seseorang untuk kecanduan dan diperbudak oleh game. Ini bukan berarti bahwa bermain game itu jahat. Kalau kita bermain game sebagai sarana untuk mencapai akhir yang lain, dengan kesadaran, tentu saja baik. Akhir yang dimaksud disini misalnya untuk relaks dan mengisi energi untuk lebih produktif melakukan hal lain setelahnya. Kalau kita bermain game sebagai akhir itu sendiri, tanpa kesadaran, bukankah itu kebodohan? Bagaimana dengan kegiatan di sekolah/universitas? Kalau seorang murid belajar hanya karena dia ingin mendapatkan gelar, hanya karena teman-temannya di sana, hanya karena jurusan itu yang paling mudah, hanya karena dengan gelar yang akan diraih memberikan dia pride, tanpa alasan yang rasional, itu adalah perbudakan. Ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa pertimbangan rasional dan kesadaran penuh akan apa yang dia lakukan, bukankah itu perbudakan karena dia tidak berbeda dari hewan?

Aku belajar sains bukan karena kedengarannya keren, bukan karena aku terjebak di dalam bidang ini sejak universitas, itu semua karena aku ingin berkontribusi terhadap kemajuan sains dunia, mengeksplorasi keajaiban ciptaan tangan Tuhan di dunia ini. Aku menjadi seorang Kristen bukan karena aku terbiasa dengannya sejak Sekolah Dasar, bukan karena banyak temanku yang juga Kristen, bukan karena itu memberikanku emotional support/spiritual bolster, bukan karena aku ingin menemukan komunitas untuk berinteraksi, itu semua karena aku menemukan bahwa kekristenan itu benar. Aku pergi ke gereja bukan karena aku seorang Kristen, bukan karena mengikut-ikut orang lain, bukan untuk menghindari perasaan bersalah, bukan karena kebiasaan, bukan karena aku tidak punya hal lain untuk dilakukan saat weekend, itu semua karena aku ingin bersekutu dengan Kristus bersama dengan saudara seiman lain. Aku bekerja sebagai researcher bukan karena tidak ada pekerjaan lain, bukan karena gajinya tinggi, bukan karena aku ingin menabung untuk pensiunan, itu semua karena aku menyukai research dan melaluinya aku dapat berkarya. Aku menulis post tentang perbudakan ini bukan karena aku tidak ada kerjaan, bukan karena aku suka menulis, itu semua karena aku ingin menghapus perbudakan jiwa. Ada alasan untuk segala sesuatu bukan?

Walaupun perbudakan fisik telah dihapus, perbudakan jiwa sendiri (yang merupakan bentuk perbudakan pertama dan paling simpel) tetap ada. Untuk dapat bebas dari perbudakan jiwa sendiri ini, kita perlu mengusir tubuh kita dari kursi pemerintahan, dan mulai mengangkat kembali jiwa kita untuk memerintah tubuh kita. Kalau tidak, kita tidak berbeda dari hewan lain. Ketika kita melakukan ini, kita akan menemukan alasan rasional untuk apapun yang kita lakukan. Kita bertindak bukan lagi berdasarkan insting hewan, tetapi berdasarkan pertimbangan rasional jiwa kita. Dengan ini, kita bebas.

Advertisements
Published in: on December 20, 2009 at 5:00 pm  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://ricksensw.wordpress.com/2009/12/20/perbudakan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. Totally agree..thanks for the insight, GBU


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: