Kehidupan Faithless

Faithless adalah seorang murid brillian dan dia baru saja mendapatkan gelar doktoratnya dari University of Pure Reason & Anti-Faith yang sangat terkenal. Tesisnya mendukung evidentialism, yaitu pandangan bahwa setiap kepercayaan selalu memerlukan dukungan dari bukti-bukti dan bukan iman. Dia selalu yakin bahwa iman tidak ada gunanya di dunia ini… dan misinya adalah untuk menyadarkan dunia tentang kesalahan iman. Untuk mulai meniti karirnya menghancurkan iman dari dunia ini, Faithless mendaftar untuk posisi sebagai dosen untuk fakultas University of Evidentialism. Dia sangat yakin deretan panjang penghargaan dan publikasinya akan membuat dia diterima di universitas ternama tersebut. Dan dia mendapatkannya.

Memulai hidup barunya sebagai seorang dosen disana, Faithless berencana untuk menghancurkan setiap iman yang dia punyai sebelumnya. Sepulangnya dia dari hari pertama kerja, dia bertemu dengan orangtuanya. Dia mulai verpikir apakah mereka itu betul-betul orangtuanya. Dia mendesak mereka untuk melakukan tes DNA. Mereka begitu sedih akan hal ini, tetapi dengan penuh kasih pergi bersama dengan anak tercintanya ke klinik terdekat. Setelah 3 hari, hasilnya keluar dan hasil tes DNA terhadap orang tua Faithless dan Faithless sendiri membuktikan bahwa Faithless adalah anak biologis mereka. Faithless masih tidak percaya akan hal ini, dia tidak mempunyai iman terhadap dokter tersebut dan mendesak dokter itu untuk mengajari dia bagaimana untuk melakukan tes DNA tersebut agar dia dapat melakukannya sendiri. Tentu saja dokter tersebut marah dan menolak permintaannya yang aneh. Faithless tidak mempunyai pilihan, dan dia bahkan semakin kehilangan iman nterhadap orangtuanya. Dia takut bahwa “orangtuanya” mengadopsi dia dan membesarkan dia sejak kecil agar dapat menjual dia di pasar malam suatu saat, dan setelah tes DNA dia semakin takut “orangtuanya” akan membius dia dan menjualnya malam itu juga. Dengan paniknya, dia lari dari pria dan wanita yang merawat dia selama lebih dari 2 dekade.

Selanjutnya dia berencana untuk menyewa sebuah kamar dekat tempat kerjanya. Untuk menghemat uang akomodasi, dia menyewa ruangan itu bersama orang lain dalam suatu double room. Dia cukup senang dengan lingkungan yang baru. Akan tetapi, di malam pertama dia tinggal dengan orang lain, dengan lampu ruangan yang remang-remang untuk tidur, dia tidak dapat tidur. Matanya terbuka, mengamati teman sekamarnya, takut bahwa “teman” barunya itu akan membunuh dia malam itu. Dia tidak tahan terhadap perasaan takut ini dan dia segera pindah ke hotel terdekat. Keesokan harinya, dia menyewa kamar studio, dan dia pikir dia akan merasa lebih aman ketika tidur. Tetapi, malamnya, dia masih takut bahwa akan ada orang yang mendobrak pintu dan menembak dia. Dia kesulitan untuk tidur karena dia tidak mempunyai iman bahwa dia akan dapat membuka matanya besok. Sebangunnya dari “tidurnya” semalam, keesokan paginya dia pergi ke kafe untuk mendapatkan sarapan pagi favoritnya, Egg & Ham Breakfast. Oops! Dia sadar bahwa sarapan ini mungkin mengandung racun dan dia akan mati karenanya. Dia membungkus sarapannya dan membawanya ke laboratorium terdekat untuk mengecek apakah aman untuk memakannya. Hasil laboratorium menyatakan negatif terhadap bahan kimia berbahaya, tetapi dia masih tidak mempunyai cukup iman terhadap hasilnya. Dia mengambil sebagian porsi sarapannya dan memberikannya kepada seekor kucing, dan mengamati apakah dia akan mati atau mengalami suatu gejala aneh. Setelah mengikuti kucing itu selama 1 jam dan tidak ada yang terjadi, dia mulai makan sarapannya dengan lega. Selanjutnya, dia pulang ke rumah untuk mempersiapkan mengajar bahan kuliah nanti sore.

Setelah siap untuk mengajar topik tentang The Fall of Faith, dia menunggu bus menuju kampus. Setelah busnya datang, dia memperhati busnya dan pengemudinya.

Faithless: Hei bang, apakah engkau telah memeriksa semua tas penumpang dan kartu identitas mereka, supaya yakin bahwa mereka tidak membawa bom atau senjata untuk membajak bus ini?

Bus Driver: Hah?! Kalau mau naik bus, cepatlah naik!

Faithless: Iya, aku juga mau melakukannya, tapi aku tidak mempunyai iman untuk percaya bahwa tidak ada bomb atau pembajakan yang akan terjadi selama perjalanan. Apakah engkau bisa tolong memeriksa seluruh penumpang?

Bus Driver: Hei, aku rasa engkau seharusnya naik bus nomor 51 menuju rumah sakit jiwa, tidak jauh dari sini kok. Kalau engkau tidak naik sekarang, aku akan pergi!

Faithless: Oh… baiklah, hanya kali ini saja… Aku hampir terlambat untuk mengajar kuliah.

Faithless mengambil tempat duduk dibelakang 2 laki-laki yang sedang berdiskusi tentang rasio. Dia tertarik akan diskusi ini dan mengenalkan diri kepada mereka, yang bernama Anti-Reason dan Christian.

Anti-Reason: Yah, bergabunglah dalam diskusi kami, kami sedang mendiskusikan tentang peran dari reason dalam sistem kepercayaan.

Faithless: Baiklah, jadi apakah posisi dan argumen kalian disini?

Christian: Hi Faithless, aku percaya bahwa sistem kepercayaan yang benar didukung oleh rasio. Kalau tidak, jika banyak sistem kepercayaan yang mengklaim kebenaran absolut yang eksklusif untuk mereka sendiri, akan terjadi kontradiksi karena tidak mungkin ada lebih dari 1 kebenaran absolut di dunia ini. Aku mendukung rasio, tetapi juga iman. Aku percaya bahwa reason sendiri tidaklah cukup. Dalam kehidupan sehari-hari, iman sangat diperlukan, tetapi iman haruslah rasional. Aku percaya terhadap iman yang rasional.

Anti-Reason: Dan  aku tidak percaya akan hal itu. Aku sangatlah skeptis tentang rasio. Rasio tidak dapat menggapai kebenaran sama sekali, karena tidak ada kriteria untuk mendapatkan pengetahuan epistemik. Aku mempunyai masalah dengan epistemologi disini, yaitu aku tidak setuju bahwa manusia dapat mengetahu bagaimana dia mengetahu, dan karenyanya manusia tidak dapat mengetahui apapun walaupun dengan membangun argumen melalui rasio.

Faithless: Aku setuju dengan Christian disini bahwa rasio dapat menggapai kebenaran, tetapi aku tidak setuju dengannya bahwa iman itu adalah harus. Dan untukmu, Mr. Anti-Reason, aku percaya bahwa manusia mempunyai suatu set kepercayaan dasar yang begitu jelas terhadap kita semua, contohnya adalah aku tahu bahwa membunuh orang itu adalah salah dan aku tahu bahwa hukum logika itu benar. Tanpa kepercayaan dasar yang membentuk kriteria untuk mensortir pengetahuan, kita tidak akan mempunyai apapun untuk dipakai.

Anti-Reason: Yah, aku juga berpikir bahwa kita tidak mempunyai apapun untuk dipakai dan kita tidak dapat mengetahui apapun.

Christian: Mr. Anti-Reason, aku setuju dengan Mr. Faithless disini bahwa kita mempunyai suatu set kepercayaan dasar yang begitu helas. Kita tidak harus tahu bagaimana kita tahu mereka. Aku tidak setuju terhadap paham skeptismu akan rasio karena pandangan skeptis tidak dapat dipertahankan. Faktanya, pandangan skeptis itu self-defeating. Bagaimana kita dapat tahu bahwa tidak ada apapun yang dapat diketahui jika engkau tidak mempunyai kepercayaan dasar untuk membangun argumen? Bagaimana engkau dapat tahu bahwa kita tidak dapat tahu bagaimana kita tahu?

Anti-Reason: … Yah, engkau benar, Mr. Christian. Aku tidak tahu bagaimana membuktikannya, tetapi aku cuma tahu dan percaya. Aku rasa itu adalah imanku.

Faithless: Iman? Tidak, aku tidak setuju akan iman. Kalau engkau tidak dapat mempertahankan posisimu tanpa rasio, posisi itu pasti salah.

Christian: Aku setuju akan iman, tetapi hanya iman yang rasional. Mr. Anti-Reason, apakah engkau mau memegang iman akan sesuatu yang illogika dan irasional?

Faithless: Aku tidak akan mempunyai iman akan kedua kasus tersebut, Mr. Christian, rasional ataupun irasional tidak ada bedanya.

Bus tersebut telah sampai di University of Evidentialism. Faithless mengucapkan selamat tinggal kepada kedua teman barunya, dan dia masuk ke lecture theatre. Dia memberikan 2 jam pelajaran penuh semangat tentang The Fall of Faith kepada murid-muridnya. 1 jam selanjutnya adalah sesi diskusi. Seorang murid brilian, Faithful, mengajukan pertanyaan kepadanya.

Faithful: Dr. Faithless, aku mempunyai sanggahan terhadap sanggahanmu terhadap iman. Dalam pelajaranmu, engkau membangun argumen menghancurkan iman menggunakan rasio, tetapi bagaimana engkau tahu bahwa rasio kita itu rasional? Bagaimana kita tahu bahwa setiap fakultas rasio dari manusia itu bekerja dengan baik dan mereka semua membangun argumen yang sama?

Faithless: Apa yang engkau maksud Faithful? Bisakah engkau memfrasekan ulang kata-katamu?

Faithful: Yang aku  maksud adalah apakah kita dapat percaya bahwa fakultas rasio manusia itu dapat dipercaya. Bukankah untuk percaya akan hal tersebut adalah iman? Jika ya, maka kita mempunyai iman terhadap fakultas rasio, dan kita menggunakan fakultas rasio untuk menghancurkan iman. Bukankah itu seperti memotong dahan dimana kita sedang duduk? Bukankah itu self-defeating? Selanjutnya, engkau menyebutkan bahwa kita dapat mendapatkan pengetahuan epistemik dengan mempunyai suatu set kepercayaan dasar yang membentuk suatu kriteria untuk pengetahuan. Jika kita tidak dapat membuktikan mereka dengan rasio, maka kita menerimanya dengan iman bukan?

Faithless: Betul, tepat sekali Mr. Faithful. Akan teteapi, mereka terlalu jelas untuk kita terima. Tanpa mempercayai mereka dan menjadi mereka presupposition, kita tidak dapat membangun argumen apapun dan kita tidak dapat mendapatkan pengetahuan. Aku tidak mengkategorikan mereka sebagai iman, tetapi sebagai presupposition yang rasional.

Faithful: Tetapi itu tergantung definisimu tentang iman. Jika kita bicara tentang iman dalam kehidupan sehari-hari, aku mendefinisikan iman sebagai mempercayai sesuatu yang lebih rasional dibandingkan percaya kepada sesuatu yang lebih irasional, contohnya aku akan mempunyai iman bahwa ketika aku tidur, aku akan bangun keesokan harinya. Akan tetapi, jika kita bicara tentang iman akan hal supernatural, aku mendefnisikan iman sebagai sesuatu yang kita tahu adalah benar, walaupun bukti-buktinya tidak dapat dikunci dengan rasio. Aku pikir ini adalah karena kepercayaan tersebut memerlukan iman yang jatuh di luar perbatasan rasio, dan bukan karena rasio itu tidak dapat dipercaya. Rasio dalam hal ini dapat dipercaya walaupun terbatas. Dan tentu saja untuk percaya akan presupposition adalah suatu iman bukan?

Faithless: … Engkau telah memberikan argumen yang berat, Mr. Faithful, aku sangat menghargainya dan aku akan memikirkan lebih lanjut lagi tentang hal ini. Kita akan mengakhiri pelajaran untuk hari ini dan kita akan bertemu kembali minggu depan.

Faithless merasa tidak nyaman tentang posisinya akan iman setelah selesai pelajaran. Dia pikir Faithful benar bahwa dia sebenarnya mempunyai iman tentang kepercayaan dasar dan fakultas rasio manusia. Secara pragmatis, dia juga merasa tidak nyaman menjalani hidup tanpa iman sama sekali, yaitu dia merasa sulit untuk tidur dan makan. Dia setuju sekarang dengan Mr. Faithful bahwa setiap manusia mempunyai iman. Dia berencana untuk memberikan pelajaran berjudul “Hidup adalah iman” untuk minggu depan. Faithless senang sekarang bahwa dia tidaklah lagi tidak berima dan dia dapat menikmati hidup yang beriman, dan tentu saja iman yang rasional.

Advertisements
Published in: on February 13, 2010 at 4:04 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://ricksensw.wordpress.com/2010/02/13/kehidupan-faithless/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: