Iman versus Rasio

Banyak orang yang membuat dua hal ini (iman dan rasio) menjadi hal yang bertolak belakang satu sama lain. Ketika kita beriman terhadap sesuatu maka kita membuang semua rasio kita. Ketika kita menggunakan rasio kita maka iman kita pudar. Apakah benar bahwa iman adalah iman buta tanpa dasar rasio? Apakah rational faith adalah suatu oxymoron?

Bayangkanlah kita mempunyai suatu penyakit parah dan perlu dioperasi. Operasi ini cukup sulit dilakukan dan banyak dokter ahli yang gagal melakukannya. Apakah yang akan kita lakukan? Karena kita ingin sembuh dan mempertahankan hidup, maka kita akan mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang penyakit ini dan mencari dokter terbaik yang paling ahli dalam penyakit ini. Akhirnya kita menemukan informasi tentang seorang dokter yang terkenal ahli melakukan operasi ini. Dia menjamin hasil operasinya akan 100% berhasil walaupun dokter-dokter yang lain tidak berani menjamin sedikitpun. Teman-teman kita juga ada beberapa yang pernah terkena penyakit ini dan memberikan kesaksian tentang kesembuhan mereka lewat dokter ini. Dengan berbagai informasi ini kita akhirnya datang mencari sang dokter.

Demikian jugalah ketika kita ingin mencari Tuhan yang benar, maka kita perlu mencari tahu tentang Tuhan mana yang bisa menyembuhkan penyakit kita (yang tidak lain adalah dosa). Lewat banyak argumen-argumen yang mendukung dan kesaksian-kesaksian orang yang telah dipulihkan, kita menggunakan rasio kita ketika memilih sang dokter untuk menyembuhkan kita. Inilah peran rasio, yaitu memilih Tuhan yang masuk akal, benar, menerangkan, menyembuhkan, dan mengubah hidup.

Selanjutnya, kita menetapkan dokter ini untuk melakukan operasi pada kita maka kita. Ketika kita diberikan perawatan awal yang mungkin menyakitkan kita, kita punya iman bahwa ini adalah untuk kebaikan kita. Ketika kita dibius, kita menaruh iman pada apapun yang akan dilakukan dokter ini ketika operasi berjalan.

Demikian jugalah ketika kita telah memilih Tuhan yang benar dengan rasio kita, kita menaruh iman sepenuhnya pada Tuhan ini untuk mengoperasi kita dan menyembuhkan dosa kita. Mungkin kadang kita tidak tahu alasan di balik beberapa hal yang terjadi pada kita (misalnya penderitaan), doa yang belum dijawab, etc. tetapi kita menaruh iman bahwa segala sesuatu adalah untuk kebaikan kita dan ada waktunya sendiri dari Tuhan. Ini semua karena pengetahuan dan hikmat Tuhan jauh diatas kita sehingga tentu banyak hal yang tidak kita mengerti. Kalau kita mengerti semua hal maka “Tuhan” bukanlah Tuhan. Sama seperti pengetahuan dan pengalaman dokter (dalam analogi sebelumnya) tentang penyakit tersebut jauh melebihi kita. Inilah peran iman, yaitu berserah sepenuhnya.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6)

Inilah rational faith, yaitu iman dan rasio yang berjalan harmonis (intertwined together).

Iman tanpa rasio adalah seperti orang yang menembak jawaban dalam pilihan berganda (memilih asal dari 5 pilihan a,b,c,d,e) dengan iman bahwa jawaban yang ditembaknya betul. Ada kemungkinan betul tetapi ada juga kemungkinan salah.

Rasio tanpa iman adalah seperti orang yang memilih jawaban dalam pilihan berganda (dengan pertimbangan), tetapi kemudian tidak jadi memilih karena tidak beriman bahwa jawabannya betul (tanpa iman=tanpa perbuatan).

Iman dengan rasio adalah seperti orang yang memilih jawaban dalam pilihan berganda (dengan pertimbangan), dan memilih jawaban tersebut dengan yakin (iman dengan perbuatan).

Advertisements
Published in: on May 7, 2009 at 3:24 pm  Leave a Comment  

Mengapa ada penderitaan (3)

Ketika seseorang sedang menghadapi suatu penderitaan, orang-orang mungkin sering menenangkan dengan berkata bahwa pasti ada suatu hal yang baik dibalik semuanya ini. Mungkin penderitaan tersebut bisa membuat dia menjadi lebih tangguh dalam mental, menjadi lebih dewasa, dan mandiri. Ya, memang penderitaan dapat membawa suatu pelajaran bagi kita.

Tetapi bagaimana dengan penderitaan yang lebih “parah”? Begitu banyak orang yang kelaparan di benua Afrika, atau bagaimana dengan orang yang lahir,hidup, dan mati dalam kemiskinan? Dimanakah Tuhan dalam penderitaan-penderitaan ini? Apakah Tuhan hadir disana dan pernah merasakan penderitaan juga?

Ketika kita menjenguk orang yang sedang sakit, mendengarkan curhat teman yang sedang menghadapi masalah, bukankah kehadiran kita disana jauh lebih penting daripada apa yang kita katakan atau berikan? Seperti itu jugalah di tengah penderitaan dunia, seringkali orang lebih memerlukan kehadiran Tuhan disana.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya. (Matius 10:40,42)

Ini juga menjadi tugas bagi kita untuk hadir dan memberikan bantuan bagi mereka yang menderita, agar hadirat Tuhan benar-benar nyata disana. Kita seringkali cuma melihat banyak penderitaan dunia dan bertanya dimana Tuhan, dan lupa bahwa selain penderitaan juga banyak kebaikan-kebaikan yang ada, yang merupakan bentuk kehadiran Tuhan disana.

Ya, betul Tuhan hadir disana, tetapi dia melakukan lebih dari itu: dia sendiri merasakannya. Aku tidak dapat membayangkan untuk percaya kepada Tuhan yang tidak tahu akan penderitaan-penderitaan yang ada di dunia ini, yang kebal terhadap segala sakit dan penderitaan.  John R.W. Stott menaruhnya seperti ini:

“I could never myself believe in God, it it were not for the cross… In the world of pain, how could one worship a God who was immune to it?”

Yang dia maksudkan disini adalah Yesus yang mati di kayu salib, mengalami penderitaan fisik dan mental yang dashyat, dengan maksud untuk menebus manusia.

Aku pun tidak dapat membayangkan kalau ketika aku menderita, tuhanku berkata: “Salahmu tyuhhh!! Siapa suruh tidak mau menjalankan perintahku, rasain skarang!! Haha!!” Atau tuhan yang berkata: “Engkau menderita? Ketauilah bahwa itu adalah kehendakku, dan itu adalah yang terbaik. Hehe, walaupun aku belum pernah mengalaminya sich =).” Tetapi Yesus berbeda, karena dikala kita menderita dia ada disamping kita untuk menguatkan, menghibur, dan menopang kita. Kita pun dapat curhat masalah itu kepadaNya, karena dia telah mengalami segala bentuk penderitaan dan menang. Ingatlah bahwa dia sendiri pernah merasakan penderitaan  yang jauh lebih parah di kayu salib. Bukankah ini luar biasa? Jawaban Tuhan ditengah penderitaan bukanlah suatu penjelasan karena hal utama yang mereka perlukan bukanlah itu, tetapi Tuhan menjawabnya dengan dirinya sendiri, yaitu lewat kehadiran dan empatinya yang menenangkan banyak jiwa.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.(Yesaya 53:5)

Published in: on May 6, 2009 at 5:22 pm  Leave a Comment  

Pelajaran dari Paradoks Zeno

Achilles akan berlomba dengan seekor kura-kura. Dia yakin sekali akan menang, maka dari itu ketika perlombaan dimulai, dia membiarkan si kura-kura terlebih dahulu selama 5 menit dan barulah dia akan menyusul. 5 menit berlalu… Achilles mulai lari dan berusaha maju ke tempat si kura-kura sekarang. Tapi ketika dia sampai di tempat itu, tentu saja kura-kura sudah membuat beberapa langkah lagi, sehingga untuk menyusulnya Achilles harus menyusul ke tempat kura-kura itu sekarang. Dia sampai ke tempat kura-kura itu, dan sekali lagi si kura-kura sudah melangkah maju dari tempatnya yang tadi sehingga Achilles harus menyusulnya ke tempatnya yang baru sekarang. Yang perlu dilakukan si kura-kura hanyalah tetap melangkah maju dan Achilles hanya bisa menyusulnya (sangat dekat) tapi tidak akan pernah bisa melebihi si kura-kura. Pada akhirnya kura-kura menang.

Moral dari cerita ini:
Jangan membatasi dirimu karena batasmu adalah dirimu sendiri.

Seorang pelari akan memulai suatu lomba 100 m. Dia melihat jalur yang harus ditempuhnya. Untuk menyelesaikan lomba ini dia harus sampai ke titik tengah jalur tersebut (50 m), setelah itu dia akan berlari lagi dan mencapai titik tengah selanjutnya (25 m). Dia semakin mendekati jalur finish, dan dia berlari ke titik tengah selanjutnya (12.5 m). Lalu ke titik tengah selanjutnya (6.25 m) dan dia hampir menyelesaikan perlombaan ini. Dia meneruskan perjalanan menuju setiap titik tengah, tetapi dia tidak pernah mencapai finish karena jaraknya dibagi dua secara terus menerus tidak akan pernah menjadi nol (0 m). Ya, untuk mencapai garis finish dia membutuhkan waktu tak terhingga, tetapi di alam semesta ini tidak ada yang namanya tak terhingga sehingga dia tidak akan pernah dapat mencapai finish.

Moral dari cerita ini:
Ketika engkau setengah-setengah dalam melakukan sesuatu, engkau tidak akan mencapai tujuan akhirnya. Tetapi kalau dari awal si pelari berpikir untuk sampai ke garis finish dan bukan ke titik tengah, maka dia akan mencapai garis finish tersebut. 

Published in: on February 26, 2009 at 5:19 pm  Leave a Comment  

Cinta sejati

Pria: Aku mencintaimu.

Wanita: Ah masa… lebih dari apapun juga?

Pria: Iya, lebih dari apapun juga.

Wanita: Bahkan lebih dari Tuhan sekalipun?

Pria: Hm..tidak, aku lebih cinta Tuhan daripada kamu.

Wanita: nguikz… (>.<) ngambekzzz, huh…jadi kamu tidak mencintaiku dong?

Pria: Bukan begitu, aku mencintai Tuhan lebih dari apapun juga karena dia adalah sumber cinta yang sejati dan kekal. Maka ketika aku mencintai Tuhan, aku juga belajar akan cinta Tuhan padaku yang adalah cinta sejati. Dari sumber cinta inilah aku dapat memberimu cinta yang sejati. Kalau aku meletakkan kamu di atas cinta pada Tuhan, maka cintaku padamu bukanlah cinta sejati melainkan cinta semu yang tidak mempunyai dasar/konsep. Ya, kita cuma bisa belajar konsep cinta dari Tuhan, diluar itu “cinta” bukanlah cinta. Namun ketika aku mencintai Tuhan lebih daripada kamu, aku memiliki dasar/konsep cinta yang sejati dan kekal, yang aku berikan kepadamu. Aku melihat konsep dasar cinta sejati dari Tuhan yang begitu mencintai manusia bahkan berkorban baginya, dan itulah konsep cinta sejati.
Manusia itu mudah jatuh, sehingga kalau kita tidak meletakkan Tuhan sebagai dasar cinta kita, maka “cinta” kita akan jatuh. Tetapi kalau kita meletakkan Tuhan sebagai dasar cinta kita, kita mempunyai tiang penopang kokoh yang bisa kita genggam. Dari tiang penopang inilah mengalir cinta sejati yang menyelubungi kita berdua. Inilah cinta sejati, yaitu cinta segitiga antara aku, kamu, dan Tuhan.
Inilah “paradoks” itu:
Ketika aku mencintai kamu lebih dari Tuhan, sebenarnya aku tidak mencintaimu.
Ketika aku mencintai Tuhan lebih dari kamu, sebenarnya aku mencintaimu.

Published in: on February 14, 2009 at 8:00 am  Comments (1)  

Predestinasi (2)

Hidup akan dianalogikan sebagai sebuah buku disini.

  1. Aku melihat ada sebuah buku berjudul “Hidup Ricksen”. Setiap bab dari buku tersebut adalah 1 tahun hidupku. Buku ini telah tertulis dari awal sampai habis. Namun aku tidak tahu buku itu terdiri dari berapa bab, karena sampai detik ini aku baru bisa membaca sekitar 21 bab, dan buku itu belum bisa kubaca habis. Hanya sang penulis buku (pemberi kehidupan) ini yang tahu berapa jumlah bab yang ada, dan apa isi dari bab-bab tersebut. Kata demi kata dalam buku tersebut harus kulakukan walaupun aku tidak sadar bahwa aku sedang melakukan apa yang telah tertulis di dalam buku tersebut.
    Ini adalah predestinasi tanpa kehendak bebas (free will).
    Dalam predestinasi tanpa kehendak bebas, kita adalah robot yang membaca dan melakukan apa yang telah tertulis dalam buku tersebut. 
     
  2. Aku melihat ada sebuah buku berjudul “Hidup Ricksen”. Setiap bab dari buku tersebut adalah 1 tahun hidupku. Aku sendirilah yang menorehkan tulisan dalam buku ini. Aku melihat bahwa halaman-halaman dibalik Bab 21 masih belum ditulis. Buku ini diberikan kepadaku oleh seorang penulis. Penulis ini juga tidak tahu apa yang akan aku tulis. Penulis ini hanya sekadar memberi kita buku (kehidupan).
    Ini adalah kehendak bebas (free will) tanpa predestinasi.
    Dalam kehendak bebas tanpa predestinasi, sang penulis buku  tidak mempunyai kuasa untuk mengetahui apa yang akan kita tulis.
     
  3. Aku melihat ada sebuah buku berjudul “Hidup Ricksen”. Setiap bab dari buku tersebut adalah 1 tahun hidupku. Aku sendirilah yang menorehkan tulisan dalam buku ini. Aku melihat bahwa halaman-halaman dibalik Bab 21 masih belum ditulis. Buku ini (kehidupan) diberikan kepadaku oleh seorang penulis (pemberi kehidupan). Penulis ini adalah pembuat dan pemilik dari segala buku yang ada. Sang penulis (pemberi kehidupan) ini mahatahu, karena itu dia telah tahu apa yang akan aku tulis dalam buku tersebut dari awal sampai akhir, bahkan sebelum dia memberikan buku itu padaku (sebelum aku hidup). Walaupun aku melihat bahwa buku ini masih belum tertulis habis, penulis ini mampu melihat buku ini telah tertulis penuh olehku.
    Ini adalah predestinasi dengan kehendak bebas (free will).
    Aku sendiri yang menulis buku ini, itulah kehendak bebas. Sang penulis buku mahatahu yang memberiku buku ini juga telah mengetahui isi buku ini dari awal sampai habis, dan dialah yang menciptakan buku yang kutulis ini, itulah predestinasi.

Mari kita definisikan penulis buku (pemberi kehidupan) ini sebagai Tuhan. Tuhan adalah mahakuasa dan mahatahu, maka pilihan kedua gagal karena dalam pilihan ini dia tidak tahu apa yang akan kutulis dalam buku ini. Tuhan juga menciptakan kehidupan agar ciptaannya mengasihi dia secara sukarela, itulah kasih sejati. Maka pilihan pertama juga gagal karena robot tidak bisa memberikan kasih sejati. Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu, dan mahakasih, itulah pilihan ketiga (predestinasi dengan kehendak bebas). Dia mahakuasa karena menciptakan buku itu, mahakasih karena memberikan kehendak bebas pada kita agar kita dapat mengasihi dia, mahatahu karena dia tahu semua yang akan kita tuliskan pada buku itu. Ketika dia memberikan buku itu kepada kita untuk kita tulis (awal kehidupan), dia juga telah melihat buku tersebut penuh oleh tulisan kita. Dan karena dia adalah sang pencipta dari buku ini, maka dia telah mempredestinasikan kita juga memberikan kehendak bebas kita.

Life is full of choices. We have full freedom to choose, yet at the same time the creator of life has known and predestined what we will choose.

 


Published in: on February 8, 2009 at 12:03 pm  Leave a Comment  

Mukjizat

Mukjizat didefinisikan sebagai suatu hal atau tindakan yang berada di luar alam yang natural, atau dengan kata lain berada di area supernatural.

Seperti dalam postingan sebelumnya tentang Supernatural, saya menggunakan analogi tentang daerah pedalaman yang tidak mengetahui adanya dunia luar. Kargo yang jatuh ke daerah pedalaman tersebut adalah seperti suatu mukjizat bagi mereka, karena menurut pikiran mereka tidak mungkin ada suatu barang yang bisa jauh ke tanah mereka dari atas (karena mereka belum tahu adanya pesawat) atau mungkin mereka menganggapnya jatuh dari surga. Begitu juga halnya dengan kita yang berada di alam natural, mendengar cerita atau kesaksian dari orang-orang tentang adanya mukjizat. Mereka mungkin “kejatuhan kargo” (mendapatkan kesembuhan ajaib, dll) yang menurut mereka tidak bisa terjadi di alam natural ini. Dalam postingan sebelumnya tentang Supernatural telah diberikan argumen tentang adanya suatu hal yang supernatural. Kalau hal ini benar maka mukjizat bukanlah suatu hal yang tidak masuk akal.

Kalau benar ada Tuhan yang menciptakan alam natural, maka dia tentunya dapat bertindak di alam natural dan supernatural. Maka kita pun bertanya: “Kalau Tuhan yang menciptakan alam, berarti hukum alam adalah ciptaannya, tetapi bukankah mukjizat menentang hukum alam?” Kalau hal ini benar maka Tuhan menyangkal hukum yang dibuatnya sendiri. Tetapi hal ini tidaklah benar, dan C.S. Lewis menggunakan analogi yang bagus:

Kita mempunyai sebuah kotak. Setiap hari kita menaruh 1 buah bola kedalamnya. Pada hari yang ketiga, menurut hukum alam terdapat 1+1+1=3 buah bola. Tetapi ketika kita melihatnya ternyata hanya terdapat 2 buah bola saja. Apakah hukum aritmatika gagal dalam hal ini (1+1+1=2) ? Ternyata seseorang mengambil 1 bola pada malam sebelum kita melihatnya, dan kita tidak tahu akan hal tersebut. Dalam hal ini yang kita ketahui dan lihat adalah hukum aritmatika dilanggar (1+1+1=2), akan tetapi kita tidak tahu bahwa dalam kasus sebenarnya hukum aritmatika tidak dilanggar (1+1+1-1=2). Dalam hal ini terjadi suatu intervensi dari manusia (yang mengambil 1 bola tersebut). Tetapi ketika kita memperbesar lingup analogi ini, intervensi tersebut berasal dari Tuhan. Dengan demikian mukjizat adalah intervensi Tuhan terhadap alam natural kita yang tidak melanggar hukum natural.

Karena mukjizat berada di daerah supernatural, maka tentu saja para ilmuwan yang bekerja di daerah natural tidak dapat meneliti apalagi menyangkalnya.

Dalam sejarah dunia paling sedikit terdapat 1 mukjizat yang telah terjadi. 1 Mukijizat yang pasti terjadi itu ada 2 kemungkinan (yang satu pasti betul dan yang satu pasti salah):

  1. Mukjizat pertama:
    Sekitar tahun 6 SM lahir seseorang bernama Yesus yang dipercayai memenuhi seluruh nubuat dari kitab orang Yahudi. Menurut orang-orang dia lahir dari seorang perawan bernama Maria. Dia mengaku sebagai anak Allah dan dia dengan berani menyatakan hal itu kepada semua orang, yang pada zaman itu dianggap sebagai suatu penghujatan besar terhadap Allah orang Yahudi, sampai akhirnya dia hampir dirajam batu sampai mati. Dia dipercayai melakukan banyak mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit, memberi makan 5000 ++ orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan, berjalan di atas air, dan masih banyak lagi. “Anak Allah” ini mengatakan ia diutus oleh Bapanya untuk menjadi korban bagi orang-orang berdosa di dunia sehingga manusia bisa diselamatkan melalui dirinya. Ia mempunyai 12 murid yang selalu bersamanya, dan 1 murid bernama Yudas Iskariot berkhianat padanya. Menurut kitab yang dituliskan murid lainnya, Yesus sendiri sudah tahu bahwa ia akan dikhianati. Pada akhirnya “Anak Allah” ini disalibkan dan mati. Konon ia bangkit dari kubur pada hari ketiga, dan naik ke surga yang disaksikan oleh 500-an orang.
    Mukjizat ini adalah kedatangan Allah untuk berkorban bagi manusia, menebus dosanya, agar manusia yang percaya bisa didamaikan dengan Allah dan diselamatkan.
     
  2. Mukjizat kedua:
    Mukjizat ini menyatakan Yesus bukan Anak Allah dan dia tidak bangkit dari kematian. Murid-murid Yesus (yang berprofesi nelayan) yang putus asa setelah kematian gurunya, mencuri mayat gurunya itu (yang kuburnya dijaga ketat) dan mengarang kitab tentang kebangkitannya, semata untuk mendapatkan pengikut. Setelah itu mereka dengan semangat luar biasa menceritakan kebohongan ini. Ternyata cerita bohongnya ini sukses dan mereka mendapatkan banyak sekali pengikut dari kebohongan ini. Mereka juga berhasil menghasut 500 orang untuk bersekongkol sebagai saksi dari kenaikan Yesus ke surga. Paling sedikit 10 dari 12 murid ini mati sebagai martir (dibakar, disalib, disiksa, dll) hanya untuk melindungi cerita bohong ini. Para pengikut cerita bohong ini terus bertahan sampai sekarang (yang menurut data tahun 2005, 33% penduduk dunia ditipu oleh cerita ini), dan terlebih lagi menurut sejarah ada jutaan orang yang dimartir mempertahankan cerita bohong ini.
    Mukjizat ini adalah kedashyatan cerita bohong yang dikarang oleh 12 orang tidak terdidik, dan cerita bohong ini membuat pengarangnya sendiri beserta jutaan orang pengikut cerita bohong ini rela dimartir. 

Di antara 2 mukjizat yang terjadi ini hanya 1 yang betul. Mana yang menurutmu betul?

Published in: on January 28, 2009 at 9:39 am  Leave a Comment  

Supernatural

Supernatural? Definisi yang akan kita gunakan untuk kata ini adalah sesuatu yang berada di luar natural (alam), contohnya seperti mukjizat.

Dunia ada beserta segala penghuninya, termasuk kita manusia. Apakah kita cuma sekadar ‘binatang dengan volume otak besar’ yang menguasai bumi ini? Hasil evolusi yang paling sukses untuk bertahan di alam? Kalau itu benar berarti segala sesuatu yang ada adalah hal natural. Apakah ada sesuatu yang di luar alam atau sesuatu yang supernatural itu?

Sekarang asumsikan bahwa tidak ada hal yang supernatural, yaitu segala sesuatunya berada dalam sistem alam (natural). Hal ini bisa dianalogikan seperti orang yang tinggal di daerah pedalaman, terisolasi dari dunia luar. Orang-orang di daerah pedalaman itu tentu saja tidak akan pernah tahu bahwa ada peradaban di luar daerah/pulau  mereka. Mereka berpikir bahwa dunia itu hanyalah sebatas tempat kecil dimana mereka berdiam. Pada suatu hari masyarakat di daerah tersebut melihat sebuah benda kotak besar jatuh. Mereka berpikir bahwa ini adalah hadiah dari Tuhan, padahal kejadian sebenarnya adalah ada pesawat barang yang secara tidak sengaja menjatuhkan kargo mereka. Pada suatu hari ada seorang dari perkotaan modern yang memberitahu mereka tentang adanya dunia luar selain wilayah mereka, membukakan pikiran mereka.

Kargo itu adalah mukjizat bagi mereka, sesuatu yang di luar ‘dunia’ mereka. Dan mereka tidak akan pernah tahu dari mana asal-usulnya sampai ada orang perkotaan modern  yang pergi ke sana dan memberitahu mereka tentang dunia luar.

Sekarang mari memperbesar lingkup analogi ini. Di dunia ini, kita seperti orang di daerah pedalaman itu, dimana pedalaman adalah dunia natural kita. Barang kargo yang jatuh di daerah pedalaman tersebut adalah seperti mukjizat yang beberapa orang alami atau dengar atau lihat atau bahkan rasakan.

Kalau seandainya dunia luar tersebut tidaklah ada, maka tentu tidak pernah akan ada orang yang membicarakannya karena mereka tidak tahu apa-apa sama sekali. Begitu juga kalau seandainya hal supernatural tidak ada, maka tidak akan pernah kita bicarakan atau dengar tentang hal supernatural (dan tidak ada tulisan yang sedang engkau baca saat ini). Hal ini disebabkan karena orang daerah pedalaman tersebut tidak mempunyai kabar apapun dari dunia luar, kecuali kargo jatuh yang mungkin dapat membuat mereka berpikir tentang adanya dunia luar. Tetapi kargo jatuh saja tidaklah cukup meyakinkan. Kalau ada orang perkotaan modern yang datang memberitahu mereka barulah mereka yakin bahwa ada orang lain di luar ‘dunia’ mereka. Dan orang perkotaan modern yang datang ke pedalaman tersebut untuk menceritakan tentang dunia luar tidak lain adalah Tuhan yang memberitahu kita tentang hal supernatural (surga, neraka, pengorbanan, dsb). 

Bedakanlah mitos yang beredar di daerah pedalaman tersebut dengan ‘dunia luar’ yang benar-benar ada. Mungkin ada mitos di daerah pedalaman tersebut tentang adanya monster, burung besi (kita tahu itu pesawat), dewa marah, atau mitos apapun yang beredar di wilayah mereka. Hal tersebut tidaklah dapat dipercaya. Begitu pula halnya sistem kepercayaan yang dibentuk oleh dunia natural kita tidaklah dapat dipercaya karena kita belum dapat melihat/pergi ke dunia luar itu. Harus ada seseorang dari ‘dunia luar’  tersebut yang memberitahu kita tentang ‘dunia luar’ (hal supernatural) itu. Sepertinya sejarah cuma mencatat 1 orang yang mengaku berasal dari Kerajaan Surga, 100% Tuhan dan 100% manusia, datang ke bumi untuk mati, menebus dan menyelamatkan manusia, menyebarkan kabar baik, melakukan banyak mukjizat, dan menyadarkan kita tentang adanya hal supernatural seperti mukjizat, surga, neraka, dll.

Published in: on January 22, 2009 at 3:14 pm  Leave a Comment  

Hukum

Dimana-mana negara membuat hukum dan peraturan untuk meregulasi masyarakatnya. Darimana mereka mendapatkan ilham untuk menyusun hukum negara tersebut? Sesuatu untuk membuat hidup manusia baik, bahagia, teratur?

Bagaimana dengan Jerman pada zaman perang dunia? Jerman dibawah Hitler membuat hukum negaranya sendiri, mendidik anak-anak muda di sekolah bahwa ras Arya adalah yang paling unggul, dan bahwa diperlukan pemurnian ras agar diciptakan manusia yang paling unggul. Negara ini membuat rakyatnya membunuh begitu banyak orang Yahudi agar ras mereka menjadi yang paling unggul. Apakah itu hukum?

Kalau hukum adalah sesuatu yang relatif, apakah yang mendorong negara-negara di seluruh dunia untuk mengutuk dan maju mengadili Jerman pada saat itu? Sepertinya seluruh dunia setuju bahwa ada hukum yang objektif, yang bukan diciptakan oleh manusia tetapi ada di dalam hati manusia itu sendiri. Apakah ini adalah salah dari Hitler yang mendidik generasi muda Jerman untuk menyetujui konsep ini? Kalau ini benar maka hukum dibentuk melalui lingkungan, pendidikan, dan kebudayaan. Terlebih lagi orang-orang yang melakukan pembantaian ini tidak bersalah karena hukum mereka menyatakan pemurnian ras(pembantaian) adalah benar. Kalau kita tidak mempunyai hukum yang berada di atas otoritas manusia, maka negara sekutu tidak berhak untuk menyerang Jerman demi menyelamatkan pembantaian. Ya, mereka tidak berhak kecuali kalau mereka datang dalam otoritas hukum universal objektif. Dan dengan adanya hukum inilah kita bisa menyatakan tindakan seseorang benar atau salah. Kalau hukum universal ini absent, sepertinya dunia akan penuh dengan berbagai kriminalitas karena kita bisa melakukan apapun dan menyatakan hal itu sebagai benar menurut hukum kita sendiri. Di Alkitab tertulis:

Roma 2:14-15:
Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.

Ada suatu hukum yang tertulis di dalam hati manusia, hukum Tuhan itu sendiri. Bukankah hal ini juga menunjukkan ada suatu pribadi (memiliki kepribadian) yang menuntut umat manusia untuk menuruti hukumnya yang ditulis di dalam hati mereka? Bukankah kalau begitu pribadi ini adalah pencipta manusia karena hanya penciptalah yang bisa menulis hukum ini dalam hati manusia? Kalau dia adalah suatu pribadi berarti dia ingin mempunyai hubungan pribadi dengan ciptaannya dan mengatur jalannya kehidupan manusia.

Simaklah sebagian dari Declaration of Independence dari Amerika:

We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness. — That to secure these rights, Governments are instituted among Men, deriving their just powers from the consent of the governed, — 

Pemerintah diciptakan untuk menjaga hak manusia yang diberikan Tuhan, bukan untuk membuat hukum yang menyatakan dan megakui hak manusia tertentu. Saat ini karena pandangan relativisme dan subjektivisme, hukum menjadi hancur seperti yang banyak terjadi di berbagai negara. Bukankah sudah saatnya kembali kepada esens dari deklarasi ini?

Published in: on January 19, 2009 at 3:48 pm  Leave a Comment  

Mengapa ada penderitaan (2)

Semua orang pasti setuju kalau dunia ini penuh penderitaan, masalah, bencana, kejahatan, dll. Banyak hipotesis yang diajukan untuk menjelaskan masalah ini. 

Dalam postingan sebelumnya tentang Predestinasi, telah dilihat bagaimana kehendak bebas (Free Will) sejalan dengan predestinasi, sehingga kehendak bebas tidak diragukan lagi. Ketika Tuhan memberikan kehendak bebas kepada kita, dia membuat seorang manusia dan bukanlah seorang robot. Kehendak bebas memungkinkan kita untuk mengasihi Tuhan dengan kerelaan kita, itulah kasih sejati. Kalau Tuhan memaksa kita untuk mencintai dia (tak ada kehendak bebas) maka itu bukankah kasih sejati, dan kita menjadi robot penyembah Tuhan.

Tetapi dengan memberikan kehendak bebas pada kita, berarti kita bisa mengasihi dia tetapi juga bisa memberontak terhadapnya. Kehendak bebas memungkinkan 2 hal: kasih sejati dan pemberontakan. Ketika Tuhan memberikan kehendak bebas kepada kita, tentu saja dia sudah tahu akan konsekuensi ini. Tetapi inilah cara agar manusia bisa mempunyai kehendak bebas sekaligus juga menikmati kekekalan dan kasih Tuhan, yaitu bila dia menuruti kehendak Tuhan. Dan bagi Tuhan sendiri untuk meraih hal ini, dia perlu membayarnya dengan pengorbanan dan penderitaan di kayu salib. Ini adalah jalan terbaik, rancangan besar Tuhan yaitu:

  • Menciptakan manusia dengan kehendak bebas (dengan konsekuensi pemberontakan)
  • Menebus pemberontakan umat manusia (dengan Harga yang harus dibayar-nya di kayu salib)
  • Pada akhirnya, dia menciptakan manusia bebas yang saling mengasihi dengan Tuhan dalam kekekalan.

Analogi yang bisa diambil seperti ini: kita ingin mempunyai hewan peliharaan yang menyayangi kita. Lalu kita pergi ke toko hewan dan membeli seekor anjing. Harga yang harus dibayar adalah makanan, minuman, waktu, risiko digigit, rumah kotor, kabur dari rumah, dll. Tetapi lama kelamaan dengan segenap pengorbanan tersebut, dia akan memberikan kesetiaan kepada kita, melindungi, menyayangi kita. Bukankah ini jauh lebih baik daripada membeli anjing robot Aibo yang “diprogram” menyayangi dan bermain dgn kita?

Sekarang, manusia yang memberontak tersebutlah yang sebagian besar menyebabkan penderitaan manusia lain. Tentu saja kita tidak bisa meminta Tuhan mencabut kehendak bebas seseorang karena dia membuat orang lain menderita. Itu berarti membuang kemungkinan bagi orang tersebut untuk mengasihi Tuhan suatu saat. Yang bisa kita lakukan kalau orang lain membuat sesamanya menderita adalah mendoakannya.

Salah satu tujuan dari penderitaan sendiri adalah membentuk karakter kita (Mengapa ada penderitaan (1)), yaitu mendatangkan kebaikan bagi kita. Ketika mengalami suatu penderitaan bertanyalah: “Bagaimana aku menemukan Tuhan dari pengalaman ini?”

Bagaimana dengan penderitaan yang “sepertinya” tidak ada baiknya, datang tiba-tiba, menjatuhkan kita habis-habisan, dll? Bukankah Ayub mengalami hal ini? Ayub hidup benar di mata Tuhan, tetapi suatu saat dia menderita parah, kehilangan segalanya, dan “tanpa sebab” yang diberitahu Tuhan. Bukankah dia juga meminta Tuhan menjawab kenapa dia menderita? (Ayub 23:1-7, 31:35). Apa jawaban Tuhan atas pertanyaannya?

Tuhan “menjawab” Ayub:

38:4 Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! 
38: 5 Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? –Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya?
38:12 Pernahkah engkau memerintah kepada fajar untuk datang? Atau menetapkan tempat merekahnya? 
38:16 Engkaukah yang turun sampai ke sumber laut, atau berjalan-jalan melalui dasar samudera raya?
38:31 Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik?
38:34 Dapatkah engkau berseru kepada awan agar menurunkan hujan deras? 
40:2 Apakah engkau masih ingin berbantah-bantah dengan Yang Mahakuasa? Hai engkau yang berani mencela Allah, jawablah!”

dan masih banyak lagi jawaban Tuhan. Jawaban Ayub (Ayub 40:3-4):

“Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.”

Tuhan tidak pernah berhutang terhadap kita. Dia tidak diobligasikan untuk menjawab semua pertanyaan kita. Kalau kita tahu akan semua pertanyaan yang Tuhan ajukan pada ayub, sepertinya kita bukan manusia tetapi Tuhan. Ya, akal manusia adalah di bawah akal Tuhan, karena Tuhanlah sumber akal kita. RancanganNya ada di atas rancangan kita. Tuhan adalah pencipta dan kita adalah ciptaannya. Tuhan mengontrol segala sesuatunya dan kita tidak tahu tentang segala sesuatu.

Analoginya: Kalau kita membuat sebuah robot, maka kita mengetahui segalanya tentang robot tersebut karena kitalah yang merancang, mendesain, memprogram robot tersebut. Tetapi apakah robot tersebut tahu tentang kita? Akal pikiran robot tersebut hanyalah sebagian kecil dari akal pikirankita yang kita programkan dalam robot tersebut.

Begitu banyak orang yang telah berusaha mencari jawaban kenapa manusia menderita dengan berbagai teori dan pendapat sehingga penderitaan tampak rasional. Padahal Tuhan telah memberikan “jawaban” yang begitu tegasnya. Jawaban tersebut mungkin tidak menjawab, karena berupa pertanyaan balik. Siapa yang dapat menjawabnya?

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. (Yer 29:11)

Published in: on January 5, 2009 at 3:27 pm  Comments (4)  

Predestinasi (1)

Predestinasi adalah topik yang kontoversial dan hangat dibicarakan. Kalau Tuhan telah mempredestinasikan kita, bukankah kita tidak mempunyai kehendak bebas? Dan kalau kita tidak mempunyai kehendak bebas maka kita tidak bisa mengasihi Tuhan dan kita tidak bertanggung jawab atas dosa kita.

Masalah yang menyebabkan kontroversi dari predestinasi adalah masalah waktu. Tuhan menciptakan waktu, dan dia berada di luar waktu. Kita seringkali sulit memakai kacamata Tuhan yang berada di luar waktu. Itu berarti membayangkan seluruh peristiwa dari awal sampai akhir secara bersamaan. Itu berarti ketika dia menciptakan bumi, dia juga sudah tahu tentang pemberontakan manusia, penebusan dosa, akhir zaman, dan seluruh peristiwa yang berada di dalam lingkup waktu.

Ketika kita naik pesawat terbang dan melihat ke bawah, kita melihat orang lain seperti sebuah titik kecil. Padahal kita tahu bahwa manusia tidak berbentuk titik, tetapi panjang seperti sebuah balok. Begitu juga Tuhan melihat garis waktu dari awal sampai akhir sebagai sebuah titik, yaitu dia melihat seluruh peristiwa secara “bersamaan” karena pencipta waktu berada di luar waktu.

Mari mengambil sebuah analogi dari tayangan film berkategori lakon bebas. Mungkin kita bisa membayangkan Srimulat atau Extravaganza yang cukup terkenal di masyarakat. Film tersebut adalah cerita lawak yang ditonton langsung oleh pemirsa dalam suatu studio. Mereka memainkan peran dan akting sesuai dengan yang skenario yang telah ditetapkan oleh sang sutradara. Improvisasi juga banyak dilakukan untuk menambah humor.

Sekarang Tuhan menciptakan suatu drama berjudul “kehidupan”. Dia telah menyusun pemain-pemainnya dari awal, yaitu Adam dan Hawa. “Sutradara”(Tuhan) ini memberikan kehendak bebas kepada mereka, yaitu mereka boleh melakukan apa saja dalam drama ini sesuai peran mereka. Mereka tidak diikat oleh script seperti kebanyakan film sekarang. Mereka mendapat briefing dari Tuhan tentang peran mereka, namun mereka tidak taat menjalankan peran itu. Hal ini terus berlanjut sampai sang” sutradara” (Tuhan) turut main dalam lakon itu, mengambil peran sebagai seorang “anak sutradara” yang dikirim oleh “sutradara” untuk menebus ketidaktaatan/dosa mereka dalam panggung. Drama ini terus berlanjut sampai sekarang, yang perannya dimainkan oleh kita (aku dan kamu).

Lebih dari itu sang “sutradara” ini adalah sutradara ajaib yang mahakuasa. Dia telah mengetahui seluruh peristiwa yang akan dilakukan para pemainnya dari awal sampai akhir, bahkan sebelum drama itu dimainkan. Hal ini disebabkan karena “sutradara” tersebut adalah Tuhan sang pencipta waktu yang berada di luar waktu. Seperti juga ketika sang sutradara membuat drama ini telah mengetahui segalanya dari awal sampai akhir, begitulah juga Tuhan yang menciptakan bumi telah mengetahui segalanya dari awal sampai akhir. Dan Tuhanlah yang menciptakan suatu titik (yang sebenarnya adalah garis bagi kita) waktu ini, dimana dia telah tahu segalanya, inilah predestinasi. Disebut predestinasi karena sebelum dunia diciptakan dia telah tahu tentang apa yang akan kita perbuat dengan kehendak bebas yang telah diberikannya. Sekarang dapat terlihat suatu hal yang nampak kontradiktif namun tidak, yaitu predestinasi dan kehendak bebas. Kita tetap mempunyai kehendak bebas, namun Tuhan tetap tahu segalanya dari awal sampai akhir.

Sebagai contoh, Tuhan telah tahu apakah si X akan diselamatkan dari maut atau tidak. Hal ini karena di dalam kekekalan (di luar waktu), yang didalamnya termasuk sebelum penciptaan alam semesta dan sebelum si X lahir, Tuhan juga sudah melihat apakah si X dengan kehendak bebasnya akan menerima Yesus sebagai juruselamatnya. Dan karena dialah pencipta alam semesta dari nihil, maka dia telah mempredestinasikan masa depan X ketika dia menciptakan alam semesta dan waktu. Predestinasi dan kehendak bebas berjalan berdampingan.

Lakon Srimulat dan Extravaganza mengundang senyum dan tawa banyak orang. Para pemain memainkan perannya sesuai dengan script yang telah diberikan oleh sang sutradara. Sekarang kita mempunyai script tersebut, yaitu Firman Tuhan/Alkitab. Kalau kita berjalan sesuai dengan script (Firman Tuhan), maka sang “sutradara” akan tersenyum melihat para pemainnya memainkan drama sesuai dengan kehendaknya.

Ephesians 1:4-6
For he chose us in him before the creation of the world to be holy and blameless in his sight. In love he predestined us to be adopted as his sons through Jesus Christ, in accordance with his pleasure and will— to the praise of his glorious grace, which he has freely given us in the One he loves. (emphasis added)

Ephesians 1:11-12
In him we were also chosen, having been predestined according to the plan of him who works out everything in conformity with the purpose of his will, in order that we, who were the first to hope in Christ, might be for the praise of his glory. (emphasis added)

Published in: on January 4, 2009 at 12:32 pm  Comments (2)